Senin, 15 Januari 2024

KRAWANG- JAKARTA EMPAT JAM

 饾懠饾挃饾拏饾拪 饾拵饾拞饾拲饾拏饾拰饾挅饾拰饾拏饾拸 饾拺饾拞饾拸饾拝饾拏饾拰饾拪饾拏饾拸 饾拡饾挅饾拸饾挅饾拸饾拡 饾懞饾拲饾拏饾拵饾拞饾挄, 饾懇饾拞饾挀饾挃饾拏饾拵饾拏 饾挀饾拹饾拵饾拑饾拹饾拸饾拡饾拏饾拸饾拸饾挌饾拏 饾懞饾拹饾拞 饾懐饾拹饾拰-饾拡饾拪饾拞 饾拵饾拞饾拸饾拡饾拪饾拸饾拏饾拺 饾拝饾拪 饾應饾拪饾挀饾拞饾拑饾拹饾拸.

饾懖饾拞饾拞饾挃饾拹饾拰饾拏饾拸 饾拤饾拏饾挀饾拪饾拸饾挌饾拏 饾煇饾煇 饾懆饾拡饾挅饾挃饾挄饾挅饾挃 饾煆9饾煍饾煏 饾拺饾拏饾拡饾拪-饾拺饾拏饾拡饾拪 饾挃饾拞饾拰饾拏饾拲饾拪 饾拵饾拞饾挀饾拞饾拰饾拏 饾拵饾拞饾拸饾拪饾拸饾拡饾拡饾拏饾拲饾拰饾拏饾拸 饾應饾拪饾挀饾拞饾拑饾拹饾拸 饾拵饾拞饾拸饾拡饾拡饾挅饾拸饾拏饾拰饾拏饾拸 饾拰饾拞饾挀饾拞饾挄饾拏 饾拏饾拺饾拪 饾拵饾拞饾拸饾挅饾拫饾挅 饾應饾拪饾拰饾拏饾拵饾拺饾拞饾拰 饾挅饾拸饾挄饾挅饾拰 饾挃饾拞饾拲饾拏饾拸饾拫饾挅饾挄饾拸饾挌饾拏 饾拑饾拞饾挀饾拡饾拏饾拸饾挄饾拪 饾拝饾拞饾拸饾拡饾拏饾拸 饾拰饾拞饾挀饾拞饾挄饾拏 饾挌饾拏饾拸饾拡 饾拵饾拞饾拸饾挅饾拫饾挅 饾懕饾拏饾拰饾拏饾挀饾挄饾拏.

饾懇饾拞饾挀饾拪饾拰饾挅饾挄 饾拕饾拏饾挄饾拏饾挄饾拏饾拸 饾懞饾拹饾拞 饾懐饾拹饾拰-饾拡饾拪饾拞 饾挌饾拏饾拸饾拡 饾拝饾拪饾挄饾拞饾挀饾拑饾拪饾挄饾拰饾拏饾拸 饾挃饾拞饾拑饾挅饾拲饾拏饾拸 饾拰饾拞饾拵饾挅饾拝饾拪饾拏饾拸 饾拺饾拏饾拝饾拏 饾拤饾拏饾挀饾拪饾拏饾拸 饾懖饾拹饾拵饾拺饾拏饾挃:

Kira-kira pukul setengah dua kami sampai di Krawang. Keadaannya sepi. Tak ada penjual makanan, tidak ada gembel (yang biasanya banyak) dan pakaian para petugas KA bersih serta berdasi. Kami mulai heran, setelah setengah jam KA belum juga jalan. Beberapa orang akhirnya datang ke masinis dan bertanya. Jawabannya sungguh mengejutkan. "Kita tak boleh jalan sampai pukul lima, karena ada rombongan Paduka Presiden yang ke Jatiluhur." Dan ditambahkan pula bahwa terdapat ratusan "bapak- 

bapak" yang ikut Pak Harto. Beberapa kawan mulai mengerumuni masinis. Datang pula beberapa penumpang lain dan akhirnya menjadi obrolan-obrolan untuk melewatkan waktu.


"Memangnya negara inimilik mereka," kata salah seorang kawan dengan mendongkol. Pak Harto akan lewat pukul lima. Jarak antara Krawang-Jakarta paling lama hanya setengah jam. Tetapi sejak pukul satu semua telah ditutup. Seperti kalau Babe mau lewat saja. Para gembel dibersihkan, penjual-penjual makanan diusir. "Itu kan nipu diri sendiri."


