Rabu, 19 Maret 2025

SUAMI DENGAN TIGA CINTA

1904 Nest, demikian panggilan EFE Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije dan memperoleh 5 anak, dua diantaranya laki-laki meninggal saat kecil. Dimata Clara, Nest memang menawan, disamping gagasannya yang menarik.

Pernikahan mereka berakhir pada 1915 karena alasan ekonomi. Pengadilan memutuskan ketiga putrinya mengikuti Sang ibu.


Nest lalu mengenal Johanna Petronella Mossel, sekretaris dan bendahara Ksatrian Institut dimana dia adalah ketua Yayasan. Seperti istri pertamanya,  Johanna terpikat oleh Nest dengan ketampanan dan mata tajamnya. "Tapi, kalau berbicara, nah,... inilah susahnya, benar-benar menarik perhatian setiap orang" tutur Johanna. Perbedaan usia keduanya yang jauh, membuat orangtua Johanna sempat menentangnya. Namun keduanya nekad, pada 22 September 1926 dengan disaksikan adik Douwes Dekker dan Suwardi Suryaningrat mereka menikah di Bandung.

Manisnya madu rumah tangga tiba-tiba terputus. Pada awal 1941, Setiabudi ditangkap Belanda dan ditahan di Ngawi, Jawa Timur. Pada awal 1942, dia diasingkan ke Suriname. Uniknya, Douwes Dekker berpesan supaya istrinya menikah dengan pengikutnya, Djafar Kartodiredjo. Setahun kemudian pesan suaminya dilaksanakan Johanna demi keselamatannya.


Akhir 1946, sampai di Belanda usai pembuangan di Suriname, DD, panggilan Douwes Dekker menderita sakit dan dirawat di gedung perkumpulan Perhimpunan Indonesia di Amsterdam. Disini dia mengenal Nelly Alberta Kruymel yang setia merawatnya. Rupanya janda beranak satu tersebut mempunyai darah Indonesia. "Kau bukan Belanda, hatimu hati Indonesia" demikian DD membujuk Nelly.

Dengan kapal "Weltevreden" akhirnya putri administrator perkebunan tembakau di Binjai itu kembali ke negara ibunya bersama DD. Pada 8 Maret 1947 mereka menikah di Masjid Agung Yogyakarta.

Nelly kemudian mengganti namanya menjadi Harumi Wanasita dan anak dari suami pertamanya diubah namanya menjadi Koesworo Setiabudi

Tiga bulan usai menikah dengan Nelly, DD menceraikan Johanna Petronella Mossel.[]


Sumber 

Buku "Douwes Dekker" Sang Inspirator Revolusi 


Keterangan foto: EFE Douwes Dekker bersama istri pertamanya Clara Charlotte Deije dengan tiga putrinya



MISTERI FOTO POLAROID SUPERSEMAR

 Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Jum'at malam, 11 Maret 1966

Sepulang dari Istana Bogor menghadap presiden Sukarno, tiga jenderal, yaitu Brigadir Jenderal Muhammad Yusuf, Mayor Jenderal Basuki Rachmat, dan Brigadir Jenderal Amir Machmud menuju Makostrad di Jl.Merdeka Timur, Gambir. Pangkostrad Mayor Jenderal Soeharto lalu mengadakan rapat bersama tokoh-tokoh politik.

Ditengah rapat, letkol Ali Moertopo menyorongkan dua lembar surat kepada orang kepercayaannya, Mayor Aloysius Sugiyanto "Tolong, cepat gandakan" perintahnya "Segera kembali"

Dengan dikawal polisi militer, Sugiyanto berkeliling Jakarta menggunakan jip, mencari studio foto yang masih buka. Tapi karena hari sudah larut dan diberlakukan jam malam, ia mengalami kesulitan 

Akhirnya Perwira intelijen Kostrad itu pun memutuskan menggedor rumah Jerry Albert Sumendap, pengusaha asal Manado, Sulawesi Utara, di Jalan Lombok, Menteng, Jakarta Pusat.

Jerry, yang dikenal Sugiyanto bisa diandalkan dalam situasi darurat dan sering ke luar negeri, punya banyak peralatan canggih pada masa itu.

Sampai di rumah Jerry, yang kebetulan sedang ada, Sugiyanto menempelkan dua lembar surat ke dinding dan membuat fotonya menggunakan kamera Polaroid, karena pesannya harus segera kembali ke Makostrad. Dari lima foto yang dibuat, hanya tiga yang hasilnya memuaskan. Sugiyanto lalu memasukkan surat asli dan fotonya ke dalam satu map.

Di ruang rapat Kostrad, Sugiyanto mengantarkan map itu ke Brigadir Jenderal Soetjipto, Ketua G-V Koti atau Komando Operasi Tertinggi. Di ruang rapat itu masih ada Soeharto yang mengenakan pakaian loreng dan syal kuning pada lehernya dan suaranya serak, Sugiyanto melapor ke Ali Moertopo. Hanya sampai disitu perjalanan surat tersebut sepengetahuan Sugiyanto.


Berpuluh tahun kemudian, Sugiyanto baru tahu pada malam itu Soetjipto menelepon Letkol Sudharmono. la minta disiapkan rancangan surat keputusan pembubaran PKI. Sudharmono memerintahkan Letnan Satu Moerdiono membuat konsep surat itu.

Moerdiono juga menuturkan sempat memegang Supersemar asli yang diyakini terdiri atas dua lembar hanya satu jam. Dokumen itu dibawa pergi Boediono, ajudan Soetjipto, untuk dijadikan dasar konsep dan dikembalikan ke Makostrad.[]


Sumber:

1.Buku "Rahasia-rahasia Ali Moertopo"

2.https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20190311/Ada-di-Mana-Surat-Perintah-13-Maret/

3.https://www.kompas.com/stori/image/2022/03/11/090011979/3-versi-supersemar-dan-perbedaannya?page=1







KISAH CINTA SEKRETARIS DAN BOSSNYA

Saat dilantik menjadi Perdana Menteri pada 14 November 1945, Sutan Sjahrir mengangkat dua sekretaris, satu untuk menangani pribadi yang berkantor di rumahnya  jl.Jawa Menteng.

Untuk sekretaris yang bekerja di kantor, dia minta rekomendasi kepada Soedjatmoko, sahabatnya yang akhirnya membawa sang kakak, Poppy.

Terlahir dengan nama Siti Wahjunah Saleh, Poppy seorang 'candidate jurist' dari Rechtschool atau sekolah tinggi hukum di Batavia.

Poppy yang merupakan sekretaris baru menarik sang Perdana Menteri. Bila melintas, Sjahrir sering menggoda dan alih-alih marah, Poppy hanya bersemburat merah pipinya. Rupanya cinta Bos dan Sekretaris itu tidak bertepuk sebelah tangan, karena Poppy sendiri mengagumi Sjahrir.

Usai perjanjian Linggarjati, Sjahrir mengajak Poppy hadir pada pesta yang diadakan gubernur jenderal HJ. Van Mook yang menampilkan konser musik dari negeri Belanda.

Akhir 1949 Poppy mendaftar ke Universitas Leiden dan setahun berikutnya meraih gelar meester in de rechten. Setelah itu dia kuliah di London School of Economics di Inggris.

Selama studi itu ia berpisah dengan Sjahrir. Masa menjaga jarak ini berakhir dengan menikahnya mereka di Kairo Mesir dengan penghulu Syekh Abdul Magud Selim, rektor universitas Al-Azhar. Soedjatmoko bertindak sebagai wali dari Poppy.

Sejak 18 Januari 1962 Sjahrir menjalani kehidupan dipenjara, mulai dari Madiun, RSPAD, jl.Keagungan (Jakarta utara) dan RTM Budi Utomo (Jakarta Pusat).

Atas izin Bung Karno, 21Juli 1965 Sjahrir bersama keluarganya terbang ke Zurich untuk berobat.

April 1966 kondisi Sjahrir makin menurun, sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit. Setelah mengalami koma selama tujuh hari, pada 17 April 1966 Sutan Sjahrir berpulang.

Setelah Sjahrir meninggal, Poppy masih menyempatkan untuk membuat cetakan wajah Sjahrir yang selalu disimpan dalam sebuah kotak perhiasan. Cetakan wajah itu selalu dilihat Poppy dari waktu ke waktu sambil menangis.

Dan Poppy tidak pernah lagi memakai perhiasan dan perias muka sampai akhir hayatnya.

Saat meninggal, Poppy juga dimakamkan di TMP  Kalibata meski tak berdampingan dengan almarhum suaminya. Pemerintah juga menganugerahkan Bintang Mahaputra kepada Poppy Sjahrir.[]


Dari buku

SUTAN SJAHRIR

Pemikiran dan kiprah Sang Pejuang Bangsa



Senin, 17 Februari 2025

PRAM DAN NOBEL


( Seabad Pramoedya Ananta Toer )

Lahir di Blora pada 6 Februari 1925, Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang penulis Indonesia satu-satunya yang pernah diusulkan untuk mendapat Nobel Sastra. Novel-novel Tetralogi atau Kwarternarius Buru yang ditulisnya di Pulau buru, mengantarkannya masuk nominasi tersebut. Tetralogi Buru terdiri dari empat buah novel yaitu Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1981), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988).


Pram, sapaan akrab Pramoedya, menerbitkan 4 novel tersebut secara bertahap pada 1980-1988. Namun penerbitan tidak berjalan mulus karena larangan dari Kejaksaan Agung karena novel itu dianggap mengandung pesan Marxisme-Leninisme. Sebelum diterbitkan, cerita tersebut terlebih dahulu disingkapkan secara lisan pada rekan-rekannya selama berada di tahanan saat diasingkan di Pulau Buru pada 1965-1979. Tokoh utama dari kuartet Buru adalah Minke yang merupakan personifikasi dari RM.Tirto Adhi Soerjo, seorang tokoh pers Nasional.

