Selasa, 26 Maret 2024

JERMAN MENGGEMPUR INGGRIS

 

14 Mei 1944

Menggunakan pesawat Junker Ju 188 dengan navigator dan juru tembak Rudi Prasse, pilot Hans Engelke lepas landas dari Vannes di Brittany. Tujuan mereka adalah menyerang Bristol.

Mereka membawa dua bom ukuran 900 kg dan dua bom ukuran 45 kg.

Berikut catatan Prasse:

................................

"Kami menanjak 180 meter per menit, kecepatan stabil pada 500 km/jam. Dihadapan kami nampak garis yang gelap: pantai Inggris. Sekarang belum kelihatan aksi pertahanan Inggris, lengan panjang lampu sorot belum menjangkau kami. Namun, kami tahu 10 menit sebelum kami melintasi pantai Inggris, musuh sudah siap.

Sekarang sirine tanda bahaya berbunyi di kota-kota pantai dan lapangan terbang burusergap malam yang mulai lepas landas. Hans mulai menarikan pesawat -- berbelok, menanjak, menukik -- karena mempertahankan arah terlalu lama akan berbahaya.

Saat kami melintasi pantai, sinar lampu sorot mengarah kami; lima lampu berusaha terfokus ke kami. Dibelakang kami ada sekitar 50 sorotan. Inilah sabuk-sabuk sorot di pantai Inggris yang terkenal. Lalu kami melewatinya dan suasana gelap lagi. Didepan terbentang Bristol, sasaran kami.

Kami tiba di pinggir kota pada ketinggian 7200 m. Mendadak dua sorotan besar menyapu langit dan menerangi kabin dengan cahaya putih yang menyilaukan, memaksa mata kami terpicing. Kami menjadi fokus dua lampu sorot yang mengganggu itu.

"Nyalakan pemacet", teriak Hans (bomber dilengkapi dengan pemancar pemacet radar untuk melawan perangkat kendali lampu sorot Inggris). Pilot kemudian membawa pesawat kami turun 300 meter sambil berbelok ke kiri. Kedua lampu sorot yang sudah dibantu dua lampu sorot lain memburu kami tetapi sekali lagi kami sudah dalam kegelapan.

'Flak (senjata anti pesawat) berat datang' kata Erich (juru tembak bagian perut) dan Hans segera merubah arah. Diatas sana, sekitar 7.800 meter, delapan peluru pertama meledak.

Semakin banyak silangan lampu sorot di langit dan ledakan flak berlipat ganda. Tarian dimulai. Pilot bermanuver.

Di sebelah kiri bawah muncul kobaran api. Saya mencatat di buku: 'Pesawat tertembak jatuh pada pukul 00.42, south-west Bristol'

Pukul 00.45 lampu suar pertama menerangi kota dengan cahaya putih yang menyilaukan. Diikuti kemudian sejumlah pemberi tanda sasaran berwarna hijau yang jatuh perlahan.

Di darat, awak flak mengonsentrasikan tembakannya pada pemberi tanda tersebut untuk menembaknya jatuh. Namun terlambat, bom-bom kami mulai menghantam kota dan terlihat nyala api.

Setelah sekilas mengamati peta untuk memastikan lokasi pelabuhan, saya memberi tanda kepada Hans: 'Siap menyerang!"

'Pintu ruang bom terbuka, bom diaktifkan!'

Terjadi sentakan ringan saat bom dijatuhkan.

Pintu ruang bom ditutup!

Pesawat kami yang sudah lebih ringan dari dua ton berbelok tajam dan mengarah ke tenggara, menjauhi sasaran.

Kami mendarat di Vannes pada pukul 03.05, tanpa insiden"

........................................

Catatan Inggris menyebutkan, serangan tersebut - yang menghancurkan enam bomber Luftwaffe - tidak sesukses yang diharapkan Prasse. Dari 83 ton bom yang dijatuhkan, hanya sekitar 3 ton saja yang mengenai dalam kota Bristol.

Operasi ini selesai pada akhir Mei 1944. Unit yang ambil bagian diistirahatkan. Namun, singkat saja karena pada awal bulan Juni, Sekutu sudah mendarat di Normandia.