Masinisnya diam saja dan tersenyum. "Kita cuma rakyat kecil. Kalau disuruh jalan, ya kita jalan. Disuruh tunggu, ya kita tunggu," jawaban khas dari seorang manusia yang telah patah semangatnya karena penderitaan.


Tindakan-tindakan kecil seperti ini kadang-kadang menyakitkan hati sekali. Kita semua mengerti bahwa untuk tindakan-tindakan keamanan harus ada sejumlah persiapan yang baik. Beberapa trayek KA harus ditunda. Akan tetapi menunda 4 jam padahal jalan yang mau ditempuh tinggal satu jam setengah sungguh-sungguh menjengkelkan. Sikap ala Sukarno betul-betul sangat memalukan.


Saya pribadi melihat, lebih baik Pak Harto diterima secara wajar. Biarlah beliau melihat gembel-gembel, tukang-tukang dagang, dan sisi-sisi hitam dari Indonesia. Janganlah semuanya ditutup-tutupi sehingga beliau punya kesan yang baik-baik saja tentang bangsa yang dipimpinnya. Soeharto bukan Sukarno. Dia lebih dewasa dari bekas Pemimpin Besar Revolusi kita. Makin banyak gembel, penganggur, pelacur, korupsi yang dilihatnya, makin baik.

Pukul setengah lima KA jalan lagi, karena rombongan para penggede telah lewat. Satu seperempat jam kemudian kami tiba kembali di Jakarta. Setelah 5 hari meninggalkannya, setelah melihat begitu banyak sisi lain dari negara Indonesia tercinta, setelah perjalanan yang begitu melelahkan. Semuanya akan menjadi ragi untuk diri masing-masing. Bangsa yang besar adalah bangsa yang sehat tubuhnya. Pemuda-pemuda sakitan tidak mungkin menyelesaikan tugas-tugas pembangunan. Dan untuk itulah saya selalu mau membawa rombongan mendaki gunung.


Dari buku

"Soe Hok-gie...Sekali lagi"


Keterangan foto: Presiden Soeharto bersama Ir. Sutami saat peresmian Bendungan Jatiluhur 22 Agustus 1967




B.M. dan E.F.E

Institut Ksatrian baru saja membuka sekolah kejuruan baru, Middelbare Journalisten School, Sekolah menengah Jurnalistik. Kesanalah Burhanudin mendaftar supaya kelak bisa bekerja sebagai seorang jurnalis.

Ada 19 mata pelajaran yang diajarkan di sekolah tersebut. Antara lain harus belajar enam bahasa. Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang dan bahasa Melayu. Nampaknya tahun 1935 - 1936, sekolah ini sudah memperkirakan bahwa bahasa Jepang akan menjadi bahasa yang penting. Bahasa Belanda dan Inggris harus dipelajari secara mendalam dibandingkan bahasa yang lain. Untuk dua bahasa itu murid-murid harus mempelajari tata bahasa, lafal dan bacaan, serta kesusasteraan.

Bidang jurnalistik ada tiga macam mata pelajaran. Mengarang, teknik reportase dan teknik wawancara. Selama dua tahun, setiap murid cukup digembleng dengan pekerjaan rumah untuk menulis dan menulis lagi. Dalam menulis inilah tampak bakat Burhanudin. Karena untuk pelajaran mengarang dan teknik reportase, Burhanudin selalu mendapat zeer goed, sangat bagus, angka 9. Ternyata Burhanudin seorang studen yang tekun dan bekerja keras untuk bisa lulus sesuai jadwal.

Pendiri Institut Ksatrian adalah EFE Douwes Dekker adalah wartawan yang pernah menerbitkan Bataavisch Nieuwsblad pada 1903 dan mendirikan Indische Partij bersama Dr Tjipto Mangunkusumo dan Soewardi Soerjaningrat.

Douwes Dekker mengajar mata pelajaran Sejarah Hindia Belanda seperti yang tertulis pada kurikulum.Tetapi didepan kelas Dekker selalu mengajar sejarah Hindia Belanda dalam versinya sendiri, tidak mengikuti teks sejarah versi Belanda totok. Didepan kelas bahkan Dekker menggunakan sebutan 'Indonesia' untuk Hindia Belanda.