Dengan alat yang terbatas ia mulai menceritakan jilid pertamanya yaitu Bumi Manusia kepada para tahanan. Dan 2 tahun kemudian baru ia dapat melanjutkan menulis ketika beberapa tahanan memberikan mesin tik tua kepadanya.

Sebenarnya Pram mendapat hadiah mesin ketik baru dari Jean Paul Sartre, tapi yang sampai ke tangannya adalah mesin ketik bobrok tersebut.

Dalam berkarya, Pram sendiri menaruh harapan untuk Nobel. Pram sempat bergurau pada adiknya, Koesalah Soebagyo Toer mengenai bahwa ia akan mendapatkan Nobel di tahun 2004. Kejadian tersebut diceritakaan Koesalah dalam buku Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali: Catatan Pribadi Koesalah Soebagyo Toer.


Tahun berikutnya, 2005 Pram juga disebut-sebut kembali masuk kandidat penerima Nobel Sastra. Namun ternyata penghargaan tersebut gagal lagi didgenggamnya. Sejumlah isu pun muncul menanggapi kegagalan Pram. Diantaranya adalah penerjemahan karya Pram ke bahasa Inggris yang buruk. Sehingga kesustraannya berkurang.


Meski demikian, karya Pram abadi sampai saat ini. Buku-buku kini dibanderol ratusan ribu rupiah per eksemplar di tangan pedagang buku bekas.

Tetralogi Buru bahkan memiliki nama internasional, The Buru Quartet. 

Bulan September 1981, penerjemah Bumi Manusia ke dalam bahasa Inggris, Maxwell Lane, yang juga staf kedutaan besar Australia di Jakarta, dipulangkan oleh pemerintahnya. Perusahaan Ampat Lima yang mencetak kedua karya pertama juga akhirnya mundur karena tekanan dari Kejaksaan dan aparat keamanan.


Adapun sepanjang hidupnya, Pram telah membuat lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam 41 bahasa asing. 


Sumber:

1.http://www.pikiran-rakyat.com/hidup-gaya/2017/02/06/pramoedya-ananta-toer-pernah-diusulkan-terima-nobel-sastra-392679

2.https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pramoedya_Ananta_Toer

3.https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bumi_Manusia_(novel)

4.https://historia.id/kultur/articles/ketika-sartre-mengirim-mesin-tik-untuk-pram-vV9Xd

Edisi Menyambut Hari Raya Imlek 2576

 YAP THIAM HIEN, NAMAKU, IDENTITASKU 


"Dalam bahaya, iguana bisa berubah warna, tetapi manusia tidak bisa. Orang pintar menjauhi bahaya dengan cara mengganti aliansi, kesetiaannya, atau nama Cinanya," tulis Yap dalam "Sinar Harapan" 25 Januari 1967 menyoroti motivasi penggantian nama ditengah tekanan anticina.

Yap Thiam Hien menganggap kegairahan mengganti nama disebabkan oleh oportunisme kepentingan keselamatan sendiri.

Dia menulis tentang kerepotan prosedur mengganti nama. Tulisan itu ditujukan bagi mereka yang masih sibuk mencari nama "Indonesia", terutama kaum peranakan yang miskin.

Dalam tulisan tersebut, meski Keputusan Presidium sesungguhnya hanya imbauan, tapi cukup merepotkan. Jika memang mau mengganti nama, seseorang perlu mendapat sebuah dokumen penggantian nama. Tapi, dari satu dokumen tersebut, setidaknya ada 13 dokumen yang perlu diganti namanya. Dan, setidaknya ada 11 jenis pembiayaan yang bisa membengkak dengan panjangnya birokrasi yang harus ditempuh pada masa itu.

Yap Thiam Hien tetap mempertahankan kepribadiannya yang kuat, tapi nasionalismenya luar biasa, tidak takut dibilang Cina, Kristen.

Yap memang tidak pernah secara langsung mempengaruhi orang untuk tidak ganti nama. Dia hanya menekankan nama itu hanya di luar, yang penting sikap dan kontribusinya ke Indonesia.[]


Sumber:

1.Buku "Yap Thiam Hien" Sang Pendekar Keadilan 

2.https://www.kompas.id/baca/arsip/2019/08/28/ganti-nama-tak-pengaruhi-karakter


Keterangan foto: Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia Yap Thiam Hien



Selasa, 01 Oktober 2024

NAKHODA PHINISI ANAK TAPOL

Tahun 1968, Gita Arjakusuma dilantik sebagai perwira oleh Presiden Soeharto bersamaan dengan Widodo AS dan Wiranto. Hadir saat wisuda itu ayahnya, Suaeb Arjakusuma yang berseragam lengkap Letkol Angkatan udara.

Kemudian Gita bertugas di kapal tempur, sementara sang Ayah mengikuti Seskoau dan menjadi lulusan terbaik. Tahun 1969, di Surabaya Gita menerima telpon dari sang Ibu yang mengabarkan Ayahnya sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah karena dimintai keterangan Oditur Jenderal hukum TNI AU. Belakangan diketahui ayahnya berada dalam tahanan Angkatan udara di Jakarta dengan kesalahan, pada 2 Oktober 1965 mengantarkan Waperdam Soebandrio dari Medan ke Jakarta. Dari sinilah ayahnya ditahan tanpa proses pengadilan selama 9,5 tahun. Dengan penahanan itu, ibunya tidak menerima gaji lagi dan menghidupi keluarganya dengan berjualan kue dan menerima pesanan catering. 


Gita pun turun tangan dengan menyisihkan sebagian gajinya untuk biaya sekolah kedelapan adiknya sampai sarjana. Tiga orang lulus fakultas kedokteran, bahkan menjadi dokter spesialis, dua sarjana ekonomi, dua insinyur ITB dan seorang sarjana hukum. Meski mendapat surat tidak terlibat G30S dan clearance dari Laksamana Sudomo, sebagai anak dari perwira yang dituduh terlibat G30S, karir Gita di Angkatan Laut terancam kandas. Setelah berkonsultasi dengan Profesor Mochtar Kusumaatmadja yang masih terhitung pamannya dari pihak Ibu, dia mengundurkan diri dari Angkatan Laut dengan pangkat Kapten. 

Gita kemudian bekerja di Perusahaan Pelayaran Andika Lines setelah mendapat ijazah Mualim Pelayaran Besar (MPB). Tahun 1986 saat berlangsung Vancouver Expo di Kanada, Indonesia memamerkan kapal Phinisi yang dibuat di Makassar. Atas saran Ayahnya, Gita mengajukan tawaran untuk menakhodai pelayaran kembali ke Kanada dengan Phinisi Nusantara kepada Laksamana Sudomo sebagai penanggungjawab Ekspedisi. Setelah melakukan pelayaran selama 68 hari dan menempuh jarak 11.000 mil, sampailah Kapal Phinisi Nusantara ke Kanada. 

Presiden Suharto menelepon menyampaikan ucapan selamat kepada awak kapal, terutama kepada Nakhodanya. Bahkan bersama awak kapal, Gita diterima di Istana Presiden. Bukan hanya sekali, tetapi tiga kali setelah itu Gita sempat disalami Presiden Soeharto sebagai Pelaut Teladan tahun 1992 dan seterusnya. 

Apakah Soeharto mengetahui bahwa lelaki yang disalaminya itu adalah Kapten Angkatan Laut yang terpaksa berhenti karena ayahnya ditahan selama 9,5 tahun hanya gara-gara menerbangkan Soebandrio dari Medan ke Jakarta pada 2 Oktober 1965? []


Dari buku 

MELAWAN LUPA, MENEPIS STIGMA Setelah Prahara 1965


Keterangan foto: Presiden berfoto bersama dengan para pelaut yang membawa Phinisi Nusantara ke Kanada




Rabu, 01 Mei 2024

JUMENENGAN SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX

Mulai dari Alun-alun Kidul (Selatan) sampai ke Alun-alun Lor (Utara) tampak pemandangan yang indah dan meriah pada pagi hari 18 Maret 1940 itu. 

Semua telah siap menyambut penobatan Raja yang baru. Di Bangsal Kencana para tamu dalam pakaian kebesaran masing-masing mulai memenuhi ruangan. 

Kira-kira jam 10.30 Gubernur Belanda Dr Lucien Adam memasuki Regol Danapertapa  dalam pakaian resminya, disambut oleh GRM Dorodjatun yang juga mengenakan pakaian kebesaran.


Mereka sejenak berada di Bangsal Kencana di mana diperdengarkan lagu kebangsaan Belanda "Wilhelmus". Sesudah itu, dengan Dorodjatun di sebelah kiri Gubernur dan didahului oleh prosesi alat upacara Kesultanan, mereka menuju ke Siti Hinggil dan naik ke Bangsal Manguntur Tangkil Gubernur langsung duduk di kursi kehormatan, sementara Dorodjatun duduk di deret paling depan dalam kelompok para pangeran karena saat itu statusnya pun belum lagi sebagai putra mahkota.

Pada hari bersejarah itu Gubernur Adam atas nama pemerintah Hindia Belanda melakukan dua kali penobatan sekaligus, yaitu mengangkat GRM Dorodjatun sebagai putra Mahkota, dilanjutkan penobatan putra Mahkota sebagai Sultan Yogyakarta dengan gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah Kaping-IX.


Setelah kata-kata penetapan Gubernur diucapkan dan lagu "Monggang" memenuhi ruangan yang sedang diliputi suasana khidmat, salvo senapan pun terdengar memecah keheningan dan dentuman meriam menggelegar tiga belas kali.