Dari buku

PERANG UDARA DI EROPA

FRANKIE YALE

Lahir dengan nama Francesco Ioele di Longobucco, Calabria, Italia pada 22 Januari 1893. Bersama dengan keluarganya, Frankie Yale datang ke Amerika pada tahun 1901. Dari belia dia sudah akrab dengan dunia kriminal sampai kemudian bertemu dengan John Torrio. Oleh pendatang baru dunia gangster itu, Frankie dimasukkan ke Five Points, sebuah geng jalanan orang-orang berdarah Italia.

Tak lama kemudian Torrio dan Yale hijrah ke Brooklyn untuk mendirikan kelompok Black Hand yang bergerak dalam dunia prostitusi dan pemerasan. Mereka mendirikan markasnya di Inn Harvard dimana salah seorang pelayannya adalah Alphonse Capone.

Tahun 1915, John Torrio pergi ke Chicago dan jaringan bisnisya dikelola oleh Yale. Yale dikenal sebagai sosok dermawan dimata teman-temannya, namun oleh para musuhnya dikenal sebagai seorang yang brutal sehingga mendapat julukan "Prince of Pals"

Di Brooklyn, geng Frankie Yale mempunyai musuh geng Irlandia yang menyebut namanya dengan "White Hand".

Penembakan atas Yale pada 6 Februari 1921 juga nampaknya direncanakan oleh Bill Lovett, pimpinan White Hand. Setelah pulih, tahun berikutnya Yale membalas dendam dengan melakukan pembunuhan terencana yang hanya melukai Lovett. Lovett lalu pergi ke New Jersey untuk bekerja dan memperoleh rumah. Sementara usaha di Brooklyn diteruskan oleh adik iparnya, Richard 'Pegleg' Lonergen.

Malam 31 Oktober 1923, Lovett kembali ke Brooklyn untuk mengunjungi teman lamanya. Kedatangan Lovett lalu dilaporkan ke Yale dan akhirnya berhasil dibunuh. 

White Hand dalam kendali Lonergen nampak lemah sehingga Yale mampu menguasai Brooklyn.

Perang berkepanjangan dengan White Hand nampaknya harus diakhiri. Posisinya yang makin lemah membuat Lonergen mengambil tindakan.

26 Desember 1925 anggota Geng Yale merayakan Natal di Adonis Club. Lonergen dengan anak buahnya menunggu di belakang klub. Tak lama kemudian mereka mulai menyerang, namun kelompok Yale nampaknya sudah siap. Seorang mematikan lampu dan White Hand jadi sasaran empuk mereka. Pegleg Lonergen adalah salah satu korban yang tewas.

Dengan hancurnya White Hand, otomatis Brooklyn dikuasai oleh Yale.

Pada musim semi 1927 terjadi konflik antara Yale dan Al Capone akibat penolakan Yale memberikan jabatan pimpinan Siciliana Unione kepada teman Capone, Antonio Lombardo. Yale juga melakukan pembajakan truk Capone yang bermuatan minuman keras. Hubungan dua orang yang tadinya bersahabat itu makin memburuk.

Minggu, 1 Juli 1928, Frankie Yale berada di Club Sunrise, Brooklyn. Dia menerima kabar ada sesuatu yang tidak beres dengan istrinya, Lucy, yang katanya di rumah dan mencari putrinya yang berusia setahun. Yale segera meninggalkan tempat. Saat menunggu lampu merah di Utrecht Baru Avenue, ada empat pria yang berada dalam sebuah sedan dan bersenjata. Peluru pun dimuntahkan dan menewaskan Frankie Yale.

Pemakaman Frankie Yale menjadi salah satu pemakaman gangster paling mengesankan dalam sejarah Amerika. Ribuan Rakyat Brooklyn berbaris di jalan-jalan untuk menyaksikan prosesi tersebut.

Beberapa mobil membuat rangkaian bunga sementara 110 limusin memuat para pelayat. Jenazah Yale diletakkan dalam sebuah peti perak seharga US$. 150.000 di sebuah mobil jenazah beratap terbuka. Tiba-tiba dari tengah kerumunan massa muncul seorang wanita yang lalu meludahi peti mati. Wanita itu adalah Peggy Meehan, janda dari Dinny Meehan, pimpinan White Hand yang dibunuh Yale lima tahun sebelumnya.

Sepeninggal Frankie Yale,  kelompok Yale dipimpin Frankie Marlow, namun setahun kemudian ia tewas oleh geng Morello. Masseria lalu menggantikan Marlow, dan pada eranya kelompok Yale terbagi dua sektor: bisnis minuman keras dan judi dipimpin Anthony Carvano dan bisnis pelabuhan dipimpin Alfred Mineo.[]


Sumber:

1.Buku "My Name is Capone!"

