Kamis, 29 Juni 2023

AKHIR DARI SANG RUBAH GURUN

Pukul 12 siang 14 Oktober 1944.

Saat Rommel kembali dari jalan-jalan bersama anaknya, Manfred datanglah dua orang tamu.

Mereka diperkenalkan dengan keluarga Rommel sebagai jenderal Wilhelm Burgdorf dan jenderal Ernst Maisel. Kedua tamu itu lalu masuk ke ruang kerja Rommel. Satu jam kemudian Maisel keluar dan beberapa menit kemudian Burgdorf menyusul.

Tak lama kemudian, Rommel menceritakan pertemuannya dengan dua jenderal tadi kepada Manfred.

Berikut penuturan Manfred yang juga anggota Pasukan Artileri Anti serangan Udara yang saat itu sedang izin cuti guna merawat ayahnya:

..........

+ Baru saja saya beritahu ibumu, bahwa saya harus mati dalam seperempat jam lagi. Memang sakit rasanya mati ditangan bangsa sendiri. Namun, rumah kita sudah dikepung, dan Hitler menuduh saya melakukan pengkhianatan tingkat tinggi. Saya diberi kesempatan mati dengan racun. Kedua jenderal itu membawa kapsul sianida yang akan mematikan dalam tiga detik. Jika saya mau , tidak ada apapun dilakukan atas keluarga termasuk kamu. Mereka juga membiarkan staf saya hidup.

-- Ayah percaya?

+ Tentu. Saya tahu pasti mereka tidak ingin persoalan ini sampai keluar.

-- Tidak bisakah kita melawan?

+ Tidak mungkin. Lebih baik satu saja yang mati daripada semuanya. Lagipula kita tidak punya cukup amunisi. Sekarang panggilkan Aldinger (Ajudan)

Segera saya memanggil Ajudan yang segera berlari naik tangga. Ia juga langsung pucat pasi mendengar penjelasan Ayah. Namun, kembali ditegaskan tidak ada gunanya melawan.

+ Semua sudah diatur hingga detail. Saya akan dimakamkan secara militer. Saya sudah minta untuk dimakamkan di Ulm. Seperempat jam lagi, kamu, Aldinger, akan menerima telepon dari Rumah Sakit Wagnerschule di Ulm yang mengabarkan kalau saya terkena stroke otak dalam perjalanan rapat.

Ayah melihat jam dan berkata, "Saya harus pergi. Mereka hanya memberi waktu 10 menit" Iapun langsung keluar.

Kami sempat membantunya mengenakan mantel kulit.

Kami berjalan keluar rumah. Suara tapak kaki ke tanah liat terdengar lebih nyaring dari biasanya. Kedua jenderal berdiri di gerbang. Mereka memberi hormat saat kami mendekat. "Tuan Marsekal Medan" kata Burgdorf.

Mobil pun bersiap. Pengemudi membukakan pintu dan memberi hormat. Ayah memegang tongkat kehormatan Marsekal Medan. Ia menyalami saya dan Aldinger sebelum masuk ke mobil.

Kedua jenderal masuk ke mobil dan pintu ditutup. Ayah tidak menengok lagi saat mobil bergerak dan menghilang dibalik tikungan. Saya dan Aldinger kembali ke rumah.

Dua puluh menit kemudian telepon berdering.Aldinger mengangkat dan mendapat kabar Ayah sudah meninggal.

Tak jelas apa yang terjadi sesungguhnya saat Ayah meninggalkan kami. Belakangan diketahui mobil itu berhenti di bukit yang terbuka beberapa ratus meter dari rumah kami. Pasukan Gestapo yang didatangkan khusus dari Berlin mengawasi area itu dengan instruksi menembak mati Ayah dan menyerbu rumah kami jika ayah melawan. Maisel dan pengemudi keluar dari mobil, meninggalkan Ayah dan Burgdorf di dalam. Saat pengemudi diperbolehkan kembali setelah 10 menit, ia melihat Ayah sudah tertunduk, topinya lepas, dan tongkat kehormatan Marsekal Medan pun jatuh dari tangannya.