Resmilah Dorodjatun menjadi Sultan Hamengku Buwono IX. Ia lalu dipersilakan duduk di atas singgasana Kesultanan yang berada di sebelah kanan kursi Gubernur Adam, menghadap ke arah utara. Demikian pula saat keduanya meninggalkan Siti Hinggil usai penobatan Sultan baru berjalan disebelah kanan Gubernur Adam


Ada hal lain yang mengesankan semua yang hadir pada umumnya, mengejutkan para pejabat Belanda pada khususnya. Raja muda yang baru dinobatkan itu mengucapkan pidato yang nadanya progresif dalam bahasa Belanda yang fasih dan diakhiri dengan kata-kata:

"π‘Ίπ’†π’‘π’†π’π’–π’‰π’π’šπ’‚ π’”π’‚π’šπ’‚ π’Žπ’†π’π’šπ’‚π’…π’‚π’“π’Š π’ƒπ’‚π’‰π’˜π’‚ π’•π’–π’ˆπ’‚π’” π’šπ’‚π’π’ˆ 𝒂𝒅𝒂 π’…π’Š π’‘π’–π’π’…π’‚π’Œ π’”π’‚π’šπ’‚ 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 π’”π’–π’π’Šπ’• 𝒅𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒂𝒕, π’•π’†π’“π’π’†π’ƒπ’Šπ’‰-π’π’†π’ƒπ’Šπ’‰ π’Œπ’‚π’“π’†π’π’‚ π’Šπ’π’Š π’Žπ’†π’π’šπ’‚π’π’ˆπ’Œπ’–π’• π’Žπ’†π’Žπ’‘π’†π’“π’•π’†π’Žπ’–π’Œπ’‚π’ π’‹π’Šπ’˜π’‚ 𝑩𝒂𝒓𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒏 π‘»π’Šπ’Žπ’–π’“ π’‚π’ˆπ’‚π’“ 𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕 π’ƒπ’†π’Œπ’†π’“π’‹π’‚ π’”π’‚π’Žπ’‚ π’…π’‚π’π’‚π’Ž 𝒔𝒖𝒂𝒔𝒂𝒏𝒂 π’‰π’‚π’“π’Žπ’π’π’Šπ’”, 𝒕𝒂𝒏𝒑𝒂 π’šπ’‚π’π’ˆ π‘»π’Šπ’Žπ’–π’“ 𝒉𝒂𝒓𝒖𝒔 π’Œπ’†π’‰π’Šπ’π’‚π’π’ˆπ’‚π’ π’Œπ’†π’‘π’“π’Šπ’ƒπ’‚π’…π’Šπ’‚π’π’π’šπ’‚. 𝑾𝒂𝒍𝒂𝒖𝒑𝒖𝒏 π’”π’‚π’šπ’‚ 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 π’Žπ’†π’π’ˆπ’†π’π’šπ’‚π’Ž π’‘π’†π’π’…π’Šπ’…π’Šπ’Œπ’‚π’ 𝑩𝒂𝒓𝒂𝒕 π’šπ’‚π’π’ˆ π’”π’†π’ƒπ’†π’π’‚π’“π’π’šπ’‚, π’π’‚π’Žπ’–π’ π’‘π’†π’“π’•π’‚π’Žπ’‚-π’•π’‚π’Žπ’‚ π’”π’‚π’šπ’‚ 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 π’π’“π’‚π’π’ˆ π‘±π’‚π’˜π’‚"[]


Sumber

1. Buku " Tahta Untuk Rakyat"

 2.https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/03/18/sejarah-hari-ini-18-maret-1940-penobatan-sri-sultan-hamengkubuwana-ix


Keterangan foto: Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersama Gubernur Lucien Adam usai penobatan



JEBAKAN SUBVERSIF

12 September 1984 meletus "Peristiwa Tanjungpriok". Beberapa pers asing menyebut itu sebuah Massacre (pembantaian) yang oleh keterangan resmi pemerintah menelan korban 'hanya' 33 orang.

Sebuah "Lembaran Putih" muncul dalam waktu kurang dari seminggu, ditandatangani oleh dua puluh dua tokoh, termasuk Letjend (purn) HR Dharsono, Letjend Ali Sadikin serta mantan Perdana Menteri Burhanuddin Harahap dan Sjafruddin Prawiranegara. 

Diantaranya mereka membahas tatanan kehidupan nasional yang salah dan menindas, diantaranya Peristiwa Tanjungpriok.

Pada 'Lembaran Putih' itu disampaikan kronologis peristiwa yang sebenarnya banyak memakan korban.

Laporan itu ditutup dengan:

"Demi keadilan bagi semua pihak, termasuk pemerintah sendiri, sebaiknya dibentuk suatu komisi yang bebas (independen) untuk mengumpulkan keterangan yang jujur mengenai kejadian September 1984 di Tanjungpriok. Laporan Komisi itu harus diumumkan kepada khalayak ramai, supaya kita semuanya dapat menarik pelajaran daripadanya."


Sekitar pukul 15.00 tanggal 8 November 1984, di suatu tempat di Asam Lama H.R. Dharsono didatangi beberapa aparat Laksusda Jaya. Mereka mengatakam Pak Ton (HR Dharsono) diundang untuk bertemu dengan Panglima Kodam V/Jaya Mayor Jenderal Try Sutrisno. Ternyata H.R. Dharsono bukannya dibawa ke Markas Kodam Jaya untuk bertemu Try Sutrisno, melainkan ke Markas Satgas Intel Laksusda V/Jaya di Jalan Kramat V Jakarta. Rupanya itu sebenarnya adalah suatu proses penangkapan.

Tentu saja, tanpa surat perintah penangkapan. H.R. Dharsono memprotes, tetapi tidak diindahkan. Dari Kramat V, H.R. Dharsono dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer Pomdam V Jalan Guntur Jakarta Selatan. Maka terhitung mulai malam 9 Nopember 1984 HR Dharsono berstatus sebagai tahanan Kejaksaan.

Hakim akhirnya memvonis 10 tahun penjara untuk mantan Pangdam Siliwangi itu yang setelah mengajukan banding menjadi 7 tahun dan setelah menjalani 5 tahun masa tahanannya pada 16 September 1990.[]



Sumber:

1.Buku "Kisah Seorang Jenderal Idealis HR Dharsono"

2.https://dedipanigoro.blogspot.com/2008/09/mengenang-ayah-ton.html?m=1



KESAKSIAN DOKTER MILITER PAVEL DURDIK PADA PERANG ACEH

Pada Perang Aceh (1873-1914)  korban tewas di pihak Belanda mencapai 37.500 serdadu -- sepuluh kali lipat dari korban Perang Kemerdekaan 1945-1949. Hingga tahun 1914, korban cacat mencapai 500.000 orang di pihak Belanda dan Aceh. Sepanjang tahun 1882-1893, 51 serdadu Belanda dan 28 serdadu Bumiputra membelot ke kubu Aceh.

Dokter Pavel Durdik, seorang dokter militer KNIL menuliskan pengalamannya selama bertugas di Aceh 1877-1883:

"Pada penugasan di Aceh, Juni 1878, delapan orang Aceh menyerang rumah sakit penjara di Pante Perak selama dua hingga tiga menit ke dalam bangsal perawatan menghajar 35 pasien. Sebanyak 8 pasien yang dianiaya tewas keesokan harinya dan 9 orang lainnya dua hari kemudian akibat luka parah. Sedangkan lima orang pasien lain harus diamputasi ... potongan daging terkelupas menjulur di punggung perawat Tionghoa yang bertugas di bangsal ... betul-betul pemandangan yang mengerikan".

Terhadap buruknya manuver serdadu KNIL Durdik mengisahkan:

"Orang Belanda kesulitan berperang dalam medan yang gelap dan tidak ada jalan raya. Oleh pemandu yang membawanya mereka justru dijebak dengan mengantarkan mereka ke pertahanan orang Aceh sehingga dengan mudah mereka diserang"

Pavel Durdik melukiskan beratnya medan pertempuran di Aceh ketika pasukan bergerak di rimba-belantara: " ... setiap serdadu menjunjung senapan di atas kepala seraya bergerak perlahan di kubangan lumpur, kelelahan, basah dan tibatiba di tengah hutan terdengar teriakan orang Aceh memaki mereka dan menantang bertempur ... Anjing putih mau apa di negeri kami. Siapa yang memintamu datang kemari. Kalian akan mati di sini". Biasanya serdadu Belanda akan balas memaki "Smeerlap" (bedebah sombong).


Sumbersari:

1.Buku: "KNIL" Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Prancis

2.https://www.researchgate.net/figure/Dr-Pavel-Durdik-photograph-at-Gle-Kambing-Kozinka-Aceh-June-13-1879-Archive_fig1_379542227

Keterangan foto: dokter militer Pavel Durdik 




PROYEK Z

Jepang ingin mengulang kembali sukses menyerang Pearl Harbor. Untuk itu mereka memerlukan pesawat pengebom jarak jauh. Sebagai seorang insinyur angkatan laut, pendiri perusahaan Chikuhei Nakajima mengambil tanggung jawab secara personal, dan dengan senang hati melibatkan diri dalam kesulitan-kesulitan.

Menurut perhitungannya, pesawat pengebom itu harus besar sehingga diperlukan 6 mesin. Daya jangkaunya paling tidak 8.450 km dengan kemampuan angkut 22.450 bom dan mampu terbang pada ketinggian 11.580 meter diluar jangkauan senjata anti pesawat.

Pada presentasinya, Nakajima mengatakan pesawat pengebom Z (atau Proyek Z) ini sebagai senjata rahasia untuk mengalahkan Amerika serikat.

Saat ditanyakan mengenai mudahnya diserang senjata anti pesawat saat turun dari ketinggian, Nakajima menjelaskan Pengebom Z akan mampu mengatasi dengan menyerang lebih dulu sebelum menjatuhkan bom, dengan menggunakan senapan mesin pada sayapnya.

Senapan ini sebanyak 400 buah dalam lajur yang tersusun dari kaliber 250mm disetiap sisinya.