2.Buku "Al Capone.Mafia Legendaris Yang "Nyaris" Tak Tersentuh Hukum"


Keterangan foto: Prosesi Pemakaman Frankie Yale



RU

Akibat berselisih pendapat dengan dosennya di Politeknik Delft,pemuda Ru meninggalkan negeri kelahirannya untuk mengadu untung.

Ru sendiri sebenarnya dari keluarga terpelajar, karena ayahnya guru besar Fisika di Akademi Militer Breda dan direktur Sekolah Politeknik Delft.

1887,Ru mendarat di pulau Jawa menemui sepupunya RE Kerkhoven yang membuka perkebunan teh malabar dan mengangkatnya menjadi admistratur Perkebunan.

Banyak inovasi yang dilakukan oleh Ru selama menjadi Administratur, diantaranya membuat konversi ukuran luas tanah dari 'bahu' menjadi 'hektar'.Selain itu jarak antara Pangalengan ke Bandung yang sebelumnya dinyatakan dalam satuan pal diganti dengan kilometer.Ru juga membuat jalan setapak antar petak kebun teh untuk memudahkan pemeliharaan kebun yg banyak sehingga disebut 'jalan ratus'.Administratur Ru juga dekat hubungannya dengan buruh pemetik sehingga disukai mereka.

Bersama RE Kerkhoven juga Ru memberi sumbangan yang tidak sedikit terhadap usaha-usaha kemanusiaan.Pendukung finansial Rumah sakit di Bandung, pembiayaan panti perawatan lepra di Plantungan, menjadi sponsor bursa tahunan (Jaarbeurs) untuk mempromosikan produksi dari Priangan, termasuk produksi perkebunan.

Terhadap anak-anak,Ru memberi perhatian dengan menjadi donatur Bala Keselamatan, Lembaga buta, lembaga bisu tuli, mendirikan perusahaan telepon Bandung dan Priangan.

Sebagai orang yang berasal dari kalangan terpelajar,Ru mendorong agar Bandung menjadi pusat kegiatan ilmiah.Maka Ru memberikan sumbangan atas didirikannya pendidikan teknik di Bandung yaitu pembangunan Technische Hogerschool dimana dia diangkat sebagai Dewan Kurator.

Sungguh menarik, bagaimana dia harus pulang balik Bandung-Pangalengan sejauh 50km dengan infrastruktur dan transportasi yang belum berkembang, aktif di organisasi masyarakat untuk memajukan kota Bandung.

Sebagai ketua umum Nederlandch Indische Sterrenkundige Vereniging (Persatuan Ilmu Astronomi Hindia-Belanda) Ru juga menyumbang pendirian Peneropong bintang di Lembang pada 1923.

Jejak panjang yang ditinggalkan oleh Karel Albert Rudolf Bosscha --nama lengkap dari Ru, telah menjadi inspirasi orang orang pada masanya...

KAR Bosscha meninggal di Bandung pada 26 November 1928 dan jenazahnya dimakamkan di Perkebunan Teh Malabar, tempat tempat dia mencurahkan segenap pikiran dan tenaganya selama lebih dari 30 tahun dan sekaligus menjadi tempat kelahirannya yang kedua.


Sumber:

1.buku kisah para "PREANGER PLANTERS"

2.https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Dr._K.A.R._Bosscha_achter_zijn_schrijftafel_TMnr_10018604.jpg


Keterangan foto: KAR Bosscha di ruang tengah rumahnya yang sekaligus ruang kerja



DUA SULTAN BERSIMPANG JALAN

Di Europese Lagere School (ELS) yang terletak di Jalan Pakem Yogyakarta itulah Henkie menyelesaikan pendidikan dasarnya dengan segala suka dukanya, termasuk 'antem-anteman' (berkelahi).

Ada seorang temannya yang punya nama panggilan Mozes berasal dari Pontianak yang tinggal di Yogya ditemani seorang 'gouvernante' (pengasuh- pendidik) berkebangsaan Inggris bernama Nyonya Fox.

Dengan penampilan yang agak feminin, Mozes tidak menyukai 'antem-anteman' antar murid laki-laki dan suatu saat ia diadu dengan seorang murid perempuan jago berkelahi yang berakhir dengan kemenangan murid perempuan tersebut.

