饾懠饾挃饾拏饾拪 饾拵饾拞饾拲饾拏饾拰饾挅饾拰饾拏饾拸 饾拺饾拞饾拸饾拝饾拏饾拰饾拪饾拏饾拸 饾拡饾挅饾拸饾挅饾拸饾拡 饾懞饾拲饾拏饾拵饾拞饾挄, 饾懇饾拞饾挀饾挃饾拏饾拵饾拏 饾挀饾拹饾拵饾拑饾拹饾拸饾拡饾拏饾拸饾拸饾挌饾拏 饾懞饾拹饾拞 饾懐饾拹饾拰-饾拡饾拪饾拞 饾拵饾拞饾拸饾拡饾拪饾拸饾拏饾拺 饾拝饾拪 饾應饾拪饾挀饾拞饾拑饾拹饾拸.
饾懖饾拞饾拞饾挃饾拹饾拰饾拏饾拸 饾拤饾拏饾挀饾拪饾拸饾挌饾拏 饾煇饾煇 饾懆饾拡饾挅饾挃饾挄饾挅饾挃 饾煆9饾煍饾煏 饾拺饾拏饾拡饾拪-饾拺饾拏饾拡饾拪 饾挃饾拞饾拰饾拏饾拲饾拪 饾拵饾拞饾挀饾拞饾拰饾拏 饾拵饾拞饾拸饾拪饾拸饾拡饾拡饾拏饾拲饾拰饾拏饾拸 饾應饾拪饾挀饾拞饾拑饾拹饾拸 饾拵饾拞饾拸饾拡饾拡饾挅饾拸饾拏饾拰饾拏饾拸 饾拰饾拞饾挀饾拞饾挄饾拏 饾拏饾拺饾拪 饾拵饾拞饾拸饾挅饾拫饾挅 饾應饾拪饾拰饾拏饾拵饾拺饾拞饾拰 饾挅饾拸饾挄饾挅饾拰 饾挃饾拞饾拲饾拏饾拸饾拫饾挅饾挄饾拸饾挌饾拏 饾拑饾拞饾挀饾拡饾拏饾拸饾挄饾拪 饾拝饾拞饾拸饾拡饾拏饾拸 饾拰饾拞饾挀饾拞饾挄饾拏 饾挌饾拏饾拸饾拡 饾拵饾拞饾拸饾挅饾拫饾挅 饾懕饾拏饾拰饾拏饾挀饾挄饾拏.
饾懇饾拞饾挀饾拪饾拰饾挅饾挄 饾拕饾拏饾挄饾拏饾挄饾拏饾拸 饾懞饾拹饾拞 饾懐饾拹饾拰-饾拡饾拪饾拞 饾挌饾拏饾拸饾拡 饾拝饾拪饾挄饾拞饾挀饾拑饾拪饾挄饾拰饾拏饾拸 饾挃饾拞饾拑饾挅饾拲饾拏饾拸 饾拰饾拞饾拵饾挅饾拝饾拪饾拏饾拸 饾拺饾拏饾拝饾拏 饾拤饾拏饾挀饾拪饾拏饾拸 饾懖饾拹饾拵饾拺饾拏饾挃:
Kira-kira pukul setengah dua kami sampai di Krawang. Keadaannya sepi. Tak ada penjual makanan, tidak ada gembel (yang biasanya banyak) dan pakaian para petugas KA bersih serta berdasi. Kami mulai heran, setelah setengah jam KA belum juga jalan. Beberapa orang akhirnya datang ke masinis dan bertanya. Jawabannya sungguh mengejutkan. "Kita tak boleh jalan sampai pukul lima, karena ada rombongan Paduka Presiden yang ke Jatiluhur." Dan ditambahkan pula bahwa terdapat ratusan "bapak-
bapak" yang ikut Pak Harto. Beberapa kawan mulai mengerumuni masinis. Datang pula beberapa penumpang lain dan akhirnya menjadi obrolan-obrolan untuk melewatkan waktu.
"Memangnya negara inimilik mereka," kata salah seorang kawan dengan mendongkol. Pak Harto akan lewat pukul lima. Jarak antara Krawang-Jakarta paling lama hanya setengah jam. Tetapi sejak pukul satu semua telah ditutup. Seperti kalau Babe mau lewat saja. Para gembel dibersihkan, penjual-penjual makanan diusir. "Itu kan nipu diri sendiri."
Masinisnya diam saja dan tersenyum. "Kita cuma rakyat kecil. Kalau disuruh jalan, ya kita jalan. Disuruh tunggu, ya kita tunggu," jawaban khas dari seorang manusia yang telah patah semangatnya karena penderitaan.
Tindakan-tindakan kecil seperti ini kadang-kadang menyakitkan hati sekali. Kita semua mengerti bahwa untuk tindakan-tindakan keamanan harus ada sejumlah persiapan yang baik. Beberapa trayek KA harus ditunda. Akan tetapi menunda 4 jam padahal jalan yang mau ditempuh tinggal satu jam setengah sungguh-sungguh menjengkelkan. Sikap ala Sukarno betul-betul sangat memalukan.
Saya pribadi melihat, lebih baik Pak Harto diterima secara wajar. Biarlah beliau melihat gembel-gembel, tukang-tukang dagang, dan sisi-sisi hitam dari Indonesia. Janganlah semuanya ditutup-tutupi sehingga beliau punya kesan yang baik-baik saja tentang bangsa yang dipimpinnya. Soeharto bukan Sukarno. Dia lebih dewasa dari bekas Pemimpin Besar Revolusi kita. Makin banyak gembel, penganggur, pelacur, korupsi yang dilihatnya, makin baik.
Pukul setengah lima KA jalan lagi, karena rombongan para penggede telah lewat. Satu seperempat jam kemudian kami tiba kembali di Jakarta. Setelah 5 hari meninggalkannya, setelah melihat begitu banyak sisi lain dari negara Indonesia tercinta, setelah perjalanan yang begitu melelahkan. Semuanya akan menjadi ragi untuk diri masing-masing. Bangsa yang besar adalah bangsa yang sehat tubuhnya. Pemuda-pemuda sakitan tidak mungkin menyelesaikan tugas-tugas pembangunan. Dan untuk itulah saya selalu mau membawa rombongan mendaki gunung.
Dari buku
"Soe Hok-gie...Sekali lagi"
Keterangan foto: Presiden Soeharto bersama Ir. Sutami saat peresmian Bendungan Jatiluhur 22 Agustus 1967