Dengan senapan itu, jelas Nakajima, paling tidak satu peluru akan dapat mengenai satu orang diatas geladak kapal pengangkut musuh atau bahkan senapan anti pesawat musuh.

Dengan formasi 15 pesawat Z, daerah selebar 45 meter dan panjang 10 km akan dihujani dengan peluru, dapat mengenai paling tidak 20 sampai 40 kapal musuh.

Kita berbicara dengan jelas tentang "peluru yang datang bertubi-tubi", tetapi angkatan laut musuh tampaknya akan menemukan tepatnya ini akan seperti apa.

Pada akhirnya, bersama dengan berjalannya waktu, kecenderungan perang berubah dan kenyataan yang tidak terlalu baik terjadi di daerah pendudukan militer Jepang.

Proyek Z semakin terlihat sebagai sebuah fantasi kebodohan Nakajima


Dari buku

WORLD WAR II PLANS

THAT NEVER HAPPENED

Operasi-operasi PD ll yang tak terwujud 1939 - 1945



MENOLAK JABATAN

Yogyakarta 1971,

Hari itu rumah pak AR (Abdur Rozak Fachrudin, Ketua  PP Muhammadiyah) kedatangan tapi Walikota Yogyakarta Sujono A.J bersama asistennya.

Kedatangan orang nomor satu di rumah sederhana yang terletak di Jl. Cik Ditiro 19A itu tentu saja membuat tuan rumah merasa terhormat.

Setelah saling bertukar kabar, Walikota itu manyampaikan maksudnya

"Mohon maaf, Pak A.R ., " kata Wali Kota, "Kedatangan kami ke sini, selain silaturahim dan menadah berkah dari Pak A.R ., juga membawa pesan penting dari Pemerintah Pusat."

Belum hilang keterkejutan pak AR, Sujono A.J. sudah melanjutkan,

"Bapak Presiden meminta kesediaan Pak A.R. untuk menjadi anggota DPR di tingkat pusat."

A.R. menanggapinya hanya dengan senyum. "Wah, wah ... Mimpi apa saya semalam sehingga mendapat anugerah agung seperti ini," kata A.R. setengah bercanda.


Setelah diam beberapa saat pak AR berkata "Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih atas kepercayaan Bapak Wali Kota dan Bapak Presiden kepada saya,"

"Tolong, sampaikan terima kasih saya ini kepada Pemerintah. Terima kasih banyak atas maksud baiknya yang hendak memberi saya kehormatan menjadi anggota DPR. Namun, karena saat ini saya baru saja diberi amanah jadi Ketua Umum

PP Muhammadiyah, maka sampaikan permintaan maaf saya kepada Pemerintah, bahwa saya lebih baik tidak usah menjadi anggota DPR. Saya mohon izin untuk menunaikan amanah warga Muhammadiyah. Izinkan saya memimpin persyarikatan hingga masa bakti saya selesai."

Wali Kota memahami posisi pak A.R. Dia menerima keputusan itu danberjanji segera melaporkannya ke Pemerintah Pusat.

Sebulan kemudian, Sujono A.J datang lagi ke rumah pak AR. Seperti kedatangan sebelumnya, kali ini pesan yang dibawa dari Pemerintah Pusat adalah tawaran kepada pak A.R.sebagai anggota MPR. Wali Kota Sujono juga menjelaskan kepada pak AR. bahwa menjadi anggota MPR tidak sesibuk anggota DPR, karena jarang sidang. Dengan alasan itu, Wali Kota ingin agar kali itu A.R. bersedia menerimanya.

"Saya dan warga Yogyakarta tentu akan merasa sangat bergembira jika Pak A.R. bersedia menerima tawaran ini," kata Sujono sembari menatap wajah pak A.R. penuh takzim.


Seperti biasa, pak A.R. hanya tersenyum. "Saya mengucapkan terima kasih karena untuk kedua kalinya Pemerintah memberi kepercayaan kepada saya untuk menjadi anggota dewan. Tapi, mohon maaf, Pak Wali Kota. Jawaban saya masih sama seperti yang dulu. Saya masih ingin fokus memimpin Muhammadiyah."


Sujono pulang dengan tangan hampa lagi. Pak A.R. tetap pada pendiriannya. Dia menolak dengan halus jabatan anggota MPR yang ditawarkan Pemerintah.


Sejak menolak dua jabatan itu, Pak AR tidak pernah lagi ditawari jabatan di pemerintahan.


Tahun 1988, Pak AR tidak  bisa menolak saat  ditawari menjadi anggota DPA. Untuk menjawabnya diserahkan kepada sidang pleno PP Muhammadiyah.

Akhirnya, sidang pleno PP Muhammadiyah memutuskan agar Pak AR menerima tawaran itu. 

Karena pak AR menjadi anggota DPA, maka beliau mendapat  dan jatah mobil dinas dari negara. Mobil itu memang diterima pak A.R tetapi tidak untuk dipakainya. Kendaraan roda empat itu justru diserahkannya kepada Muhammadiyah. Pak A.R. melakukan itu karena merasa bahwa dirinya diangkat menjadi anggota DPA karena dia dianggap sebagai tokoh Muhammadiyah-bukan karena pribadinya. Jika tidak karena dia seorang tokoh Muhammadiyah, besar kemungkinan dia tidak akan ditunjuk menjadi anggota DPA. Oleh karenanya, dia merasa mobil itu harus diserahkan kepada Muhammadiyah, yang dinilainya paling berhak untuk memanfaatkannya. []


Sumber:

1.Buku "Pak AR & Jejak-jejak Bijaknya"

2.https://ibtimes.id/kisah-pak-ar-berkali-kali-menolak-jabatan/


Keterangan foto: Abdul Rozak Fachrudin (Pak AR)



NGEMAN PAK HARTO

Ngeman adalah bahasa Jawa yang menggambarkan perasaan simpati terhadap orang lain, yang tidak rela orang tersebut mengalami musibah, menderita atau tersakiti.

Hal itulah yang dirasakan Ali Moertopo dan rekannya Yoga Sugomo tehadap Pak Harto.

Dalam rangka ngeman tersebut, mereka menilai masa jabatan Pak Harto sebagai Presiden RI akan mencapai 16 tahun pada 1983. Ini masa jabatan yang cukup lama, sebuah masa jabatan yang luar biasa dan sangat membanggakan, tetapi juga bisa menimbulkan berbagai ekses buruk, antara lain perasaan jenuh. Dalam kaitan kekuasaan, bisa pula menimbulkan perasaan dan sikap keakuan yang berlebihan.


Memahami hal tersebut mereka berdua mencoba mengingatkan Pak Harto dengan "Cara Jawa", yaitu memangku Pak Harto agar cukup merasa puas untuk menjadi tokoh senior dan bapak bangsa yang dimuliakan, yaitu dengan pemberian gelar "Bapak Pembangunan" sebagai puncak prestasi pengabdian sekaligus penghargaan rakyat. Diinginkan agar selanjutnya Pak Harto berkenan lengser dan tidak lagi mencalonkan kembali menjadi presiden para periode berikutnya (tahun 1983-1988). Jika nanti timbul pertanyaan dari Pak Harto, siapakah yang harus menggantikannya? Yoga menyatakan, "Sebaiknya generasi peralihan dari Angkatan 45. Siapa saja yang pak Harto pilih, maka saya akan mendukung dan menyukseskannya."


Sayang, rencana yang telah disusun itu tidak sesuai dengan harapan. Gelar "Bapak Pembangunan" tetap diterima, tapi Pak Harto tetap maju kembali pada Pemilihan Presiden 1983-1988.

Kekecewaan Ali Moertopo, disampaikan kepada Yoga, namun Yoga mengingatkan untuk tidak bertindak lebih jauh sebab bisa disalahartikan mereka punya ambisi untuk meraih jabatan yang lebih tinggi.


Gagal mengingatkan Pak Harto dengan "cara jawa" Yoga mencoba lagi dengan cara terbuka

Dalam suatu pertemuan rutin mingguan di bulan Mei 1985, Yoga menyampaikan pandangannya kepada Pak Harto, antara lain:

1.Pak Harto sudah akan mencapai usia 67 pada Pemilihan Umum tahun 1988 dan secara realita sudah menjadi Kepala Negara selama 22 tahun. Dikhawatirkan akan sampai pada tahap jenuh dan lelah.


2.Periode kepemimpinan 1983-1988 menurut Yoga adalah periode puncak keemasan kepemimpinan Pak Harto. Sesudah itu dikhawatirkan akan mulai melemah.


3.Bisnis keluarga dan putra-putranya yang terus membesar bisa menjadi sumber kecemburuan sosial dan sasaran tembak.


4.Sumber dan jaringan informasi serta rekrutmen Pak Harto secara alamiah semakin menyempit disebabkan kesenjangan generasi.


Berdasarkan analisis tersebut, dalam pertemuan tadi Yoga Sugomo menyarankan agar pak Harto dengan jiwa besar, legowo lengser keprabon dan tidak maju lagi dalam masa jabatan berikutnya pada tahun 1988. Pak Harto dimohon mempersiapkan kader peralihan generasi 45. Siapa pun kader yang ditunjuk, Yoga Sugomo menyatakan akan mengamankan dan mendukungnya.


Saran Yoga tersebut tidak ditanggapi oleh Pak Harto. Juga ditolak oleh Sudharmono dan Benny Moerdani yang hadir dalam pertemuan. Terjadi perdebatan yang cukup menegangkan, sementara Pak Harto terlihat lebih banyak diam dan tidak mengambil sikap. Ibu Tien Soeharto yang diam-diam mengamati, kemudian melintas di ruang pertemuan tersebut, seraya memberi isyarat cenderung mendukung usul Yoga.