Tahun 1930, setelah menamatkan HBS, Henkie, nama panggilan Sultan Hamengkubuwono IX melanjutkan pendidikannya ke Rijksuniversiteit, Leiden. 

Tiga tahun kemudian Sultan Hamid II, yang mempunyai nama panggilan Mozes menyusul untuk menempuh pendidikan militer di KMA Breda

24 Januari 1950 Menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono IX menerima informasi intelijen bahwa Batalion X pimpinan Kapten Raymond Pierre Westerling akan menyerbu sidang kabinet Pemerintahan Republik Indonesia Serikat yang dijadwalkan di Pejambon pada sore hari.

Dari informasi diperoleh rencana Westerling akan menghabisi Menteri Pertahanan, Sekretaris Jenderal Ali Budihardjo, dan Kepala Satuan Angkatan Perang TB Simatupang. Setelah itu, kata Sultan, pasukan Westerling akan memaksa Presiden Sukarno mengangkat menteri negara sonder portofolio dan menunjuk Sultan Hamid II sebagai Menteri Pertahanan menggantikan dirinya.

Rupanya ada kekecewaan Sultan Hamid atas pengangkatan Sultan Hamengkubuwono sebagai Menteri Pertahanan. Jika Sultan Hamid menjadi Menteri Pertahanan, maka Belanda masih bisa menguasai angkatan perang, karena dikuasai menteri bekas KNIL.

Meski waktu itu Hamengku Buwono IX mengetahui rencana ini, sidang kabinet tetap digelar. Hatta memulai rapat pukul 17.00. Semua menteri hadir kecuali Hamid II, yang datang terlambat, sejam setelah rapat dimulai. Pada pukul 18.30 tiba-tiba sidang ditutup oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta, dan semua menteri meninggalkan tempat.

Malam itu juga, atas perintah Hamengku Buwono IX, pasukan RIS mengejar Westerling ke seluruh pelosok kota, namun ia berhasil melarikan diri ke Singapura.

Selanjutnya Hamengku Buwono IX mempersiapkan rencana penangkapan Hamid.

Karena Hamid adalah seorang menteri Negara, maka harus ada surat perintah yang ditandatangani langsung oleh Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta serta Sekretaris Kabinet Abdul Karim Pringgodigdo.

Pada dinihari esoknya, sekitar pukul 03.00, pasukan RIS menangkap Hamid II di tempatnya menginap, Hotel Des Indes, Jakarta Pusat. Dua tuduhan yang dialamatkan kepada Hamid adalah rencana makar dan ditengarai berada di balik penyerangan pasukan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) pimpinan Westerling terhadap pasukan Divisi Siliwangi, 23 Januari 1950.

Walau dibantah, Hamid II tetap dinyatakan terbukti bersalah merencanakan makar dan dihukum sepuluh tahun penjara.


Sumber

1.Buku "Tahta untuk Rakyat" Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX

2.Buku "Hamengkubuwono IX" Pengorbanan Sang Pembela Republik 

3.https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabinet_Republik_Indonesia_Serikat#:~:text=Kabinet%20Republik%20Indonesia%20Serikat%20atau,kedaulatan%20dari%20kekuasaan%20kolonial%20Belanda.

Keterangan foto: Sultan Hamengkubuwono IX dan Sultan Hamid II di rumah peristirahatan di Kaliurang, 20 April 1948



JENDERAL M.JUSUF YANG SEDERHANA

Pada tahun 1978, tiba-tiba saja Jusuf dipanggil Pak Harto. Tidak hanya ia memperoleh promosi menjadi jenderal penuh, ia bahkan ditunjuk untuk menduduki jabatan yang sangat berkuasa di Indonesia, hanya kalah kuasa dari sang presiden sendiri, yakni Menteri Pertahanan dan Keamanan merangkap Panglima ABRI.

Jusuf sendiri kaget karena ia merasa tidak berada di lingkaran terdekat Pak Harto. Lagipula, ia sudah 14 tahun lamanya tidak berdinas aktif sebagai tentara. Mungkin Pak Harto memilihnya karena menilai Jusuf "tidak berbahaya" seperti halnya Jenderal Sumitro, Letjen Sarwo Edi Wibowo atau Letjen Ali Murtopo.

