Kamis, 30 Maret 2023

ASMARA SIBI DAN MEISKE

 







Tahun 1931, Siti Sjahrizad harus kembali ke Hindia Belanda. Kepulangan sang Kakak--tempat dia menumpang sejak 1929-- membuat Sjahrir kemudian tinggal di apartemen Salomon Tas, wartawan berhaluan kiri yang juga ketua Perkumpulan mahasiswa Sosialis Demokrat, yang merupakan kawan dekatnya.
Di apartemen, Tas tinggal dengan isterinya, Maria Johanna Duchateau bersama dua anak mereka.Tinggal pula disana, teman perempuan Maria, Judith Van Wamel.
Tas, Maria, Sjahrir dan Judith mempunyai kesamaan: suka sastra, film bermutu dan musik serta menghadiri pertemuan politik di bar Americain, Amsterdam.
Perkawanan itu ternyata melahirkan asmara antara Sjahrir dan Maria.
Kesibukan Tas untuk politik membuat pernikahannya gersang, disamping kedekatannya dengan Judith yang makin akrab.
Sjahrir serius menjalin cintanya dengan Maria , bahkan berniat membawa pulang ke Hindia. Karena harus mengambil alih pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia, Sibi--begitu Maria memanggil-- memutuskan pulang terlebih dahulu. Kepada Meiske-- panggilan sayang kepada Maria, Sjahrir mengatakan bisa membantu kaum perempuan di bidang pergerakan.
April 1932 Maria bersama 2 anaknya bertemu Sjahrir dan pada tanggal 10 bulan yang sama mereka menikah di sebuah masjid di Medan.
Sebulan kemudian, Polisi menyelidiki dokumen Maria dan ditemukan data bahwa statusnya masih isteri dari Tas, aktivis gerakan anti kolonialis.
Lima pekan setelah akad, pada 5 Mei 1932, pernikahan Sjahrir dibatalkan oleh pemuka agama setempat dan lima hari kemudian Maria dipulangkan ke Belanda. Yang membuat hati Sjahrir sedih, Maria tengah mengandung anaknya.
Keinginan Sjahrir untuk menyusul isterinya mendapatkan banyak halangan. Namun mereka masih sempat saling berkirim surat dengan lancar. Dari surat Maria juga diketahui meninggal nya anak mereka saat dilahirkan.
Direncanakan Sjahrir akan berangkat ke Belanda pada Maret 1934 dengan bekal uang kiriman dari Maria.
Tapi kemudian Sjahrir ditangkap dan ditahan sehingga gagal semua yang direncanakan. Meski demikian surat surat mereka berjalan dengan hangat.
Dua tahun kemudian, 2 September 1936 mereka menikah kembali secara jarak jauh, Sjahrir yang berada di Bandaneira diwakili oleh pelukis Salim. Namun pernikahan jarak jauh tersebut suasana yang tidak sehat dan penuh ketegangan.
Sjahrir kemudian meminta Maria menyusul ke Bandaneira. Keinginan itu gagal , karena Maria tidak mempunyai cukup uang untuk berangkat.
Akhir 1939 Maria sudah mempunyai bekal untuk menyusul Sjahrir, namun tidak ada lagi kapal yg menuju Hindia Belanda. Perang Dunia kedua berkobar.Kembali mereka hanya berhubungan dengan surat-menyurat...

Waktu berlalu

Sjahrir berkiprah di Indonesia sebagai Perdana Menteri.

Saat ada pertemuan di India, Nehru mempertemukan Sjahrir dan Meiske. Namun Sjahrir saat itu sudah akrab dengan sekretarisnya, Poppy. Usai perjumpaan di India, Sjahrir menceraikan Meiske dengan resmi dan menikah dengan Poppy. Maria Duchateau lalu menikah dengan Sutan Sjahsjam, adik dari Sjahrir dan ikut membesarkan dua anak Maria dari pernikahannya dengan Solomon Tas.[] 


Dari buku
SJAHRIR
Peran besar bung Kecil

Rabu, 29 Maret 2023

HUKUMAN PENYULAAN

 