Peristiwa malam itu sangat menyakitkan hati Yoga. Ia kesal dan prihatin atas sikap Pak Harto dan kedua sejawatnya. la bahkan memutuskan tidak akan menghadap Pak Harto lagi, jika tidak dipanggil. 

Semenjak itu pula, pertemuan rutin Jum'at malam di jalan Cendana sejak 1974 terhenti. Pertemuan itu biasanya digunakan Presiden dan pembantu terdekat untuk mengevaluasi keadaan, mengolah informasi-informasi penting serta membuat perkiraan keadaan ke depan berikut langkah-langkah untuk mengantisipasinya.

Maka berakhirlah kerja sama 'sedulur sinorowedi' (saudara dekat)itu. Yoga pun menyesuaikan diri dengan masa-masa senjanya dengan lebih menekuni dunia tasawuf.[]


Sumber 

1.Buku "Jenderal Yoga" Loyalis di Balik Layar


2.https://www.google.com/amp/s/daerah.sindonews.com/newsread/1193663/29/kisah-jenderal-yoga-sugomo-sedulur-sinorowedi-yang-berani-minta-presiden-soeharto-tak-nyalon-di-pilpres-1988-1693894160


3.https://www.google.com/amp/s/daerah.sindonews.com/newsread/1193663/29/kisah-jenderal-yoga-sugomo-sedulur-sinorowedi-yang-berani-minta-presiden-soeharto-tak-nyalon-di-pilpres-1988-1693894160


Keterangan foto: Yoga Sugomo (tengah) bersama Sudomo dan M.Yusuf



JEJAK RADEN SALEH DI JERMAN

Di Dresden (Jerman) ,Raden Saleh tinggal di Jalan Neue Alle 134, rumah milik Mayor Friedrich Anton Serre - ajudan gubernur militer Dresden - yang punya selera seni tinggi. Mayor Serre, yang menjadi pelindung Raden Saleh selama berada di Jerman, terpikat oleh karyanya. Dia kemudian mengizinkan Saleh tinggal di istana miliknya di Maxen, kota kecil di atas bukit yang tertutup kerimbunan pepohonan, sekitar 50 kilometer dari Dresden. 

Pergaulan Raden Saleh dengan para bangsawan makin meluas berkat Serre ini. Apalagi Maxen menjadi tempat pertemuan para seniman, pelukis, penyair, dan musisi elite kala itu, seperti Ludwig Tieck, Robert dan Clara Schumann, Karl Gutzkow, pendongeng Hans Christian Andersen, dan Ottilie von Goethe, sehingga banyak bangsawan kerap mengunjungi tempat ini untuk menyaksikan karya seni mereka. Dari sini pulalah Raden Saleh berkenalan dengan Raja Sachsen Coburg dan Gotha Ernst II serta istrinya, Alexandrine. Raden Saleh kerap juga diundang ke istana dan bersantap bersama para bangsawan di Istana Coburg.

Mayor Friedrich Anton Serre juga membuat bangunan berukuran 5x5 meter yang dirancang Raden Saleh. Bangunan ini kemudian diberi nama "Blaue Moschee" atau Masjid Kubah Biru. Ada juga yang menyebutnya "Blaue Haeusel" (Rumah Biru). Bangunan ini masih ada sampai sekarang, bahkan menjadi ikon wisata kebanggaan Maxen.

Di atas Pintu masuk, terdapat inskripsi berbahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Jawa, dan tulisan berbahasa Jerman yang bermakna "Muliakan Tuhan dan Cintailah Sesama Manusia." Inskripsi ini membuktikan bahwa Raden Saleh seorang humanis. Sedangkan di puncak kubahnya ada semacam penangkal petir yang ujungnya berbentuk bulan sabit.[]


Dari buku

"Kiprah, Karya dan Misteri Kehidupan Raden Saleh: Perlawanan Simbolik Seorang Inlander"


Keterangan foto: Masjid Biru hasil rancangan Raden Saleh di Maxen, Dresden, Jerman



Senin, 29 April 2024

(π‘Ίπ’†π’π’“π’‚π’π’ˆ 𝒑𝒆𝒏𝒋𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒉 π’…π’‚π’“π’Š π‘°π’π’ˆπ’ˆπ’“π’Šπ’” π‘΄π’Šπ’„π’‰π’‚π’†π’ 𝑴𝒄 π‘΄π’Šπ’π’π’‚π’ π’…π’‚π’π’‚π’Ž 𝒑𝒆𝒓𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒂𝒃𝒂𝒅 πŸπŸ— π’Žπ’†π’π’–π’•π’–π’“π’Œπ’‚π’ π’‘π’†π’π’ˆπ’‚π’π’‚π’Žπ’‚π’π’π’šπ’‚ π’…π’Š π‘©π’‚π’π’…π’–π’π’ˆ π’…π’‚π’π’‚π’Ž π’ƒπ’–π’Œπ’–π’π’šπ’‚ "𝑨 π‘±π’π’–π’“π’π’†π’š 𝒕𝒐 𝑱𝒂𝒗𝒂")


BANDUNG 

Meninggalkan Garut yang terletak pada daerah bergunung Priangan (Preanger Regentschappen) dengan puncaknya di Leles, jalur kereta api pegunungan dengan sebutan "Tropical St. Gothard" mulai menurun sejauh 100 kaki sampai di stasiun Bandung.

Di sini kami turun dan berkendara menuju Hotel Homann, yang direkomendasikan kepada kami sebagai yang terbaik. Hotel ini terletak ditepi jalan raya lintas Jawa atau jalan raya pos. Kami lihat hotel ini cukup besar, sama besarnya dengan hotel di Surabaya, akan tetapi sangat penuh dengan pengunjung sehingga kami tidak bisa mendapatkan kamar yang berdekatan. Sebuah halaman luas memisahkan saya dengan kamar kakak saya bersama istrinya. Sang pemandu juga mendapatkan kamar yang jaraknya cukup jauh, yaitu di lantai atas. Karena hotel ini mempunyai dua lantai, dan hanya lantai pertama saja yang dibuat pada awalnya, yang kami tempati saat ini. Akses menuju lantai dua adalah tangga kayu yang berada di luar, yang mengarah ke galeri dimana kamar-kamar dibiarkan terbuka, sama persis seperti gaya vila kecil di Swiss. Hotel ini juga dilengkapi kamar mandi dengan bak mandi yang biasa kami gunakan, satu-satunya yang kami temukan di Jawa.


Kami terlambat untuk jamuan nasi (rijstaffel), akan tetapi kami disuguhi dengan makan siang yang lezat, yang kami santap di ruang makan besar, yang kami gunakan sendiri pada jam-jam itu. Makanan di Hotel Homann sangat enak, dan kami tidak merasakan roti dan mentega seenak itu sejak kami meninggalkan Hotel Luchtkuurood di Tengger. Setelah makan siang kami berkendara berkeliling kota, yang cukup penting dan cantik, dan kami menikmati udara yang lembut dan sejuk.


Sumber: 

buku "A Journey to Java". Catatan Perjalanan ke Pulau Jawa




Selasa, 26 Maret 2024

AGEN RAHASIA BERKAKI SATU

 Virginia Hall lahir di Baltimore, Maryland, 6 April 1906. Usai menamatkan SMA, Virginia melanjutkan kuliah ke kampus bergengsi, Radcliffe College dan Barnard College yang kemudian dikenal dengan nama Columbia University.

Gadis ini bercita-cita untuk menjadi duta besar wanita pertama untuk Amerika Serikat. Didukung kekuatan finansial orang tuanya, Virginia melanjutkan pendidikannya di Perancis. Ia mempelajari ilmu politik di Ecole des Science Politique, Paris, dilanjutkan ke sebuah sekolah diplomatik di Konsularakademie, Vienna, Austria. 

Mengejar cita-citanya sebagai Diplomat, saat kembali ke Amerika  tahun 1929, usai menyelesaikan kursus bahasa Prancis George Washington University, Virginia melamar kerja di Kedutaan Amerika Serikat untuk Polandia di Warsawa.

Saat ditempatkan di Turki tahun 1932, ia kehilangan kaki kirinya sehingga harus menggunakan kaki palsu dari kayu. Kecelakaan ini menyebabkan karirnya di dunia diplomatik berakhir, dan secara resmi ia mengundurkan diri pada 1939.


Juni 1940 saat Virginia di Prancis, Jerman menyerang Prancis. Virginia lalu pergi ke London melamar jadi agen rahasia ke SOE (Special Operation Executive). Dengan mudah dia diterima karena piawai berbahasa Prancis dan Jerman serta pengalamannya sebagai Diplomat.

Karena kondisi fisik Virginia yang tidak sempurna, sebelum berangkat ke Paris pada Agustus 1942, atasannya di London memberikan tugas untuk membuat hasil pengamatan untuk di lapokran ke SOE London.

Sepak terjang Virginia selama 15 bulan di Prancis sungguh fantastis. la bukan lagi seorang yang hanya "membuka mata dan telinga lebar-lebar" seperti yang diperintahkan atasannya, melainkan juga terlibat langsung dalam aksi lapangan. Segala informasi dapat diperoleh, berkat kehebatannya menyamar, menyusup ke segala area di Prancis, serta didukung kemampuannya berbahasa Jerman dan Prancis. Ia juga membantu kelancaran tugas agen-agen rahasia lain. Dalam suatu laporan, SOE menulis bahwa Virginia merupakan seorang organisator yang brilian.


Saat tugasnya usai Virginia akan meninggalkan Prancis, tapi Gestapo makin mengawasi gerak geriknya sehingga ia kesulitan untuk kembali ke London dengan aman.

Pegunungan Pyrenees merupakan satu-satunya jalur yang paling tidak dijaga ketat polisi Prancis maupun tentara Jerman. Dari sana ia bisa ke Inggris melalui Spanyol. Dengan medan yang sangat terjal, ditambah musim dingin yang ganas, tentu bukan jalur perjalanan yang mudah dilalui seorang wanita dengan kaki kiri terbuat dari kayu.