Selama menjabat, banyak sekali yang sudah dilakukan Jenderal M Jusuf. Perintah memanunggalkan kembali ABRI dengan rakyat ia terjemahkan pula berupa Program AMD (ABRI Masuk Desa). Dalam program ini, ABRI dikirim ke daerah-daerah pedesaan untuk membantu langsung pembangunan infrastruktur. Namun yang membuatnya dikenang para prajurit sampai sekarang adalah perhatian yang sangat besar bagi kesejahteraan anak buahnya. Selama lima tahun menjabat Jusuf sangat jarang berada di kantor. la terus berkeliling Nusantara menengok keadaan para tentara dan polisi. la menanyakan langsung tentang kondisi mereka dan keluarga. Tidak cuma bertanya, ia juga memberi apa yang dibutuhkan sejauh yang ia mampu.

Masyarakat umum pun menyukai liputan kunjungannya ke daerahdaerah oleh TVRI. Khususnya dialog langsungnya dengan para prajurit tentang hal-hal ringan namun secara jelas menyiratkan kedekatan:

𝑩𝒆𝒓𝒂𝒑𝒂 π’‚π’π’‚π’Œπ’Žπ’–?

π‘Ίπ’Šπ’‚π’‘, π’•π’Šπ’ˆπ’‚, 𝒋𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒂𝒍!

𝑩𝒆𝒓𝒂𝒕 π’Šπ’•π’– π’”π’†π’Œπ’π’π’‚π’‰π’π’šπ’‚. π‘°π’šπ’‚?

π‘°π’šπ’‚, 𝒋𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒂𝒍!

𝑲𝒂𝒖 π’Žπ’Šπ’π’–π’Ž (π’Žπ’†π’π’ˆπ’‰π’Šπ’”π’‚π’‘) π’“π’π’Œπ’π’Œ?

π‘Ίπ’Šπ’‚π’‘, 𝒋𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒂𝒍!

𝑨𝒑𝒂-𝒂𝒑𝒂𝒂𝒏 π’Œπ’‚π’–! 𝑺𝒕𝒐𝒑 π’“π’π’Œπ’π’Œ π’Œπ’‚π’π’‚π’– π’Žπ’‚π’– π’‚π’π’‚π’Œπ’Žπ’– π’”π’†π’Žπ’–π’‚ π’”π’†π’Œπ’π’π’‚π’‰!

π‘Ίπ’Šπ’‚π’‘, π’π’‚π’Œπ’”π’‚π’π’‚π’Œπ’‚π’ 𝒋𝒆𝒏𝒅𝒆𝒓𝒂𝒍!

Adalah Jenderal M Jusuf pula yang melipatgandakan anggaran untuk kesejahteraan para prajurit. Mutu ransum makan prajurit TNI dan Polri mengalami peningkatan drastis telur, daging dan susu yang biasanya hanya tersaji dalam acara-acara khusus, menjadi menu wajib setiap hari. Target makan 4000 kalori per prajurit per hari benar-benar diterapkan dan diawasi Bukan cuma tentaranya, keluarganya juga kebagian.

Suatu saat Jenderal M.Jusuf meninjau sebuah markas batalyon di Bogor. Mengetahui sudah dua bulan para prajurit tidak menerima jatah makanan ekstra, dimarahilah  komandan batalyon didepan anak buahnya. Alasan yang diberikan komandan itu adalah, karena mereka sudah masuk ke Paspampres.

Apa urusannya pemindahan pasukan dengan penghentian jatah makanan. "𝑼𝒓𝒖𝒔 π’Šπ’•π’– π’”π’†π’Œπ’‚π’“π’‚π’π’ˆ π’ƒπ’Šπ’‚π’“ π’Žπ’†π’“π’†π’Œπ’‚ 𝒄𝒆𝒑𝒂𝒕 π’Žπ’†π’π’†π’“π’Šπ’Žπ’‚ π’‰π’‚π’Œπ’π’šπ’‚ 𝒅𝒂𝒏 π’‹π’‚π’π’ˆπ’‚π’ π’…π’Šπ’•π’–π’π’…π’‚-𝒕𝒖𝒏𝒅𝒂 π’π’‚π’ˆπ’Š. π‘³π’Šπ’‰π’‚π’• π’‚π’π’‚π’Œ π’ƒπ’–π’‚π’‰π’Žπ’– π’Œπ’–π’“π’–π’” 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒖𝒄𝒂𝒕," katanya. Si komandan nampak gemetar. Tapi amarah Jenderal M Jusuf ternyata belum selesai. "π‘¨π’˜π’‚π’” π’Œπ’‚π’–! π‘±π’‚π’π’ˆπ’‚π’ π’‘π’‚π’Œπ’‚π’Š 𝒂𝒍𝒂𝒔𝒂𝒏 π’Žπ’‚π’„π’‚π’Ž-π’Žπ’‚π’„π’‚π’Ž. π‘Ίπ’†π’ˆπ’†π’“π’‚ π’Œπ’‚π’– π’ƒπ’‚π’ˆπ’Š π’Œπ’† π’‚π’π’‚π’Œ π’ƒπ’–π’‚π’‰π’Žπ’–!" 