Batavia 1769
Seorang budak Macasser (Makassar) telah ditangkap karena membunuh majikannya.Pada pagi hari, terpidana digiring ketempat eksekusi di sebuah lapangan rumput dan diletakkan tengkurap serta dipegangi empat orang pria.Seorang algojo lalu mengiris bagian bawah tubuhnya.Kemudian sebuah penyula berupa besi runcing sepanjang enam kaki ditusukkan melalui irisan tersebut dan ditelusupkan diantara kulit dan tulang belakang.Dua orang lalu menyodokkan tongkat besi itu sepanjang tulang belakang, sementara algojo memegang ujungnya untuk mengarahkan ke posisi yang tepat,yaitu menembus keluar antara leher dan bahunya.Ujung bawah tongkat lalu dimasukkan kedalam tiang kayu dan segera dipaku,dan terpidana lalu diangkat, sehingga dalam posisi tersula,dan tiang kayu tertancap kedalam tanah.Berikutnya diletakkan 10 kaki dari tanahe semacam bangku penyangga tubuh terpidana.
Ketahanan dan ketabahan terpidana sungguh luar biasa.Dia tidak mengeluh sedikitpun, kecuali saat tongkat dilakukan ke pilar,getaran yang ditimbulkan saat palu dipukulkan ke tiang tampaknya tak tertahankan baginya,dan dia berteriak kesakitan,juga saat dia diangkat dari tanah.Dia duduk dalam posisi mengerikan sampai kematian mengakhiri siksaan ini, yang untungnya terjadi pada hari berikutnya pada jam tiga sore.Kematiannya datang lebih cepat berkat hujan yang turun sekitar satu jam,dan dia mati setengah jam kemudian

Dari buku
SEJARAH TANAH JAWA

Senin, 27 Maret 2023

ANTARA CARMEN, IMELDA DAN FERDINAND

Pada tahun 1950 Carmen Ortega yang cantik bertemu Ferdinan. Carmen gadis desa yang miskin dari Ilocos. Saat perempuan itu mengikuti kontes Ratu Foto, Ferdinand menawarkan diri menjadi sponsor. Setelah itu, mereka hidup bersama di rumah yang ditempati juga oleh ibunya.Di sekitar kota, Carmen dikenal sebagai Nyonya Marcos. Pengumuman tentang perkawinannya dengan Carmen muncul dalam pers Manila, tetapi tampaknya tidak pernah ada upacara perkawinan sipil atau gereja. Sebagi istri, Carmen tidak bernilai apa-apa dalam politik, keluarganya tidak mempunyai pengaruh politik, kecuali di sekitar rumahnya di La Union.


Usai bertemu saat pesta es krim di gedung Kongres Manila pada April 1954, Ferdinand mengganggu Imelda dengan telepon, kiriman bunga dan kunjungan sehingga ia pergi ke Baguio untuk memperingati Minggu Kudus.

Pada hari Jumat Agung, Imelda membuat satu keputusan penting dalam hidupnya. Tanpa konsultasi dengan siapa pun, dengan keluarga atau kawan-kawannya, ia menandatangani surat kontrak perkawinan dengan Ferdinand. Persiapan acara pelaksanaan perkawinan memerlukan waktu tepat sebelas hari. Pada hari Sabtu Kudus mereka melangsungkan upacara perkawinannya di hadapan hakim di Baguio.

Ferdinand memberikan kepada Imelda pita perkawinan terbuat dari emas putih dengan dengan sebelas butir berlian yang melambangkan sebelas hari pacaran.

Perkawinan gereja besar-besaran diadakan di San Miguel Pro-Cathedral di Manila tanggal 1 Mei 1954. Gaun pengantin Imelda yang didesain oleh perancang mode terkenal, Ramon Valera, terbuat dari kain halus nilon dan satin putih. Roknya dipenuhi hiasan berbentuk daun yang berkelap-kelip penuh mutiara dan batu permata. Kelompok keluarga Imelda, Romualdez merasa canggung dengan semua kemegahan ini; saudaranya Conchita mengakui bahwa "ini adalah perkawinan politik." Banyak senator dan anggota Kongres yang hadir.

Ferdinand tidak membuang waktu, dan segera memboyong Imelda ke luar kota untuk bulan madu singkat di Baguio.

Imelda mengetahui reputasi Ferdinand sebagai pria yang menyenangi wanita, namun ia tidak tahu bila ia sudah mempunyai istri dan tiga anak, dua laki-laki dan seorang perempuan dari Carmen Ortega, satu-satunya istri Ferdinand yang sah menurut hukum. Sedangkan dengan Imelda hanya sebagai perkawinan politik.


Meski sudah ada Imelda disampingnya, Ferdinand masih mengunjungi Carmen secara rahasia. Dengan mengerahkan keberaniannya, Imelda pergi ke Green Hills, tempat tinggal Carmen dan memintanya berhenti "menghibur" Ferdinand karena akan menghancurkan perkawinan dan kebahagiaannya. Jawaban Carmen sangat mengena: Imeldalah yang telah menghancurkan kebahagiaannya. Carmen baru saja hamil untuk anak keempatnya; kehamilan ini terjadi sejak perkawinan Ferdinand dengan Imelda.