............


18 Oktober dilangsungkan upacara militer penghormatan terakhir pada Marsekal Medan Erwin Rommel yang dipimpin oleh Marsekal Medan Gerd von Runstedt. Tidak ada yang tahu bahwa Rommel meninggal karena dipaksa bunuh diri menelan racun. Tapi laporan resmi menyebutkan bahwa ia meninggal karena stroke otak.

Jenazah Rommel dikremasikan dan abunya dimakamkan di Herrlingen.


Dari buku

MENANTANG DIKTATOR

Konspirasi Rahasia Anti Hitler



SEDERHANA DAN PANDAI MEMASAK

Suatu hari,tahun 1973 saya dipanggil sekretaris militer Presiden,Mayjend Tjokropranolo.Saya diberi tahu bahwa saya ditugaskan sebagai ADC (ajudan) Sri Sultan Hamengku Buwono lX yang baru saja dilantik menjadi Wakil Presiden RI.Pak Nolly berpesan agar saya bertugas sebaik mungkin.Untuk itu saya melengkapi diri dengan berbagai informasi tentang Sri Sultan HB IX dari berbagai sumber.

Saat mulai bertugas,saya bersikap sebagaimana seorang ADC yang siap ngladeni Wakil Presiden.

Ketika tim dokter kepresidenan memutuskan untuk menindaklanjuti kondisi mata Wakil presiden, maka dirujuklah "Eye and Ear Infirmary Hospital", Boston dan berangkatlah kami ke sana.

Untuk keperluan itu,maka Wakil presiden harus dirawat inap guna keperluan observasi.Saya bersama Dr.Sarengat, dokter pribadi Sultan beserta prof.Salim tinggal di hotel Holiday inn yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tersebut.

Selama itulah saya melakukan pekerjaan rutin ngladeni dengan membawakan kaus dan celana dalam untuk ganti.

Sungguh mengharukan, ketika saya membawa pakaian dalam yang kotor dan harus dicuci, saya dapati kaus dalam yang dipakai beliau adalah kaus cap Lombok yang murah meriah.Selain itu, nampak jelas ada beberapa lubang pada kaus tersebut.

Memang, saya merasakan sikap Sri Sultan kalau beliau berada di luar negeri, Beliau melepas batas-batas protokoler,baik sebagai Wakil presiden maupun sebagai Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Usai observasi,kami semua dipindahkan ke sebuah Apartemen.Beliau meminta kepada Ibu Nicklany,istri DCM (Deputy Chief de Mission) KBRI Washington untuk belanja karena beliau ingin memasak.Ketika semuanya sudah siap, tiba-tiba Sultan bertanya kepada saya,"Pak Muhtaryono,steaknya mau medium atau Welldome?"

Saya kaget.Maka  saya segera berdiri dan menjawab,"Mohon saya mau medium saja..."

Tawaran serupa ditanyakan kepada bapak-bapak dan ibu-ibu yang lain.Setelah steak selesai dimasak dan saya makan, dagingnya benar-benar perfectly medium dengan cita rasa tidak kalah dengan masakan chef profesional hotel besar.

Observasi dan pengobatan selesai,kami langsung ke New York dan kami menginap di hotel Waldorf Astoria -sebuah hotel mewah di kota tersebut.

Kamar ADC mempunyai connecting door dengan guest room, yang berhubungan langsung dengan kamar Wapres.Saya kagum ketika KBRI Washington menjadwalkan pertemuan wapres dengan sejumlah pengusaha Amerika serikat, beliau tidak canggung menjelaskan kebijakan pemerintah Indonesia di bidang politik, ekonomi dan keamanan dengan lancar selama hampir dua jam dalam bahasa Inggris tanpa teks.