Seorang perwira yang ikut menikmati fasilitas makanan ekstra ini adalah Kapten Susilo Bambang Yudhoyono. Meski harus seharian melakukan latihan fisik berat, ia dan para prajurit tetap bersemangat bahkan gembira. Sebab mereka tahu susu atau kolak kacang hijau akan menanti di barak di setiap akhir latihan nanti. 

Para prajurit benar-benar menghormati Jusuf karena sikapnya yang kebapakan. Bahkan saat meninjau barak Kopassus diCijantung, Jenderal Jusuf sampai berdialog dengan ibu-ibu di tempat jemur pakaian. Tak ada jarak antara sosok nomor satu di TNI itu dengan keluarga prajurit rendahan. 

Hal-hal ini membuatnya sangat populer di jajaran ABRI. Mulai muncul bisik-bisik miring mengenai Jusuf. Saat itu kekuasaan Pak Harto begitu kokoh. Persaingan sengit berlangsung di antara lingkaran dekatnya untuk menjadi yang paling dekat, bukan untuk menggesernya. Isu yang paling laku adalah siapa yang berpotensi menyaingi Pak Harto, biarpun peluangnya untuk berhasil sangat tipis.

Dalam sebuah pertemuan tahun 1982 di antara pejabat tinggi negara yang dihadiri Presiden Soeharto, Jenderal M Jusuf dan Mendagri Amir Machmud, kecurigaan itu meledak. Di situ dibahas kurangnya dukungan politik yang diberikan ABRI bagi Golkar dalam pemilu terakhir. Pembicaraan melebar ke soal popularitas Jusuf yang meroket di kalangan prajurit. Amir mempertanyakan soal itu. Merasa disindir dan dicurigai, Jusuf kehilangan kontrol. la marah dan menggebrak meja. la tidak diterima dicurigai, dan ia tidak mau dipersalahkan soal perolehan suara Golkar yang kurang memuaskan.

Jusuf mengatakan, "π‘Ίπ’‚π’šπ’‚ π’Šπ’π’Š π’π’“π’‚π’π’ˆ π‘©π’–π’ˆπ’Šπ’”. π‘Ίπ’‚π’šπ’‚ π’•π’Šπ’…π’‚π’Œ π’‘π’‚π’‰π’‚π’Ž π’‚π’“π’•π’Š π’Œπ’†π’Žπ’‚π’π’–π’π’ˆπ’ˆπ’‚π’π’‚π’ π’šπ’‚π’π’ˆ 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒔𝒂 π‘±π’‚π’˜π’‚ π’Šπ’•π’–. π‘Ίπ’†π’Žπ’–π’‚ π’šπ’‚π’π’ˆ π’”π’‚π’šπ’‚ π’π’‚π’Œπ’–π’Œπ’‚π’ 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 π’•π’–π’ˆπ’‚π’”, 𝒅𝒂𝒏 π’”π’‚π’šπ’‚ π’•π’Šπ’…π’‚π’Œ π’‘π’–π’π’šπ’‚ π’‚π’Žπ’ƒπ’Šπ’”π’Š". Jusuf tahu Amir cuma pion. Pak Harto lah yang tengah mempertanyakan loyalitasnya. 

Jusuf sudah tahu gerak geriknya diawasi oleh asisten intelijennya sendiri yang nantinya menggantikannya sebagai Pangab, yakni Letjen Benny Moerdani. Kecurigaan itu menyinggung perasaan Jusuf sehingga ia tidak mau lagi menghadiri sidang-sidang kabinet sampai ia meletakkan jabatan pada bulan April 1983.[]


Sumber

Buku

"Untuk Republik" Kisah-kisah Keteladanan Kesederhanaan Tokoh Bangsa.