Keberadaan Carmen diantara Imelda dan Ferdinand Marcos membuat Imelda terpukul. Khawatir akan keadaan mentalnya, dengan alasan bulan madu kedua, Marcos membawa Imelda ke Presbyterian Hospital di New York untuk menjalani perawatan selama tiga bulan.

Loreto, psikiater di New York itu memberikan pilihan sederhana kepada Imelda: meninggalkan suaminya atau tetap bersamanya. Bila memutuskan untuk tetap bersama Ferdinand Marcos, Imelda harus melakukan yang terbaik.[]


Sumber:

Buku "Dinasti Marcos" Korupsi Harta dan Kekuasaan di Filipina

Keterangan foto: Marcos bersama keluarga 




Minggu, 26 Maret 2023

PERSAHABATAN SIPIR DAN NARAPIDANA

 Lewat tengah malam, James Gregory menerima telpon yang mengabarkan kematian anaknya karena kecelakaan. Begitu sedihnya hingga sulit dihibur dengan duka tersebut. Enam hari setelah pemakaman Greg kembali bekerja untuk mengalihkan dukanya dan kembali bertemu dengan sahabatnya . "Waktu memang akan menyembuhkan luka fisik, tapi sulit untuk menyembuhkan luka yang tak kasat mata" demikian kata sahabatnya . Ternyata-Nelson- kawannya itu pernah mengalami hal yang sama,kehilangan anak dan Greg yang memberikan hiburan.

James Gregory berasal dari Skotlandia dan dibesarkan di Utara Afrika dan saat kecil berteman dengan Bafana, bocah Zulu.
Usai SMA Greg bekerja sebagai Polisi di Cape Town. Tahun 1966, dia ditugaskan di penjara pulau Robben, sebuah penjara yang terkenal akan kekejamannya: makanan buruk, orang berjejalan pelecehan verbal dan fisik. Para penjaga diketahui sering mengencingi makanan tahanan. Tahanan ditanam sampai batas kepala, dan penjaga mengencingi kepalanya.
James Gregory diperkenalkan dengan para tahanan yang akan ia awasi, agar ia selalu menjaga jarak, sikap serta perkataan
"Baiklah Gregory, ayo kita temui para kafir"

Nelson Mandela sedang berbicara dengan kelompoknya dan membelakangi Gregory saat diperkenalkan.
Mandela berbalik, memandang langsung ke matanya, dengan senyum dan sopan dia berkata "Selamat pagi, selamat datang di pulau Robben"
Dan untuk alasan yang tak dimengerti Gregory pun membalas salam itu dengan ramah. Berawal dari kesopanan, keberanian dan kebenaran Nelson Mandela membangkitkan kenangan persahabatan masa kanak-kanak Gregory dengan Bafana.
Selama 23 tahun berikutnya, di berbagai penjara, keakraban mereka tumbuh. Gregory mulai mengerti keadilan dari perjuangan Mandela dan bersimpati. Persahabatan yang tulus antara tahanan dan penjaga. Di tahun-tahun berikutnya di sebuah penjara di Afrika Selatan, Gregory pernah membawa Mandela dalam bagasi mobilnya keluar gerbang penjara ke dunia luar untuk sebentar menikmati kebebasan.
Th 1990, saat Mandela bebas, mereka berangkulan dan mandela menyelipkan sebuah surat kesaku Gregory:"Saat-saat indah yang telah kita habiskan bersama selama 2 dekade berakhir hari ini.tetapi engkau akan selalu ada dalam ingatanku "Gregory menangis saat melihat temannya keluar meninggalkan gerbang penjara dan mengangkat kepalan tangannya sebagai salam pada kerumunan orang yang menyambut Mandela.
Tiga tahun kemudian Gregory berbahagia, saat dari tempat duduknya di bagia tamu khusus, melihat Nelson Mandela dilantik sebagai Presiden pertama Afrika Selatan yan terpilih secara demokratis.
............

Disarikan dari buku
"KARAKTER-KARAKTER YANG MENGGUGAH DUNIA"
Keterangan foto: Nelson Mandela bersama James Gregory


Sabtu, 25 Maret 2023

THE FALL OF SAIPAN

Sembilan hari setelah Eisenhower mendarat di pantai Normandia, Prancis, pada pagi hari tanggal 15 Juni 1944 dua divisi Korps Marinir dengan 40.000 tentara mendarat di Saipan.

Segera pasukan Jepang pimpinan Letjen Yoshitsugu Saito dengan 32.000 tentara menyambutnya.

"Hancurkan musuh di pantai!", demikian perintah Saito.