Setelah perjuangan panjang, Virginia berhasil kembali ke London pada Januari 1943, melalui Madrid, Spanyol. 

Atas jasa-jasanya, Virginia ditetapkan sebagai anggota kehormatan Order of British Empire (OBE). "Dia tak kenal lelah mendukung dan membantu agen-agen kami, memadukan kemampuan tingkat tingginya dalam mengorganisir dan penglihatannya yang sangat tajam atas semua kebutuhan kami. Dia telah menjadi sebuah mata rantai vital antara kami dengan kelompok-kelompok operasional lain di lapangan. Pengabdiannya pada kami tidak bisa tidak harus diberi penghargaan yang sangat tinggi." demikian komentar tentang hasil kerjanya.

Setelah menguasai sandi morse dan mengoperasikan radio, kembali Virginia minta ditugaskan ke Prancis melalui kanal Inggris, karena kaki palsunya tidak memunginkan untuk mendarat dengan parasut.

Virginia membantu pelatihan tiga batalion kelompok perlawanan Prancis terhadap Jerman yang sedang bergerilya. Ketiga batalion ini sukses dilatih, dan akhirnya mampu bertempur melawan pasukan Jerman, dan membunuh banyak tentara Gestapo. Pasukan binaan Virginia juga telah meledakkan empat jembatan serta pusat-pusat komunikasi untuk melumpuhkan operasi Jerman.

Sepak terjang Virginia di Prancis kali ini sungguh membuat pihak Jerman kalang kabut. Tentara Gestapo mulai mengenalnya sebagai seorang agen rahasia wanita yang paling nekat dan berbahaya. Mereka menjulukinya sebagai "Si Wanita Pincang' atau dalam Bahasa Prancis, "la dame qui boite". Kepiawaiannya menyamar juga tidak diragukan lagi. Virginia kerap menyamar sebagai seorang pemeras susu di pedesaan Prancis, dengan pakaian khasnya. Wanita berusia 38 tahun itu berjalan lambat, menggunakan pakaian berlapis wol, sembari menenteng ember. la selalu sukses menutupi kaki palsunya dengan rok panjang. Wajahnya cukup lembut keibuan, sehingga mengelabui sebagian besar tentara Jerman yang berpapasan dengannya.


Kembali ke Amerika, ia mendapat medali "Distinguished Service Cross" dari William Joseph Donovan, Kepala "Office of Strategic Services" (Cikal bakal CIA) sebuah medali bergengsi dan ia adalah satu-satunya penerima dari kalangan sipil.

Tahun 1951 Virginia  bergabung dengan Central Intelligence Agency (CIA) sebagai seorang analis intelijen bagi urusan parlemen Prancis. la bekerja satu kantor dengan suaminya yang menjadi bagian dari Special Activities Division. Di usia 60 tahun, Virginia mengundurkan diri dari CIA sebagai GS-14. Bersama suaminya ia menikmati masa tua di perkebunan wilayah Barnesville, Maryland, tak jauh dari kampung kelahirannya.

Virginia Hall yang punya nama samaran Marie Monin, Germaine, Diane, Marie of Lyon dan Nicolas meninggal pada 8 Juli 1982 di Maryland, Amerika Serikat.[]


Sumber 

1.Buku "Sepak Terjang 10 Agen Rahasia Wanita Terpopuler"

2.https://artsandculture.google.com/entity/m01bxy0?hl=id



JERMAN MENGGEMPUR INGGRIS

 

14 Mei 1944

Menggunakan pesawat Junker Ju 188 dengan navigator dan juru tembak Rudi Prasse, pilot Hans Engelke lepas landas dari Vannes di Brittany. Tujuan mereka adalah menyerang Bristol.

Mereka membawa dua bom ukuran 900 kg dan dua bom ukuran 45 kg.

Berikut catatan Prasse:

................................

"Kami menanjak 180 meter per menit, kecepatan stabil pada 500 km/jam. Dihadapan kami nampak garis yang gelap: pantai Inggris. Sekarang belum kelihatan aksi pertahanan Inggris, lengan panjang lampu sorot belum menjangkau kami. Namun, kami tahu 10 menit sebelum kami melintasi pantai Inggris, musuh sudah siap.

Sekarang sirine tanda bahaya berbunyi di kota-kota pantai dan lapangan terbang burusergap malam yang mulai lepas landas. Hans mulai menarikan pesawat -- berbelok, menanjak, menukik -- karena mempertahankan arah terlalu lama akan berbahaya.

Saat kami melintasi pantai, sinar lampu sorot mengarah kami; lima lampu berusaha terfokus ke kami. Dibelakang kami ada sekitar 50 sorotan. Inilah sabuk-sabuk sorot di pantai Inggris yang terkenal. Lalu kami melewatinya dan suasana gelap lagi. Didepan terbentang Bristol, sasaran kami.

Kami tiba di pinggir kota pada ketinggian 7200 m. Mendadak dua sorotan besar menyapu langit dan menerangi kabin dengan cahaya putih yang menyilaukan, memaksa mata kami terpicing. Kami menjadi fokus dua lampu sorot yang mengganggu itu.

"Nyalakan pemacet", teriak Hans (bomber dilengkapi dengan pemancar pemacet radar untuk melawan perangkat kendali lampu sorot Inggris). Pilot kemudian membawa pesawat kami turun 300 meter sambil berbelok ke kiri. Kedua lampu sorot yang sudah dibantu dua lampu sorot lain memburu kami tetapi sekali lagi kami sudah dalam kegelapan.

'Flak (senjata anti pesawat) berat datang' kata Erich (juru tembak bagian perut) dan Hans segera merubah arah. Diatas sana, sekitar 7.800 meter, delapan peluru pertama meledak.

Semakin banyak silangan lampu sorot di langit dan ledakan flak berlipat ganda. Tarian dimulai. Pilot bermanuver.

Di sebelah kiri bawah muncul kobaran api. Saya mencatat di buku: 'Pesawat tertembak jatuh pada pukul 00.42, south-west Bristol'

Pukul 00.45 lampu suar pertama menerangi kota dengan cahaya putih yang menyilaukan. Diikuti kemudian sejumlah pemberi tanda sasaran berwarna hijau yang jatuh perlahan.

Di darat, awak flak mengonsentrasikan tembakannya pada pemberi tanda tersebut untuk menembaknya jatuh. Namun terlambat, bom-bom kami mulai menghantam kota dan terlihat nyala api.

Setelah sekilas mengamati peta untuk memastikan lokasi pelabuhan, saya memberi tanda kepada Hans: 'Siap menyerang!"

'Pintu ruang bom terbuka, bom diaktifkan!'

Terjadi sentakan ringan saat bom dijatuhkan.

Pintu ruang bom ditutup!

Pesawat kami yang sudah lebih ringan dari dua ton berbelok tajam dan mengarah ke tenggara, menjauhi sasaran.

Kami mendarat di Vannes pada pukul 03.05, tanpa insiden"

........................................

Catatan Inggris menyebutkan, serangan tersebut - yang menghancurkan enam bomber Luftwaffe - tidak sesukses yang diharapkan Prasse. Dari 83 ton bom yang dijatuhkan, hanya sekitar 3 ton saja yang mengenai dalam kota Bristol.

Operasi ini selesai pada akhir Mei 1944. Unit yang ambil bagian diistirahatkan. Namun, singkat saja karena pada awal bulan Juni, Sekutu sudah mendarat di Normandia.


Dari buku

PERANG UDARA DI EROPA

FRANKIE YALE

Lahir dengan nama Francesco Ioele di Longobucco, Calabria, Italia pada 22 Januari 1893. Bersama dengan keluarganya, Frankie Yale datang ke Amerika pada tahun 1901. Dari belia dia sudah akrab dengan dunia kriminal sampai kemudian bertemu dengan John Torrio. Oleh pendatang baru dunia gangster itu, Frankie dimasukkan ke Five Points, sebuah geng jalanan orang-orang berdarah Italia.

Tak lama kemudian Torrio dan Yale hijrah ke Brooklyn untuk mendirikan kelompok Black Hand yang bergerak dalam dunia prostitusi dan pemerasan. Mereka mendirikan markasnya di Inn Harvard dimana salah seorang pelayannya adalah Alphonse Capone.

Tahun 1915, John Torrio pergi ke Chicago dan jaringan bisnisya dikelola oleh Yale. Yale dikenal sebagai sosok dermawan dimata teman-temannya, namun oleh para musuhnya dikenal sebagai seorang yang brutal sehingga mendapat julukan "Prince of Pals"

Di Brooklyn, geng Frankie Yale mempunyai musuh geng Irlandia yang menyebut namanya dengan "White Hand".

Penembakan atas Yale pada 6 Februari 1921 juga nampaknya direncanakan oleh Bill Lovett, pimpinan White Hand. Setelah pulih, tahun berikutnya Yale membalas dendam dengan melakukan pembunuhan terencana yang hanya melukai Lovett. Lovett lalu pergi ke New Jersey untuk bekerja dan memperoleh rumah. Sementara usaha di Brooklyn diteruskan oleh adik iparnya, Richard 'Pegleg' Lonergen.

Malam 31 Oktober 1923, Lovett kembali ke Brooklyn untuk mengunjungi teman lamanya. Kedatangan Lovett lalu dilaporkan ke Yale dan akhirnya berhasil dibunuh. 

White Hand dalam kendali Lonergen nampak lemah sehingga Yale mampu menguasai Brooklyn.

Perang berkepanjangan dengan White Hand nampaknya harus diakhiri. Posisinya yang makin lemah membuat Lonergen mengambil tindakan.