Keterangan foto: Menhankam/Pangab sedang menginspeksi prajurit ABRI



TERTIB MENGGUNAKAN UANG NEGARA

Pada tahun 1971 Bung Hatta bersama bu Rahmi disertai Halida, putri mereka pergi berobat ke negeri Belanda dan mampir ke Austria. Sekembali dari sana, bung Hatta memerintahkan Pak Wangsa Widjaja, sekretarisnya mengembalikan kelebihan dana sisa perjalanan yang diperolehnya itu ke negara melalui Sekretariat Negara setelah membuat catatan penerimaan dan pemakaian selama perjalanan dan berapa sisanya. 

Kemudian Bung Hatta memerintahkannya membuat surat pengantar pengembalian uang perjalanan kepada Bapak Presiden dengan ucapan terima kasih.

Tapi pulang dari Sekretariat Negara pak Wangsa malah stres, pasalnya bendahara kepresidenan enggan menerimanya.

"Bendahara Setneg bilang, uang yang sudah dikeluarkan sudah dianggap sah menjadi milik orang yang dibiayai, tidak usah dikembalikan." Jelas Pak Wangsa, itu adalah "uang saku tambahan".

Bung Hatta menegur "Kebutuhan rombongan dan kebutuhan saya sudah tercukupi, jadi sisa uang.ini harus kembalikan."

Tidak terlintas di pikiran Bung Hatta sedikit pun menggunakan sisa uang untuk dirinya sendiri atau keluarganya. Beliau selalu melihat uang itu sebagai uang rakyat Indonesia dan masih banyak orang lain yang membutuhkan sisa uang itu. "Itu bukan uangku, kembalikan kepada negara." Begitu prinsip Bung Hatta


Kembalilah Pak Wangsa dengan berbagai cara memaksa mengembalikan uang sisa perjalanan rombongan itu kepada bendahara kepresidenan, dan setelah ada bukti penyerahan barulah Ayah puas. Sepulang dari Setneg Pak Wangsa berkata, "Saya jadi bahan tertawaan semua orang di Setneg."

Bung Hatta merasa tidak pantas mengambil sisanya setelah pengobatannya dibantu negara. Jadi, "uang itu adalah uang pegangan untuk berjaga-jaga seandainya kurang, tidak untuk dihabiskan semuanya. Karena itu gunakan seperlunya dan sisanya kembalikan!" Sebaliknya, pihak bendahara mengatakan bahwa sudah diperintahkan oleh Bapak Presiden RI untuk digunakan Bung Hatta, artinya untuk dihabiskan. Jangan harap Bung Hatta akan menerimanya, sampai titik darah penghabisan pun tetap saja beliau tidak akan menerimanya. Tidak perduli jumlahnya berapa. Itulah contoh orang berprinsip.[] 


(Dikisahkan oleh Gemala Rabi'ah Hatta dalam buku "Bung Hatta, di mata Tiga Putrinya)



Jumat, 16 Februari 2024

KUDETA BENNY?

Pulang ke tanah air usai mengikuti pendidikan GSG-9 di Jerman selama 22 minggu, Mayor Luhut Panjaitan dan Kapten Prabowo Subianto mengusulkan pembentukan satuan antiteror di Kopassandha.

Usul itu disetujui Letjen Benny Moerdani dan mengangkat Luhut sebagai komandan detasemen antiteror dan Prabowo sebagai wakilnya 


Menjelang Sidang Umum MPR Maret 1983, Luhut melihat anak buahnya di Den antiteror sedang siaga.

Dari penjelasan seorang anak buahnya diketahui bahwa Kapten Prabowo akan mengambil Letjen Benny Moerdani bersama perwira lain yaitu , Letjen TNI Sudharmono, MarsdyaTNI Ginandjar Kartasasmita, dan Letjen TNI Moerdiono. Dalam rencana operasi tertutup itu terdapat lima atau enam orang perwira tinggi ABRI yang akan diamankan oleh Prabowo.


Luhut Pandjaitan tidak mengerti dari mana datangnya inspirasi Prabowo untuk menculik L.B. Moerdani.

Luhut segera memanggil Prabowo. Namun, Luhut langsung ditarik oleh Prabowo keluar dari kantor.

"Ada apa, Wo?" tanya Luhut.

"Ini bahaya, Bang. Seluruh ruangan kita sudah disadap," kata Prabowo.

"Pak Benny mau melakukan coup d' etat, " kata Prabowo memberikan informasi rahasia. "Coup d' etat apa?" tanya Luhut.


Prabowo menjelaskan bahwa Benny memasukkan beberapa senjata, yang sebenarnya digunakan untuk membantu pejuang Mujahidin di Afghanistan. Prabowo juga mengatakan bahwa Benny juga melakukan penyadapan radio.