Suatu saat Burhanudin bertanya kepada Douwes Dekker bisakah dan kapan dia jadi wartawan terkenal? Dekker memandang Burhanudin dalam-dalam dan berkata,"Nanti, kalau kamu sudah berumur diatas 40 tahun." Burhanudin menarik napas dalam seakan tidak sabar, karena untuk mencapai itu harus menunggu dua dasawarsa lagi. Tetapi "ramalan" Douwes Dekker ternyata tidak meleset.

Petuah Douwes Dekker yang masih diingatnya adalah "Apabila kamu mau melawan orang barat, kamu harus menguasai ilmu pengetahuan yang mereka miliki". Ucapan ini merupakan cambuk bagi Burhanudin untuk menimba ilmu sebanyak mungkin.

Pada akhir masa studinya, Burhanudin mengalami kesulitan keuangan. Kakaknya yang biasa mengirim uang sekolah dan pondokan tidak memberikan kiriman lagi, sementara sebentar lagi ia menamatkan sekolah. Segera ia pergi ke Surabaya menemui Mohamad Judin, sang kakak tadi.

Burhanudin lalu mendapat surat dari Douwes Dekker yang bernada marah karena pergi tanpa pamit, tanpa melunasi uang sekolah dan pondokan. Rupanya uang kiriman dan surat berselisih jalan.

Dengan permintaan maaf, Burhanudin menerangkan uang sekolah dan pondokan sudah dikirim. Juga dijelaskan masalah kesulitan keuangan yang dihadapinya. Mengetahui itu, Douwes Dekker meminta maaf dan menyuruh Burhanudin kembali ke Bandung dan diangkat sebagai sekretaris pribadi Douwes Dekker.

"Saya sangat hormat kepada beliau. Orang kulit putih yang lebih berani dari rata-rata politikus Indonesia saat itu. Saya bangga sempat diajar beliau", demikian kenang Burhanudin. Sambil berkata begitu, diperlihatkannya rapor dan ijazahnya yang ditandatangani oleh anggota kurator merangkap Direktur dan sekretaris Institut Ksatrian, E.F.E. Douwes Dekker.


Dari buku

B.M. DIAH

Wartawan Serba Bisa



"SEMANGAT CAMAR脫N"

"Pertempuran Camar贸n" adalah sebuah Pertempuran yang sangat terkenal yang dialami oleh Legiun asing Prancis di Meksiko. 

Tahun 1861-1867 Prancis melakukan intervensi ke Meksiko. Pada intervensi ini Prancis mengalami kegagalan namun bagi L茅gionnaire mereka mendapatkan nama yang harum.

Berawal dari konvoi Prancis yang meninggalkan pelabuhan Veracruz yang membawa logistik, perlengkapan pengepungan dan 3 juta franc tunai.

30 April 1863 dinihari enam puluh prajurit dan tiga perwira ke-3 Resimen Asing legiun Asing dikirim untuk menjemput konvoi tersebut. Kompi itu dipimpin oleh Kapten Danjou dibantu oleh Letnan Jean Vilain dan Letnan Maudet.

Setelah melewati Desa Camar贸n de Tereja (55 km di sebelah barat Veracruz), kompi tersebut tiba di Palo Verde pukul 7 pagi, setelah melakukan mars sejauh 24 kilometer.


Kemudian mereka melihat gerakan regu infanteri Meksiko pimpinan Kolonel Fransisco de Paula Mil谩n. Mereka baru saja tiba ketika mendengar sebuah tembakan menyalak, melukai seorang legiuner. Pasukan kavaleri Kolonel Mil谩n kemudian menyerang yang memaksa Kapten Danjou memutuskan untuk mundur ke Desa Camar贸n.


Setelah membuyarkan lagi serangan kavaleri kedua, Kapten Danjou dan anak buahnya berlindung di hacienda (rumah tinggal yang dikelilingi kebun luas). Mereka berharap bisa menunda upaya Kolonel Mil谩n menyergap konvoi. Malang bagi para legiuner, ketika jalan menurun, dua bagal (binatang pengangkut) yang membawa makanan dan amunisi ketakutan karena kegaduhan sehingga lepas dari kendali mereka dan kabur.


Begitu sampai di hacienda, para legiuner cepat-cepat membuat barikade penutup sekuat yang mereka bisa.Pasukan Meksiko berhasil memasuki ruangan di lantai bawah dan dengan demikian menutup akses ke lantai tersebut. Sersan Morzycki memanjat atap bangunan utama untuk mengawasi gerakan musuh.