(Diceritakan oleh Muhtaryono, Laksamana (Purn), Ajudan Sultan HB lX)


Dari buku

SEPANJANG HAYAT BERSAMA RAKYAT



AKHIR DARI SANG LEGENDARIS

Tahun 1931, Al Capone didakwa atas kasus penggelapan pajak penghasilan dan berbagai pelanggaran konstitusi. Meski dibela oleh pengacara handal, namun hakim ketua telah memberikan peringatan bahwa dia tidak mungkin mendapatkan keputusan tidak bersalah. Capone berusaha menyuap calon juri, tapi orang-orang Elliot Ness mengetahui dan segera mengganti sehingga Capone tidak berkutik.

Hakim memberinya hukuman sebelas tahun ditambah denda US $ 50.000 ditambah biaya pengadilan. Permintaan bandingnya ditolak.
Pada Mei 1932, Capone dikirim ke penjara di Atlanta meskipun mendapatkan hak-hak istimewa. Kemudian ia dipindahkan ke penjara Lincoln Heights, hingga akhirnya masuk Alcatraz. Disana terdapat sistem keamanan dimana Capone tidak dapat berkomunikasi dengan dunia luar.
Meskipun Capone mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, tapi kesehatan tetap memburuk. Ia terdiagnosis Sifilis dan belum ada pengobatan yang mampu menanganinya. Ia menghabiskan setahun perawatan di rumah sakit penjara. Masa tahanannya berakhir pada 6 Januari 1939 dan dipindahkan ke penjara federal California, untuk menjalani masa tahanan selama setahun. Al Capone bebas pada 19 November 1939.
Selepas dari penjara, Capone tidak dapat kembali seperti semula. Hal ini membuat Gang Outfit terbengkalai dan makin terpuruk. Capone makin terlihat kurus dan mentalnya terkikis oleh penyakit Neurosifilis. Dia sering mengoceh tentang komunis, orang-orang yang tidak dikenal, dan George Moran, sosok yang dibunuhnya.
Pada 21 Januari 1947, Capone mengidap stroke. Beberapa waktu kemudian, ia sadar dan mulai membaik tetapi tertular pneumonia pada 24 Januari. Sehari kemudian ia mendapat serangan jantung yang mengakhiri hidupnya.
Al Capone dimakamkan di Mount Oliver Cemetery, Chicago diantara makam ayahnya dan Frank, saudaranya. Namun, pada bulan Maret 1950, makam ketiganya dipindahkan ke Mount Carmel Cemetery, di Illinois

Dari:
1.Buku "My Name is Capone!"

2.https://internasional.kompas.com/read/2019/01/24/23441481/biografi-tokoh-dunia-al-capone-gangster-paling-dikenal-di-amerika?page=3



SEBUTIR PELURU UNTUK BIG JIM

Giacomo Colosimo lahir tahun 1877 di Calabria, daerah selatan Italia yang miskin dan keras.

Tahun 1895 keluarga Colosimo hijrah ke Amerika Serikat dan tinggal di Chicago.

Mereka diam di First Ward, daerah terkorup di kota tersebut dimana terkenal dengan daerah  'lampu merah' nya.

Bisnis prostitusi di kawasan itu dikuasai oleh dua orang anggota Mafia, Michael Kenna dan  John Coughlin. Duet itu bisa dengan teratur mengirimkan banyak suara kepada para kandidat dari kedua partai di hari pemilu.

Giacomo yang mengamerikakan namanya dengan julukan"Big Jim" dengan reputasinya sebagai pencuri, germo, pelaku bisnis pemerasan (Black Hand) segera diberikan posisi sebagai 'bagman' (pengumpul uang bayaran dari rumah bordil dan para penjaga bar) oleh duet Kenna- Coughlin.

Maraknya bisnis prostitusi menjadikan lahan baru, yaitu perdagangan budak putih atau penyediaan wanita muda untuk keperluan tersebut. Dan Big Jim ikut terjun disitu. Nama Colosimo beberapa kali tersangkut perbudakan putih, tapi dia selalu lolos dari jerat hukum.