Maka pecahlah pertempuran pantai itu.Posisi Jepang yang berada di ketinggian dan tersembunyi membuat Amerika terdesak.Dengan menggunakan meriam dan mortir, Jepang membuat pasukan invasi banyak kehilangan korban.Perwira yang maju untuk memberi semangat banyak yang gugur dan segera digantikan second in command.Bila ia kemudian gugur, diganti dengan yang ketiga sehingga akhirnya terdapat sebuah peleton yang dipimpin seorang sersan atau kopral.

Saipan yang rencananya akan direbut dalam waktu seminggu, ternyata berlarut-larut  sampai 24 hari .Jepang yang tidak bisa mendapat bantuan karena laut dikuasai Amerika, makin terdesak posisinya.

Setelah Amerika merebut gunung Tapotchau dan mendesak serta menjepit sisa-sisa pasukan Saito diujung Utara Saipan,barulah Saito mengirim kabar kepada jendral Tojo di Tokyo agar menyampaikan permintaan maafnya kepada Tenno Heika dan akan mempertahankan Saipan sampai pasukan terakhir.

Catatan harian seorang perwira staf jenderal Saito mengatakan.

Mendapati kondisi terakhir pasukannya, jenderal Saito mengadakan konferensi rahasia yang memberikan pilihan mati di gua-gua atau bertempur habis-habisan.Selama empat hari perintah ini disiarkan.Semua orang mengumpulkan miliknya, kemudian dipersiapkan pesta makan terakhir untuk jenderal Saito yg juga dihidangkan sake dan daging kepiting dalam kaleng.

Pesta itu diadakan karena jenderal Saito yang sudah tua tidak ikut dalam serangan Banzai dan memutuskan untuk harakiri.

Sesuai dengan rencana, tepat pada pukul 10 pagi,7 Juli Saito melakukan harakiri yang dipercepat penderitaannya oleh seorang ajudannya dengan menembak kening jenderal itu.

Setelah itu,ia bergabung dengan 3.000 kawannya untuk menyerang.

Laksamana Nagumo, atasan Saito juga melakukan hal yg sama dengan menyobek perutnya dan dipercepat kematiannya oleh ajudannya dengan sebuah tembakan dibelakang kepalanya.

Datang setengah juta selebaran himbauan dari Amerika kepada penduduk sipil pulau Saipan dengan janji akan memperlakukan tawanan sesuai konvensi Jenewa. Tapi beberapa ratus penduduk lebih memilih meledakkan dirinya dengan granat pada perut, dada atau pada kepalanya.

Berikutnya adalah pemandangan yang membuat tentara Amerika terpana: 

Laki-laki, perempuan, anak-anak saling merangkul untuk kemudian terjun bersama dari tebing karang (clifft) yang tinggi.Ibu melemparkan bayinya kebatu karang di jurang yang dalam,  kemudian menyusul terjun. Anak-anak berusia tujuh tahun saling melempar granat tangan.

Berikutnya 100 orang Jepang berdiri pada batu karang ditepi laut. Mereka lalu membungkukkan badan kepada tentara marinir Amerika yang melihat dari sebuah bukit.Lalu mereka mandi , ganti baju dan membentangkan bendera Jepang berukuran besar diatas sebuah batu karang yang datar. Kemudian salah seorang membagikan kepada mereka granat tangan. Dengan itu mereka satu persatu melakukan harakiri.

Hanya 921 militer Jepang, termasuk 17 perwira membiarkan dirinya ditawan. Penduduk sipil Jepang yang ditawan lebih dari 10.000. Yang melakukan harakiri tak bisa dipastikan, tetapi paling sedikit ada 1000 orang.


Keterangan foto: tebing bunuh diri (Banzai Cliff) pulau Saipan


Dari buku

PERANG PASIFIK



Kamis, 23 Maret 2023

 

"DARI DALAM KUBUR, SUARAKU TERDENGAR LEBIH KERAS"


Hongkong, 1932

Dengan menggunakan nama Ong Soong Lee, saya tiba di Kowloon, kota diseberang Bandar Hongkong.

Namun rupanya kedatangan saya sudah diketahui oleh Polisi Rahasia Inggris yang menugaskan dua orang agennya untuk menangkap. Kemudian saya diseberangkan ke Hongkong untuk ditahan.

Suatu saat, ketika dalam kamar tahanan saya dipanggil ke kantor oleh kepala inspektur Murphy. Diberitahukan kepada saya bahwa Hindia Belanda mengirimkan wakilnya ke Hongkong, yaitu Viesbeen yang bekerja pada PID. Dia meminta kepada pemerintah Hongkong untuk menginterview saya. Saat Murphy menyampaikan hal tersebut, saya menolak.