Saat itu sudah pukul sepuluh pagi dan orang-orang Kapten Danjou, yang belum makan sejak sehari sebelumnya, mulai didera kehausan dan panas. Seorang perwira Meksiko, Kapten Ramon Laisne menyerukan agar pasukan Prancis menyerah. Kapten Danjou menjawab: "Kami punya peluru dan kami tidak akan menyerah!" Dia lalu menyuruh anak buahnya bersumpah untuk bertempur sampai titik darah penghabisan.


Tentara Meksiko membakar hacienda, tetapi tidak berani menyerbu secara frontal. Sebagian, melalui tangga kamar tidur, mencoba memasuki ruangan yang dikuasai para legiuner. Pada tengah hari, sebuah peluru menyambar jantung Kapten Danjou dan Letnan Jean Vilain mengambil alih komando. Kemudian tentara Meksiko menyerbu bagian utama rumah perkebunan itu.

Sekitar pukul dua siang, giliran Letnan Jean Vilain yang roboh, tertembak dahinya. Letnan Maudet kemudian mengambil alih komando.

Pukul lima sore, di sekeliling Letnan Dua Maudet, hanya tersisa dua belas orang dengan kondisi masih sanggup bertempur. Saat itulah sang kolonel Meksiko mengumpulkan orang-orangnya dan mengatakan kepada mereka betapa tak tertanggungkan malu mereka jika tidak bisa menembak segelintir pahlawan itu.


Selama sembilan jam, para legiuner melawan pasukan Meksiko tanpa minum, dikurung panas Dataran Tinggi dan tercekik asap tembakan.

Menjelang malam, tinggal Letnan Maudet, Kopral Maine, legiuner Catteau, Wensel, Constantin, dan Leonhard yang masih sanggup bertempur. Atas perintah perwira, mereka menembakkan senapan dan memasang bayonet. Victor Catteau, seorang legiuner Belgia tewas dengan tubuh penuh lubang peluru karena melindungi letnan dengan tubuhnya; perwira itu sendiri terluka dua kali. Kolonel Combas, perwira Meksiko asal Prancis, lalu menyeru kepada yang masih hidup agar menyerah. Maine mengatakan: "Kami akan pergi jika Anda memberi kami janji formal untuk merawat letnan kami dan semua kawan kami yang, seperti dia, terluka; jika Anda membiarkan kami membawa tas dan senjata kami. Terakhir, kami akan pergi, jika Anda berjanji mengabarkan kepada semua orang bahwa kami sudah melaksanakan tugas kami." "Kami tidak menolak permintaan apa pun dari orang seperti kalian," kata perwira Meksiko itu kemudian. Dia menambahkan: "Tetapi tolong berbicaralah dalam bahasa Prancis. Orang-orangku mungkin menyangka kalian orang Spanyol Konservatif dan mereka akan membantai kalian."


Mereka yang masih hidup dihadapkan kepada Kolonel Mil谩n: "Tetapi ini bukan manusia, mereka iblis," teriaknya marah. 

Perlawanan sengit legiuner di Camar贸n ini membuahkan hasil. Konvoi suplai berhasil mencapai Puebla.

Dengan keputusan tertanggal 4 Oktober 1863, Menteri Perang, Jenderal Randon, memerintahkan "Camar贸n" diterakan pada bendera Resimen Asing.

Tahun 1892 dibangun sebuah monumen di lokasi pertempuran. Tahun 1948 monumen itu ditinggalkan. Hal itu membuat otoritas Prancis mendirikan monumen baru yang dibuka resmi tahun 1963.

Sejak itu tentara Meksiko memberikan penghormatan kepada prajurit-prajurit Meksiko dan Prancis yang tewas pada hari itu dengan hormat senjata ketika melewati monumen. Menurut tata cara militer Meksiko hormat senjata itu dilakukan dalam hening, tanpa musik dan komando suara. Penghormatan itu masih dilakukan sampai sekarang dan kuburan prajurit-prajurit Prancis yang gugur dirawat oleh pemerintah Meksiko dengan pengawasan Duta Besar Prancis dan atase militernya.[]


Sumber

1.buku "LEGIUN ASING PRANCIS"

2.https://www.google.com/amp/s/militaryhistorynow.com/2020/09/26/truly-these-arent-men-theyre-demons-the-french-foreign-legions-desperate-defence-of-camaron/amp



AKADEMI MILITER BANDUNG 1941-1942

Serangan Nazi ke negeri Belanda tahun 1940, membuat Pemerintahan Belanda di pengasingan menyiapkan pembebasan

Untuk itu, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Tjarda Starkenborgh Stachouwer ditugaskan oleh pemerintahan darurat di London untuk menyiapkan perlawanan terhadap invasi Jepang dan mobilisasi umum untuk kelak membantu pembebasan Kerajaan Belanda.