Hidup Big Jim semakin makmur dan lancar di industri prostitusi ini, sehingga pada 1910 perlu menyewa seseorang untuk membantunya, termasuk melindungi dari teror 'black hander'. Dan tibalah Johny Torio, orang yang membantu itu ke Chicago. Torio juga adalah sepupu dari isteri Big Jim, Victoria Moresco, yang namanya diabadikan pada salah satu rumah bordil kelas atasnya: "Victoria's".

Dengan adanya John Torio, maka hidup Big Jim semakin menyenangkan dan masa keemasan itu terjadi pada 1910 - 1920.

Jim kemudian bertemu dengan Dale Winter, gadis rupawan berusia 19 tahun yang jadi penyanyi di salah satu klub miliknya dan menikahinya.

Kekesalan John Torio kepada Big Jim bukan karena diceraikannya Victoria, tapi ketidakpedulian buta Big Jim terhadap pengesahan amandemen ke-18 UUD AS.

Amandemen itu berisi pelarangan penjualan, distribusi dan mengkonsumsi minuman keras yang dikenal dengan Prohibition.

Otak cerdas Torio menangkap hal itu menjadikan bisnis yang punya prospek bagus, tapi sang bos tidak mau beranjak dan semakin nyaman dengan bisnis prostitusinya. Bagi Torio, kalau bisnis itu tidak segera diambil, maka geng lawan akan melakukannya.

Awal 1920, John Torio memanggil seorang pria rekannya dari Brooklyn, seorang penjahat muda, kekar bernama Alphonse Capone, dan Capone pun lebih suka bekerja pada Torio. Maka terdapat perebutan pengaruh antara Colosimo, John Torio dan Al Capone ditambah dengan Frankie Yale.

.................

11 Mei 1920 sore hari,

Big Jim bertandang ke tempat favoritnya, Colosimo's Cafe di South Wabash Avenue.

Tempat itu adalah bangunan yang terdiri dari dua bagian, utara dan selatan dan sebuah pintu masuk yang sama. Terdapat ruang menggantung jaket dan bilik telpon umum ditempat tersebut.

Colosimo menghabiskan waktu sesaat membicarakan menu makan malam hari itu dengan kepala pelayan. Colosimo berkata bahwa ia punya janji bertemu dengan seseorang di tempat itu pada jam 4 sore. Ia tidak menyebutkan siapa tamunya. Sesekali, ia memandangi jam tangannya dan sikapnya menandakan bahwa orang yang ditunggunya terlambat datang.

Ia berjalan ke pintu keluar. Suara tembakan membahana.

Para Staf Klub berlarian ke pintu masuk dan menemukan Big Jim terbaring di lantai, dengan luka di kepala yang mengalirkan darah, tewas. Si Pembunuh sudah menghilang.

Pembunuhnya pasti masuk dalam bangunan itu dan bersembunyi didalam ruang gantungan jaket. Saat Colosimo memasuki daerah pintu masuk itu, si pembunuh menembak dua kali. Sebuah tembakan tepat mengenai sasaran, tembakan kedua luput. Pembunuh lalu keluar lewat pintu depan dan menghilang di keramaian Wabash Avenue. Tidak diketahui apakah ia berjalan kaki atau naik mobil.


Dari buku

The Mafia's Greatest Hits



PERTARUNGAN PENJAHAT DAN MACAN

Sejak berdirinya kerajaan Mataram, pertunjukkan pertarungan antara penjahat dan macan sudah pernah diadakan dan sudah dikenal secara umum. 

Pertunjukan ini menjadi semacam metode untuk membuat sebuah beban hukuman pengadilan menjadi barang tontonan. Namun, sekarang dengan adanya perusakan dan kekejaman yang diakibatkannya, maka pertunjukan ini dihapuskan dengan undang-undang. 