26 Desember 1925 anggota Geng Yale merayakan Natal di Adonis Club. Lonergen dengan anak buahnya menunggu di belakang klub. Tak lama kemudian mereka mulai menyerang, namun kelompok Yale nampaknya sudah siap. Seorang mematikan lampu dan White Hand jadi sasaran empuk mereka. Pegleg Lonergen adalah salah satu korban yang tewas.

Dengan hancurnya White Hand, otomatis Brooklyn dikuasai oleh Yale.

Pada musim semi 1927 terjadi konflik antara Yale dan Al Capone akibat penolakan Yale memberikan jabatan pimpinan Siciliana Unione kepada teman Capone, Antonio Lombardo. Yale juga melakukan pembajakan truk Capone yang bermuatan minuman keras. Hubungan dua orang yang tadinya bersahabat itu makin memburuk.

Minggu, 1 Juli 1928, Frankie Yale berada di Club Sunrise, Brooklyn. Dia menerima kabar ada sesuatu yang tidak beres dengan istrinya, Lucy, yang katanya di rumah dan mencari putrinya yang berusia setahun. Yale segera meninggalkan tempat. Saat menunggu lampu merah di Utrecht Baru Avenue, ada empat pria yang berada dalam sebuah sedan dan bersenjata. Peluru pun dimuntahkan dan menewaskan Frankie Yale.

Pemakaman Frankie Yale menjadi salah satu pemakaman gangster paling mengesankan dalam sejarah Amerika. Ribuan Rakyat Brooklyn berbaris di jalan-jalan untuk menyaksikan prosesi tersebut.

Beberapa mobil membuat rangkaian bunga sementara 110 limusin memuat para pelayat. Jenazah Yale diletakkan dalam sebuah peti perak seharga US$. 150.000 di sebuah mobil jenazah beratap terbuka. Tiba-tiba dari tengah kerumunan massa muncul seorang wanita yang lalu meludahi peti mati. Wanita itu adalah Peggy Meehan, janda dari Dinny Meehan, pimpinan White Hand yang dibunuh Yale lima tahun sebelumnya.

Sepeninggal Frankie Yale,  kelompok Yale dipimpin Frankie Marlow, namun setahun kemudian ia tewas oleh geng Morello. Masseria lalu menggantikan Marlow, dan pada eranya kelompok Yale terbagi dua sektor: bisnis minuman keras dan judi dipimpin Anthony Carvano dan bisnis pelabuhan dipimpin Alfred Mineo.[]


Sumber:

1.Buku "My Name is Capone!"

2.Buku "Al Capone.Mafia Legendaris Yang "Nyaris" Tak Tersentuh Hukum"


Keterangan foto: Prosesi Pemakaman Frankie Yale



RU

Akibat berselisih pendapat dengan dosennya di Politeknik Delft,pemuda Ru meninggalkan negeri kelahirannya untuk mengadu untung.

Ru sendiri sebenarnya dari keluarga terpelajar, karena ayahnya guru besar Fisika di Akademi Militer Breda dan direktur Sekolah Politeknik Delft.

1887,Ru mendarat di pulau Jawa menemui sepupunya RE Kerkhoven yang membuka perkebunan teh malabar dan mengangkatnya menjadi admistratur Perkebunan.

Banyak inovasi yang dilakukan oleh Ru selama menjadi Administratur, diantaranya membuat konversi ukuran luas tanah dari 'bahu' menjadi 'hektar'.Selain itu jarak antara Pangalengan ke Bandung yang sebelumnya dinyatakan dalam satuan pal diganti dengan kilometer.Ru juga membuat jalan setapak antar petak kebun teh untuk memudahkan pemeliharaan kebun yg banyak sehingga disebut 'jalan ratus'.Administratur Ru juga dekat hubungannya dengan buruh pemetik sehingga disukai mereka.

Bersama RE Kerkhoven juga Ru memberi sumbangan yang tidak sedikit terhadap usaha-usaha kemanusiaan.Pendukung finansial Rumah sakit di Bandung, pembiayaan panti perawatan lepra di Plantungan, menjadi sponsor bursa tahunan (Jaarbeurs) untuk mempromosikan produksi dari Priangan, termasuk produksi perkebunan.

Terhadap anak-anak,Ru memberi perhatian dengan menjadi donatur Bala Keselamatan, Lembaga buta, lembaga bisu tuli, mendirikan perusahaan telepon Bandung dan Priangan.

Sebagai orang yang berasal dari kalangan terpelajar,Ru mendorong agar Bandung menjadi pusat kegiatan ilmiah.Maka Ru memberikan sumbangan atas didirikannya pendidikan teknik di Bandung yaitu pembangunan Technische Hogerschool dimana dia diangkat sebagai Dewan Kurator.

Sungguh menarik, bagaimana dia harus pulang balik Bandung-Pangalengan sejauh 50km dengan infrastruktur dan transportasi yang belum berkembang, aktif di organisasi masyarakat untuk memajukan kota Bandung.

Sebagai ketua umum Nederlandch Indische Sterrenkundige Vereniging (Persatuan Ilmu Astronomi Hindia-Belanda) Ru juga menyumbang pendirian Peneropong bintang di Lembang pada 1923.

Jejak panjang yang ditinggalkan oleh Karel Albert Rudolf Bosscha --nama lengkap dari Ru, telah menjadi inspirasi orang orang pada masanya...

KAR Bosscha meninggal di Bandung pada 26 November 1928 dan jenazahnya dimakamkan di Perkebunan Teh Malabar, tempat tempat dia mencurahkan segenap pikiran dan tenaganya selama lebih dari 30 tahun dan sekaligus menjadi tempat kelahirannya yang kedua.


Sumber:

1.buku kisah para "PREANGER PLANTERS"

2.https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Dr._K.A.R._Bosscha_achter_zijn_schrijftafel_TMnr_10018604.jpg


Keterangan foto: KAR Bosscha di ruang tengah rumahnya yang sekaligus ruang kerja



DUA SULTAN BERSIMPANG JALAN

Di Europese Lagere School (ELS) yang terletak di Jalan Pakem Yogyakarta itulah Henkie menyelesaikan pendidikan dasarnya dengan segala suka dukanya, termasuk 'antem-anteman' (berkelahi).

Ada seorang temannya yang punya nama panggilan Mozes berasal dari Pontianak yang tinggal di Yogya ditemani seorang 'gouvernante' (pengasuh- pendidik) berkebangsaan Inggris bernama Nyonya Fox.

Dengan penampilan yang agak feminin, Mozes tidak menyukai 'antem-anteman' antar murid laki-laki dan suatu saat ia diadu dengan seorang murid perempuan jago berkelahi yang berakhir dengan kemenangan murid perempuan tersebut.

Tahun 1930, setelah menamatkan HBS, Henkie, nama panggilan Sultan Hamengkubuwono IX melanjutkan pendidikannya ke Rijksuniversiteit, Leiden. 

Tiga tahun kemudian Sultan Hamid II, yang mempunyai nama panggilan Mozes menyusul untuk menempuh pendidikan militer di KMA Breda

24 Januari 1950 Menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono IX menerima informasi intelijen bahwa Batalion X pimpinan Kapten Raymond Pierre Westerling akan menyerbu sidang kabinet Pemerintahan Republik Indonesia Serikat yang dijadwalkan di Pejambon pada sore hari.

Dari informasi diperoleh rencana Westerling akan menghabisi Menteri Pertahanan, Sekretaris Jenderal Ali Budihardjo, dan Kepala Satuan Angkatan Perang TB Simatupang. Setelah itu, kata Sultan, pasukan Westerling akan memaksa Presiden Sukarno mengangkat menteri negara sonder portofolio dan menunjuk Sultan Hamid II sebagai Menteri Pertahanan menggantikan dirinya.

Rupanya ada kekecewaan Sultan Hamid atas pengangkatan Sultan Hamengkubuwono sebagai Menteri Pertahanan. Jika Sultan Hamid menjadi Menteri Pertahanan, maka Belanda masih bisa menguasai angkatan perang, karena dikuasai menteri bekas KNIL.

Meski waktu itu Hamengku Buwono IX mengetahui rencana ini, sidang kabinet tetap digelar. Hatta memulai rapat pukul 17.00. Semua menteri hadir kecuali Hamid II, yang datang terlambat, sejam setelah rapat dimulai. Pada pukul 18.30 tiba-tiba sidang ditutup oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta, dan semua menteri meninggalkan tempat.

Malam itu juga, atas perintah Hamengku Buwono IX, pasukan RIS mengejar Westerling ke seluruh pelosok kota, namun ia berhasil melarikan diri ke Singapura.

Selanjutnya Hamengku Buwono IX mempersiapkan rencana penangkapan Hamid.

Karena Hamid adalah seorang menteri Negara, maka harus ada surat perintah yang ditandatangani langsung oleh Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta serta Sekretaris Kabinet Abdul Karim Pringgodigdo.

Pada dinihari esoknya, sekitar pukul 03.00, pasukan RIS menangkap Hamid II di tempatnya menginap, Hotel Des Indes, Jakarta Pusat. Dua tuduhan yang dialamatkan kepada Hamid adalah rencana makar dan ditengarai berada di balik penyerangan pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan Westerling terhadap pasukan Divisi Siliwangi, 23 Januari 1950.

Walau dibantah, Hamid II tetap dinyatakan terbukti bersalah merencanakan makar dan dihukum sepuluh tahun penjara.


Sumber

1.Buku "Tahta untuk Rakyat" Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX

2.Buku "Hamengkubuwono IX" Pengorbanan Sang Pembela Republik 

3.https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabinet_Republik_Indonesia_Serikat#:~:text=Kabinet%20Republik%20Indonesia%20Serikat%20atau,kedaulatan%20dari%20kekuasaan%20kolonial%20Belanda.