Jenderal Hein Ter Poorten, yang menggantikan jenderal Berenschot yang meninggal karena kecelakaan pesawat, selaku komando militer di Hindia Belanda  segera menyiapkan reorganisasi dan modernisasi militer.

Salah satu kebijakan yang diambil adalah 

menyiapkan Akademi Militer di Bandung yang menjadi ibukota militer Hindia-Belanda dan Sekutu.

Selain itu keberadaan kota militer di Cimahi yang sudah mulai dikembangkan sejak tahun 1896 juga turut memperkuat posisi Bandung sebagai salah satu pusat kekuatan militer Hindia Belanda saat itu. Maka tak mengherankan jika Bandung kemudian dipilih sebagai lokasi pendirian Akademi Militer


Pada bulan Mei 1940, koran-koran di Hindia-Belanda mengumumkan para pemuda lulusan SMA berdarah Belanda, Indo-Eropa, dan Bumiputra didorong untuk mendaftar di Akademi Militer Bandung. Komando KNIL memutuskan menerima pemuda Bumiputra untuk menutup kebutuhan perwira dalam persiapan perang menghadapi Jepang.


Sepanjang Juni-September 1941, para kadet menjalani penugasan sebagai sersan di batalyon reguler. Diantara kadet tersebut terdapat A.H. Nasution yang bertugas di Kompi Jawa di Batalyon 10 KNIL di Weltevreden.


Karena situasi Perang Dunia II di Eropa dan ketegangan di Asia-Pasifik, masa pendidikan dipersingkat bagi kadet di Akademi Militer Bandung, yang digabungkan ke organisasi

KMA pada tanggal 2 Oktober 1941.


Tanggal 7 Desember 1941 pecah Perang Pasifik dimana Jepang menyerang Pearl Harbour di Hawaii yang diikuti serbuan di Filipina, Malaya, dan Hongkong selang beberapa jam kemudian. Markas Komando Belanda memaklumi Kota Bandung menjadi sasaran utama Jepang sehingga pada Januari 1942, Akademi Militer dipindahkan ke Kota Garut. Namun, karena pesatnya serangan Jepang, pada akhir Januari Akademi Militer pun terpaksa ditutup.[]


Sumber:

1.Buku "KNIL" Perang Kolonial di Nusantara dalam catatan Prancis


2.https://bandungbergerak.id/article/detail/949/ngaleut-bandung-riwayat-ringkas-akademi-militer-kerajaan-di-bandung



R.A. KERKHOVEN BAPAK PENDIRI PERKEBUNAN ARJASARI

Rudolph Albertus Kerkhoven dilahirkan di Twello pada 9 Juli 1820 merupakan anak keempat dari 14 anak yang berada dalam trah The Hunderian. la menikah dengan Aleida Catharina van Delden dan dikaruniai enam anak.


Dengan menumpang kapal Eva Johana, keluarga Rudolph Albert Kerkhoven meninggalkan Belanda tanggal 29 September 1866 dan tiba di Batavia menjelang perayaan Tahun Baru tanggal 29 Desember tahun yang sama. 

Mula-mula mereka menetap di rumah NP van den Berg yang terletak di Koningsplein dan kemudian di rumah janda mendiang Pieter Holle yang tinggal di Gang Holle.


Selama di Batavia, ia mencoba menerima tawaran di Netherlands Indian Gas Company, sebuah perusahaan gas milik negara. Karena usahanya tidak memperoleh kemajuan, keluarga ini pindah ke Bandung. Mereka menempati bangunan yang terletak di pojok Pieterpark, kini Taman Dewi Sartika di depan Gedung Balai Kota.


Berkat hubungan baik KF Holle, salah seorang perintis perkebunan di Priangan (Preanger Planter), dengan penguasa pribumi, RA Kerkhoven berhasil membuka perkebunan di Arjasari. 