Selama pemerintahan sultan Yugyakerta  masih melakukannya sampai dihilangkan oleh pemerintah Inggris pada tahun 1812. 

Pada pertunjukkan semacam ini, dua orang penjahat diminta untuk membuat api di tempat macan. Mereka diberi senjata keris yang panjang namun patah atau tumpul pada bagian ujungnya, dan macannya dibiarkan bebas berkeliaran di kandangnya yang telah dibangun untuk acara ini. Orang yang pertama segera terbantai, sedang orang yang kedua, setelah bertarung selama kurang lebih dua jam, berhasil membunuh macan tersebut, dengan beberapa potongan di kepala, dan di bawah mata serta telinga. Macan kecil atau leopard ini diberikan kepadanya, dan penjahat yang telah berhasil tersebut dibiarkan bebas. Keberhasilannya menghadapi siksaan yang berat seperti pada pengadilan pada masa kegelapan, dianggap sebagai wujud pembuktian dari Tuhan bahwa dia tidak bersalah, dan tidak hanya mendapatkan ampunan, tapi juga menaikkan tingkatannya sederajat dengan mantri, sebagai imbalan atas bahaya yang telah dihadapinya, yang membuatnya mendapatkan pemulihan nama baik. Meskipun tindakan barbar ini dilakukan, tapi tidak dapat diambil kesimpulan bahwa tindakan tersebut sebagai pertunjukkan yang diadakan dalam tingkatan semua orang Jawa pada umumnya.[]


Dari buku

"THE HISTORY OF JAVA" Thomas Stamford Raffles

Keterangan foto: Pertunjukan manusia melawan macan di Jawa abad XIX



Selasa, 27 Juni 2023

MAFIA HAJI ABAD XIX

Dalam sebuah laporannya kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 20 Juni 1889, Snouck Hurgronje mengungkapkan adanya penipuan-penipuan yang dilakukan oleh para syekh. Menurut catatan Snouck Hurgronje, para syekh dan kaki tangannya sering membujuk penduduk suatu desa agar mengutus seorang atau beberapa wakil untuk menunaikan ibadah haji dengan perantaraan mereka. Pembiayaan untuk haji utusan tersebut ditanggung bersama. Kerja sama tersebut pada kenyataannya justru mengakibatkan calon haji harus mengeluarkan biaya ekstra sebagai imbalannya tanpa adanya jaminan yang pasti terhadap keamanan dan kelancaran mereka selama menunaikan ibadah haji.

Menurut perhitungan Snouck Hurgronje, perjalanan dari Jawa ke Jeddah menggunakan kapal perusahaan Nederland menghabiskan uang sebesar f.95. Dari jumlah tersebut, terdapat uang komisi sebesar f.5 untuk para syekh di luar pungutan tidak resmi. Sering pula terjadi karcis perjalanan yang berharga f.65 diserahkan oleh para syekh dan kaki tangannya dengan harga f.85 kepada para jamaah. Sedangkan untuk perjalanan pulang ke Jawa dengan menggunakan sarana tersebut dikenakan biaya sebesar f.92,50 termasuk di dalamnya f.17,50 sebagai upah para syekh yang dipungut oleh para agen perusahaan kapal. Snouck Hurgronje mencatat, setidaknya seorang jamaah akan membelanjakan sekitar f.300 untuk seluruh perjalanan haji, di mana jumlah sebesar itu banyak teralokasikan untuk hal-hal yang tidak jelas.