Lebih jauh Prabowo mengatakan nasib Negara akan ditentukan oleh seorang kapten dan seorang mayor yang tak lain Prabowo sebagai pemeran utama didukung oleh Luhut.


Segera Luhut menghubungi Kolonel Sintong Panjaitan yang menjadi Komandan Grup 3 Sandi Yudha di Makassar.

Sintong menyarankan agar hal itu dilaporkan ke Brigjen TNI Jasmin, Wadanjen Kopassandha. 


Tak lama kemudian Luhut dan Prabowo menghadap Brigjen TNI Jasmin. Sebelumnya, Prabowo mengatakan, "Abang harus hati-hati." Setelah Prabowo melaporkan bahwa L.B. Moerdani akan melakukan coup de etat, Pak Jasmin tidak percaya. 

Prabowo pun marah-marah. "It must be something wrong with him," pikir Luhut. Setelah Luhut dan Prabowo keluar dari ruangan, Jasmin memanggil Luhut kembali masuk ke ruangan.

"Hut, untung kamu ada di sini. Ada apa dengan Prabowo? Coba kamu amati. Kayaknya dia sedang stres berat," ucap Jasmin.

"Pokoknya kamu tahan pasukanmu! Jangan ada yang bergerak," perintah Jasmin.

"Siap! Sudah Pak. Itu sudah pasti," jawab Luhut untuk meyakinkan.


Pulang dari menghadap Brigjen Jasmin, Prabowo mengatakan tidak boleh ada matahari kembar di Den 81 antiteror.

"Di Den 81, hanya saya yang menjadi matahari. Saya komandan. Kamu wakil saya," tegas Luhut.

"Sekarang ini kamu mau menggerakkan pasukan Den 81. Sebagai komandan, saya yang bertanggung jawab," lanjut Luhut.

"Kamu minta saya mengambil Soeharto ke sini. Itu melakukan by pass garis komando berapa jauh?" sambung Luhut.

Sejak saat itulah hubungan antara Prabowo dengan Luhut menjadi retak.


Luhut kemudian menemui Profesor Soemitro, ayah Prabowo bahwa putranya akan diberikan cuti selama dua minggu. la mengatakan, Prabowo agak stres karena terjadinya situasi yang kurang pas di Cijantung. Prof Soemitro menjawab ia dapat memahaminya.


Dalam inspeksi Wakil Komandan Jenderal Kopassandha Brigjen TNI Jasmin ke Grup 3/Parako di Makassar beberapa waktu kemudian, Sintong ditanya Jasmin, apakah ia sudah mendengar tentang kasus Prabowo. Sintong menjawab ia belum tahu. "Prabowo sudah lain sekarang, karena ia dekat dengan Soeharto," kata Jasmin. Menurut Jasmin, Prabowo mengatakan kepadanya bahwa L.B. Moerdani akan melakukan coup de' etat, sehingga negara dalam keadaan gawat. Sebab itu Prabowo akan melakukan gerakan pasukan untuk menangkap

L.B. Moerdani dan beberapa perwira tinggi lainnya.


Sepuluh hari kemudian Luhut dipanggil L.B. Moerdani yang menjadi Asisten Intelijen Hankam, ingin mengetahui kemajuan latihan Den 81.

Luhut lalu melaporkan pelaksanaan latihan yang telah dilakukan. Namun, kemudian Moerdani bertanya.

"Ada apa kamu di Cijantung minggu yang lalu?" 

"Sedikit di Republik ini yang saya nggak tahu, tetapi dalam masalah ini Luhut yang tahu," lanjut Moerdani.

"Siap! Terima kasih kalau Bapak sudah tahu. Sudah selesai, Pak," jawab Luhut singkat.

"Baiklah, kalau begitu," jawab Moerdani.

Sesudah itu Luhut tidak pernah ditanya tentang hal itu oleh Moerdani karena episode yang hanya berlangsung selama satu setengah hari itu sudah berakhir.[]


Sumber:

1.Buku "Perjalanan Seorang Prajurit PARA KOMANDO"

2.https://koran-jakarta.com/geger-di-markas-kopassus-tahun-1983?page=2



SUAMI DENGAN TIGA CINTA

1904 Nest, demikian panggilan EFE Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije dan memperoleh 5 anak, dua diantaranya laki-laki mening...