Perkebunan ini terletak di daerah Bandung yang berjarak kurang lebih 30 kilometer dari kota Bandung. Saat itu, Arjasari yang terletak di Afdelung Banjaran masih merupakan hutan belantara dengan banyak binatang buas diantaranya harimau.

Dengan ketinggian 700 meter diatas permukaan laut, Arjasari berhawa sejuk dan sering turun hujan sehingga cocok untuk dijadikan perkebunan.

Sayang, akses untuk menuju tempat itu tidak mudah. Dari Bandung hanya bisa menggunakan kuda atau kereta kuda yang kemudian disambung dengan menyeberangi sungai Citarum menggunakan rakit bambu.


Di tempat itulah keluarga dengan enam anak (salah satu meninggal di Batavia karena sakit) memulai hidup barunya sebagai pengusaha perkebunan.

Pada saat pembukaan perkebunan, RA Kerkhoven dan anak-anaknya dan rombongan pejabat setempat berjalan paling depan dengan dinaungi payung, melewati deretan barisan penduduk setempat yang hadir. Yang membuat pesona hadirin dan sekaligus kagum, pada kesempatan itu KF Holle berusaha memperlihatkan kedekatan emosionalnya dengan masyarakat pribumi. Sebagai "sesepuh" keluarga, ia menyampaikan sambutannya dalam bahasa Sunda.


Upacara peresmian Perkebunan Arjasari diakhiri dengan pembacaan doa dan dilanjutkan makan bersama, sebuah tradisi yang masih berlangsung hingga kini. Dalam doanya mereka memohon agar Perkebunan Arjasari yang luasnya sekitar 3.000 hektar akan sesuai dengan namanya. Dalam bahasa Sunda, Arjasari berarti "Inti Kemakmuran".[]


Sumber:

1. Buku "Kisah Para Preanger Planters"

2. Buku "Sang Juragan Teh"

3.https://www.wikitree.com/wiki/Kerkhoven-53



THE ANGEL FROM DIEN BIEN PHU

Dengan dihancurkannya pesawat ambulans C-47 terakhir di landasan oleh pasukan Vietminh,maka seluruh awaknya, termasuk seorang perawat ,Genevieve de Galard menjadi bagian dari Garnisun yang terkepung itu.
Perawat wanita itu lalu mengenang,"Mereka yang terluka mempunyai harapan besar saat itu karena mengira akan meninggalkan Dien Bien Phu untuk selamanya.Ternyata tidak demikian"
Dien Bien Phu pun berubah menjadi neraka.Rumah Sakit bawah tanah pasukan Prancis terpaksa diperluas hingga ke batas bekas pemakaman, sehingga tidak jarang ditemukan cacing-cacing putih bergerak leluasa diantara kaki dan tangan pasien yang tidak berdaya.
Melihat itu kolonel Langlais memerintahkan kepada yang sehat untuk keluar bunker agar bisa ditempati prajurit yang terluka.
Genevieve de Galard, yang terdampar di tempat yang tidak memiliki kelengkapan bagi wanita, mendapat sebuah tempat khusus "Saya tidur di atas usungan yang bisa saya lipat kembali di waktu pagi" kenangnya.
Perawat wanita yang masih berdarah biru itu sendiri adalah anak dari Vicomte Oger de Galard Terraube.Garis keturunannya dapat dilacak hingga abad ke-5, dimana salah satu leluhurnya adalah seorang ksatria bangsawan yang berjuang bersama Jeanne D'Arc , pahlawan wanita yang legendaris.Meski begitu,ia meminta semua rekannya memanggilnya Genevieve saja atau jika tidak mengenal namanya cukup dengan menyapanya sebagai "nona saja".Tapi wartawan Amerika lebih suka memanggilnya dengan :"Bidadari dari Dien Bien Phu"
Pada 3 Mei 1954 majalah TIME menulis:
"Apakah ada kesempatan untuk mendatangkan bantuan bagi Dien Bien Phu? Apakah kondisi Pasukan Jenderal Giap sama dengan yang dialami oleh anggota garnisun Dien Bien Phu? Banyak pilihan untuk Dien Bien Phu, hancur lebur dibantai oleh Vietminh atau menyerah tanpa syarat, tetapi terhormat.
Keadaan Dien Bien Phu samar-samar dan tidak menentu!"
Menjelang kejatuhan Dien Bien Phu ,Letkol Bigeard berusaha memompa semangat anak buahnya dengan seruan:"Kita harus mampu bertahan satu hari lagi.Amerika serikat tidak akan membiarkan kita seperti ini.Mereka akan datang membantu kita!"
Pada saat kritis itu, pemerintah Prancis menaikkan pangkat de Castries, pimpinan Garnisun menjadi Brigadir jenderal dan setiap prajurit mendapatkan tanda jasa khusus.Bigeard menggerutu dengan nada getir:"Mereka kira kita akan tewas dalam pertempuran ini sehingga perlu memberikan tanda jasa dan bintang!".
Para perwira di Dien Bien Phu memutuskan akan memberikan penghargaan kepada Genevieve de Galard.Mereka meminta agar perawat tersebut hadir di Pos Komando.
Saat perawat itu datang,de Castries berkata:"Kami tidak memiliki apa-apa kecuali ini..."
Tanpa diduga-duga oleh Genevieve, tanda jasa 'Legion de Honor' disematkan di dadanya oleh sang Brigadir jenderal.
Peristiwa itu berlangsung sangat cepat dan itulah cara orang Prancis memberikan penghargaan kepada seseorang dalam keadaan yang sangat kritis.