Supaya ada kesan pemerintah Hongkong tidak menyampaikan permintaan Viesbeen, maka melalui Murphy dilakukan beberapa tanya  jawab terhadap saya.

Usai wawancara tidak langsung itu, lalu Murphy bertanya kepada saya apakah yang saya mau katakan atau tanyakan. Saya menjawab "Ingatlah, bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada diatas bumi"

Murphy menyuruh mencatat itu kepada sekretaris yang mendampingi.

"Apakah ada lagi, yang tuan katakan?"

Saya sampaikan kepada pemerintah Hindia Belanda peringatan saya "Storm ahead, don't lost your head" (Topan didepan, jangan kehilangan kepala)

Kalimat ini mengandung dua arti: jangan kehilangan akal dan jangan kehilangan kepala karena dipenggal.

Belakangan Viesbeen mendesak pemerintah Hongkong untuk diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda setelah terbukti saya masih hidup. Rupanya pemerintah Hindia Belanda ingin membuktikan bahwa kabar kematian saya di beberapa negeri tidak benar. Dan saya katakan "Dari dalam kubur suara saya terdengar lebih keras" itu memang sebuah kesiapan saya untuk menghadapi segala kemungkinan demi Indonesia.

Beberapa saat kemudian Murphy diganti dengan petugas lain bernama Thomson yang kemudian akan mengirim saya ke Shanghai.

Sebuah kapal kepunyaan seorang kongsi Inggris disiapkan untuk membawa saya ditemani seorang Inggris yang dikenalkan sebagai "pegawai" Konsul Inggris di Amoy.

Demikianlah akhirnya sesudah meringkuk didalam penjara Inggris, lebih kurang 2 bulan lamanya, pada akhir Desember 1932 saya bertolak dari Hongkong menuju Shanghai, ke bandar yang dikuasai oleh imperialis dan tak lebih aman buat saya daripada di Hongkong.

Seakan-akan saya menuju perangkap. Biarlah para konspirator bersuka cita. Tunggu sajalah saya di Shanghai.

(Memoir Tan Malaka di Hongkong)


Dari buku

"Dari Penjara ke Penjara"

Rabu, 22 Maret 2023

PENARI JAWA DI PARIS EXPO 1889

l'Exposition Universelle (Pameran Semesta) diselenggarakan untuk memperingati seabad Revolusi Prancis pada 6 Mei sampai 31 Oktober 1889.

Umumnya pesertanya dari negara-negara jajahan Prancis, namun kali ini Belanda sebagai negara asing diberi kesempatan untuk membuka beberapa paviliun.

Paviliun Hindia Belanda ini dinamakan dengan Le village javanais (Desa Jawa) atau Le Kampong Javanais. 

Di paviliun ini, pengunjung dapat melihat dari dekat bagaimana masakan Jawa disiapkan oleh mbok Predi yang langsung didatangkan dari Jawa. Terdapat pula pembuatan topi bergaya Jawa, dan tiga bangunan khas Jawa, yaitu gubuk panggung, lumbung padi dan warung minum bergaya pagoda Jawa.

Namun, ada yang banyak menarik perhatian para pengunjung, yaitu tampilnya para penari Jawa.

Sebelumnya, pernah beredar di Belanda kartu pos yang menampilkan foto penari setengah telanjang (hanya mengenakan kain sebatas dada). Jadilah khalayak Prancis penasaran ingin melihat penari itu secara langsung selama enam bulan pameran itu digelar.

Berbagai komentar datang seusai pementasan tari itu yang mampum menarik 875.000 pengunjung. Mereka terpesona oleh gemulai dan gerak tari yang ekpresif dari para penari yang baru berusia dua belas hingga enam belas tahun.

Para penari itu terdiri dari enam orang, yakni lima wanita dan seorang pria. Pria berada di belakang. Dari para penari itu tersebut nama Sarikem, Tuminah, Sukiyah, dan Wakiyem sebagai penari yang berparas elok. Para penari tersebut merupakan kawula Gusti Kanjeng Pangeran Arya Mangkunegara. Mereka dipilih dari total 60 penari yang dimiliki Pura Mangkunegaran, Surakarta.


Sumber :

1.Buku "Sejarah Kecil Indonesia-Prancis 1800-2000

2.https://luk.staff.ugm.ac.id/itd/Jawa/01.html


Keterangan foto: penari Jawa yang tampil di Paris Expo 1889



SUAMI DENGAN TIGA CINTA

1904 Nest, demikian panggilan EFE Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije dan memperoleh 5 anak, dua diantaranya laki-laki mening...