Keterangan foto: Sultan Hamengkubuwono IX dan Sultan Hamid II di rumah peristirahatan di Kaliurang, 20 April 1948



JENDERAL M.JUSUF YANG SEDERHANA

Pada tahun 1978, tiba-tiba saja Jusuf dipanggil Pak Harto. Tidak hanya ia memperoleh promosi menjadi jenderal penuh, ia bahkan ditunjuk untuk menduduki jabatan yang sangat berkuasa di Indonesia, hanya kalah kuasa dari sang presiden sendiri, yakni Menteri Pertahanan dan Keamanan merangkap Panglima ABRI.

Jusuf sendiri kaget karena ia merasa tidak berada di lingkaran terdekat Pak Harto. Lagipula, ia sudah 14 tahun lamanya tidak berdinas aktif sebagai tentara. Mungkin Pak Harto memilihnya karena menilai Jusuf "tidak berbahaya" seperti halnya Jenderal Sumitro, Letjen Sarwo Edi Wibowo atau Letjen Ali Murtopo.

Selama menjabat, banyak sekali yang sudah dilakukan Jenderal M Jusuf. Perintah memanunggalkan kembali ABRI dengan rakyat ia terjemahkan pula berupa Program AMD (ABRI Masuk Desa). Dalam program ini, ABRI dikirim ke daerah-daerah pedesaan untuk membantu langsung pembangunan infrastruktur. Namun yang membuatnya dikenang para prajurit sampai sekarang adalah perhatian yang sangat besar bagi kesejahteraan anak buahnya. Selama lima tahun menjabat Jusuf sangat jarang berada di kantor. la terus berkeliling Nusantara menengok keadaan para tentara dan polisi. la menanyakan langsung tentang kondisi mereka dan keluarga. Tidak cuma bertanya, ia juga memberi apa yang dibutuhkan sejauh yang ia mampu.

Masyarakat umum pun menyukai liputan kunjungannya ke daerahdaerah oleh TVRI. Khususnya dialog langsungnya dengan para prajurit tentang hal-hal ringan namun secara jelas menyiratkan kedekatan:

𝑩𝒆𝒓𝒂𝒑𝒂 π’‚π’π’‚π’Œπ’Žπ’–?

π‘Ίπ’Šπ’‚π’‘, π’•π’Šπ’ˆπ’‚, 𝒋𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒂𝒍!

𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 π’Šπ’•π’– π’”π’†π’Œπ’π’π’‚π’‰π’π’šπ’‚. π‘°π’šπ’‚?

π‘°π’šπ’‚, 𝒋𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒂𝒍!

𝑲𝒂𝒖 π’Žπ’Šπ’π’–π’Ž (π’Žπ’†π’π’ˆπ’‰π’Šπ’”π’‚π’‘) π’“π’π’Œπ’π’Œ?

π‘Ίπ’Šπ’‚π’‘, 𝒋𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒂𝒍!

𝑨𝒑𝒂-𝒂𝒑𝒂𝒂𝒏 π’Œπ’‚π’–! 𝑺𝒕𝒐𝒑 π’“π’π’Œπ’π’Œ π’Œπ’‚π’π’‚π’– π’Žπ’‚π’– π’‚π’π’‚π’Œπ’Žπ’– π’”π’†π’Žπ’–π’‚ π’”π’†π’Œπ’π’π’‚π’‰!

π‘Ίπ’Šπ’‚π’‘, π’π’‚π’Œπ’”π’‚π’π’‚π’Œπ’‚π’ 𝒋𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒂𝒍!

Adalah Jenderal M Jusuf pula yang melipatgandakan anggaran untuk kesejahteraan para prajurit. Mutu ransum makan prajurit TNI dan Polri mengalami peningkatan drastis telur, daging dan susu yang biasanya hanya tersaji dalam acara-acara khusus, menjadi menu wajib setiap hari. Target makan 4000 kalori per prajurit per hari benar-benar diterapkan dan diawasi Bukan cuma tentaranya, keluarganya juga kebagian.

Suatu saat Jenderal M.Jusuf meninjau sebuah markas batalyon di Bogor. Mengetahui sudah dua bulan para prajurit tidak menerima jatah makanan ekstra, dimarahilah  komandan batalyon didepan anak buahnya. Alasan yang diberikan komandan itu adalah, karena mereka sudah masuk ke Paspampres.

Apa urusannya pemindahan pasukan dengan penghentian jatah makanan. "𝑼𝒓𝒖𝒔 π’Šπ’•π’– π’”π’†π’Œπ’‚π’“π’‚π’π’ˆ π’ƒπ’Šπ’‚π’“ π’Žπ’†π’“π’†π’Œπ’‚ 𝒄𝒆𝒑𝒂𝒕 π’Žπ’†π’π’†π’“π’Šπ’Žπ’‚ π’‰π’‚π’Œπ’π’šπ’‚ 𝒅𝒂𝒏 π’‹π’‚π’π’ˆπ’‚π’ π’…π’Šπ’•π’–π’π’…π’‚-𝒕𝒖𝒏𝒅𝒂 π’π’‚π’ˆπ’Š. π‘³π’Šπ’‰π’‚π’• π’‚π’π’‚π’Œ π’ƒπ’–π’‚π’‰π’Žπ’– π’Œπ’–π’“π’–π’” 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒖𝒄𝒂𝒕," katanya. Si komandan nampak gemetar. Tapi amarah Jenderal M Jusuf ternyata belum selesai. "π‘¨π’˜π’‚π’” π’Œπ’‚π’–! π‘±π’‚π’π’ˆπ’‚π’ π’‘π’‚π’Œπ’‚π’Š 𝒂𝒍𝒂𝒔𝒂𝒏 π’Žπ’‚π’„π’‚π’Ž-π’Žπ’‚π’„π’‚π’Ž. π‘Ίπ’†π’ˆπ’†π’“π’‚ π’Œπ’‚π’– π’ƒπ’‚π’ˆπ’Š π’Œπ’† π’‚π’π’‚π’Œ π’ƒπ’–π’‚π’‰π’Žπ’–!" 

Seorang perwira yang ikut menikmati fasilitas makanan ekstra ini adalah Kapten Susilo Bambang Yudhoyono. Meski harus seharian melakukan latihan fisik berat, ia dan para prajurit tetap bersemangat bahkan gembira. Sebab mereka tahu susu atau kolak kacang hijau akan menanti di barak di setiap akhir latihan nanti. 

Para prajurit benar-benar menghormati Jusuf karena sikapnya yang kebapakan. Bahkan saat meninjau barak Kopassus diCijantung, Jenderal Jusuf sampai berdialog dengan ibu-ibu di tempat jemur pakaian. Tak ada jarak antara sosok nomor satu di TNI itu dengan keluarga prajurit rendahan. 

Hal-hal ini membuatnya sangat populer di jajaran ABRI. Mulai muncul bisik-bisik miring mengenai Jusuf. Saat itu kekuasaan Pak Harto begitu kokoh. Persaingan sengit berlangsung di antara lingkaran dekatnya untuk menjadi yang paling dekat, bukan untuk menggesernya. Isu yang paling laku adalah siapa yang berpotensi menyaingi Pak Harto, biarpun peluangnya untuk berhasil sangat tipis.

Dalam sebuah pertemuan tahun 1982 di antara pejabat tinggi negara yang dihadiri Presiden Soeharto, Jenderal M Jusuf dan Mendagri Amir Machmud, kecurigaan itu meledak. Di situ dibahas kurangnya dukungan politik yang diberikan ABRI bagi Golkar dalam pemilu terakhir. Pembicaraan melebar ke soal popularitas Jusuf yang meroket di kalangan prajurit. Amir mempertanyakan soal itu. Merasa disindir dan dicurigai, Jusuf kehilangan kontrol. la marah dan menggebrak meja. la tidak diterima dicurigai, dan ia tidak mau dipersalahkan soal perolehan suara Golkar yang kurang memuaskan.

Jusuf mengatakan, "π‘Ίπ’‚π’šπ’‚ π’Šπ’π’Š π’π’“π’‚π’π’ˆ π‘©π’–π’ˆπ’Šπ’”. π‘Ίπ’‚π’šπ’‚ π’•π’Šπ’…π’‚π’Œ π’‘π’‚π’‰π’‚π’Ž π’‚π’“π’•π’Š π’Œπ’†π’Žπ’‚π’π’–π’π’ˆπ’ˆπ’‚π’π’‚π’ π’šπ’‚π’π’ˆ 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒔𝒂 π‘±π’‚π’˜π’‚ π’Šπ’•π’–. π‘Ίπ’†π’Žπ’–π’‚ π’šπ’‚π’π’ˆ π’”π’‚π’šπ’‚ π’π’‚π’Œπ’–π’Œπ’‚π’ 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 π’•π’–π’ˆπ’‚π’”, 𝒅𝒂𝒏 π’”π’‚π’šπ’‚ π’•π’Šπ’…π’‚π’Œ π’‘π’–π’π’šπ’‚ π’‚π’Žπ’ƒπ’Šπ’”π’Š". Jusuf tahu Amir cuma pion. Pak Harto lah yang tengah mempertanyakan loyalitasnya. 

Jusuf sudah tahu gerak geriknya diawasi oleh asisten intelijennya sendiri yang nantinya menggantikannya sebagai Pangab, yakni Letjen Benny Moerdani. Kecurigaan itu menyinggung perasaan Jusuf sehingga ia tidak mau lagi menghadiri sidang-sidang kabinet sampai ia meletakkan jabatan pada bulan April 1983.[]


Sumber

Buku

"Untuk Republik" Kisah-kisah Keteladanan Kesederhanaan Tokoh Bangsa.


Keterangan foto: Menhankam/Pangab sedang menginspeksi prajurit ABRI



SUAMI DENGAN TIGA CINTA

1904 Nest, demikian panggilan EFE Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije dan memperoleh 5 anak, dua diantaranya laki-laki mening...