Dari buku
LEMBAH KEMATIAN
Tragedi Kekalahan Prancis di Dien Bien Phu


UANG BELANJA PEMBERIAN SULTAN

Yogyakarta Desember 1948,

Dua tahun setelah Ibukota RI berpindah ke Yogyakarta, Presiden dan Wakilnya menjalani pengasingan di Prapat dan Bangka. 

Tentu saja hal tersebut menjadi beban bagi keluarga yang ditinggalkan, diantaranya adalah nyonya Rahmi Hatta yang juga sempat ditahan oleh tentara Belanda.

Lebih lanjut bu Rahmi berkisah:

Tentara Belanda menyediakan sebuah rumah di Sagan untuk tempat tinggal saya dan keluarga, terdiri dari anak saya Meutia yang baru berumur satu tahun, Ibu dan Bapak saya. Keluar daritahanan, saya tidak mempunyai apa-apa kecuali sedikit pakaian dan uang pun tidak seberapa. Karena itu saya sudah menggambarkan akan menghadapi kesulitan hidup selama Yogyakarta diduduki tentara Belanda.


Tetapi kira-kira setelah tiga minggu saya tinggal di Sagan, pada suatu hari pukul 2 siang datang Saudara Wangsa Widjaja, Sekretaris Wakil Presiden, ke rumah saya dengan tergopohgopoh. Setelah masuk ke rumah dan duduk dengan tidak banyak bicara, ia membuka tasnya dan mengeluarkan bungkusan sambil berkata: "Zus, inilah uang sumbangan dari Sri Sultan, banyaknya 500 gulden".


Setengah tidak percaya, saya menerima dan membuka bungkusan itu dan ternyata isinya uang perakan Belanda mulai dari satu rupiah (perak) sampai seringgit (dua setengah rupiah Belanda). Dengan perasaan haru saya termenung sejenak dan saya hanya dapat mengatakan kepada Saudara Wangsa Widjaja: "Sampaikanlah ucapan terima kasih saya kepada Sri Sultan".


Menurut keterangan Saudara Wangsa Widjaja, yang diberi uang oleh Sri Sultan itu bukan saya saja tetapi juga Nyonya Fatmawati Sukarno, pegawai Kepresidenan dan Wakil Presiden dan juga pegawai-pegawai lainnya. Saudara Wangsa Widjaja juga menceritakan bahwa hari itu pagi-pagi ia diminta datang ke Keraton Paku Alam. Sampai di sana ia diterima oleh Sekretaris Sri Sultan dan dialah yang menyampaikan uang dari Sri Sultan itu.


Dengan uang pemberian Sri Sultan saya terlepas dari kesukaran hidup selama pendudukan tentara Belanda. Sampai sekarang saya masih menyimpan beberapa gulden dari uang pemberian itu sebagai kenang-kenangan.[]


Sumber

Buku "Tahta untuk Rakyat"


Keterangan foto: nyonya Rahmi Hatta di sebelah kiri Siri Sultan mengikuti Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-36, 17 Agustus 1981 di Istana Merdeka



SUAMI DENGAN TIGA CINTA

1904 Nest, demikian panggilan EFE Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije dan memperoleh 5 anak, dua diantaranya laki-laki mening...