Hal yang lebih menyedihkan adalah bahwa kesulitan yang dialami seorang calon haji tidak hanya datang dari para syekh haji yang licik, tetapi juga datang dari para penghulu. Pada abad ke-19 para penghulu diangkat dengan surat keputusan Gubernur Jenderal, di mana hanya sebagian kecil saja dari mereka yang mendapatkan upah dalam bentuk gulden. Pada umumnya mereka mendapatkan gaji dalam bentuk zakat. Namun di daerah Preanger (Priangan) sebagian penghulu berusaha mencari "penghasilan tambahan" dengan cara menarik dua setengah persen dari ongkos naik haji sebagai zakat untuk mereka. Kalau zakat ini tidak dibayar, menurut mereka uang hajinya menjadi tidak halal dan haji yang dibiayai dengan uang tersebut menjadi tidak sah. Mengomentari hal ini, Snouck Hurgronje mengusulkan agar pemerintah mengeluarkan larangan untuk mengumpulkan zakat haji, sebab para penghulu tersebut diangkat oleh pemerintah kolonial, sehingga penyalahgunaan posisi mereka harus diawasi sedemikian rupa oleh pemerintah atau pihak yang berwenang.[]

Dari buku
"HADJI TEMPO DOELOE" Kisah Klasik Perjalanan Haji Zaman Dahulu



HAJI SINGAPUR

Melihat pemilik kapal dari Arab dan Inggris mengurus jemaah haji Indonesia, Pemerintah Hindia Belanda pun memberikan izin monopoli pengangkutan jamaah haji kepada Kongsi Tiga, yaitu Rotterdamsche Lloyd, Stoomvaartmatschappij Nederland, dan Stoomvaart-matschappi Ocean tahun 1873, tepat satu tahun setelah dibukanya kantor Perwakilan Hindia Belanda di Jeddah. Para jemaah haji Hindia Belanda menyebut kapal dari kongsi itu dengan nama "Kapal Dines".


Tetapi masih ada juga jamaah haji yang menggunakan kapal haji milik perusahaan Inggris yang bermarkas di Singapura. Hal ini terjadi karena perjalanan melalui Semenanjung Malaya dan Singapura merupakan tempat yang sangat baik bagi para jamaah asal Hindia Belanda untuk menghindari pengawasan dan paspor pemerintah. Faktor pendukung lainnya adalah harga tiket yang lebih murah dan adanya kebebasan untuk memilih makanan selama di perjalanan.


Walaupun demikian, berhaji dengan mengambil jalur Singapura bukannya tanpa risiko. Sejak tahun 1870 Pemerintah Hindia Belanda banyak mendapatkan laporan kalau di Singapura terdapat oknum-oknum yang mengaku bekerja untuk kepentingan jamaah padahal kenyataan berbicara lain. Mereka berusaha menjerumuskan jamaah calon haji, yang umumnya tanpa curiga diperas kekayaannya, untuk masuk ke dalam jeratan utang selama persinggahan di Singapura. Jamaah yang dari segi keuangan tidak mampu membiayai seluruh perjalanan haji, akan tetapi dibujuk untuk tetap melaksanakannya oleh para oknum, pada akhirnya banyak menjadi korban. Alih-alih bisa berangkat ke Tanah Suci, untuk bisa makan dan pulang ke kampung halamannya pun menjadi hal yang sangat sulit karena semua perbekalannya habis akibat penipuan. Karena hanya sampai Singapura, mereka pun dilabeli sebagai "Haji Singapur". 

Persoalan tidak selesai sampai di sini, para calon haji korban pemerasan ini pun harus menolong dirinya sendiri di Singapura untuk melunasi utang dan sekadar bertahan hidup. Atas dasar perjanjian dengan para syeikh, mereka akhirnya harus bekerja di perkebunan-perkebunan yang dimiliki oleh orang-orang yang memberi pinjaman utang. Mereka pun melakukan aneka pekerjaan kasar lainnya yang dapat menghasilkan uang. Karena besarnya utang atau pemerasan yang berulang kali terjadi, mereka harus bekerja bertahun-tahun lamanya.[]


Dari buku:

"HADJI TEMPO DOELOE" kisah Klasik Perjalanan Haji Zaman Dahulu



SUAMI DENGAN TIGA CINTA

1904 Nest, demikian panggilan EFE Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije dan memperoleh 5 anak, dua diantaranya laki-laki mening...