Senin, 04 Desember 2023

HIDUP DIANTARA SUKU KAYU

Asmat berarti 'pohon' atau 'kayu'.  Mungkin karena sebutan itu suku Asmat terkenal dengan keunikannya dalam mengukir. Obyek yang cukup menarik dari suku Asmat adalah tiang berukir atau 'bis'

Tigabelas tahun sesudah misteri menghilangnya Michael Rockefeller di Papua, Lorne Blair bersama dua orang kawannya datang ke Agats untuk selanjutnya akan ke Otjanep.

Michael dikabarkan hilang saat akan mengambil 'bis' yang telah dipesannya dari suku Asmat di Otjanep.

Dalam catatannya, adik dari Lawrence Blair yang bersama menulis buku "Ring of Fire. An Indonesian Odyssey" mengisahkan berikut:

Menggunakan kapal tua milik pos misionaris, mereka menyusuri pesisir Cassuarina menuju Basiem, pos misionaris terdekat ke Otjanep, dan tujuan asli Rockefeller sewaktu mesin perahunya mogok.

Untuk mencapai tempat tujuan, mereka harus menunggu sampai orang-orang Otjanep datang ke Basiem untuk berniaga agar memperoleh tembakau.

Hari berikutnya, lima sampan mendekati Basiem melalui sungai, disarati oleh pejuang-pejuang yang berdiri dan berdendang ganas sambil mendorong sampan menggunakan dayung panjang mereka. Hiasan kepala dari bulu berkibaran dan sinar matahari terpantul pada pisau tulang dan hiasan hidung dari cangkang yang mereka kenakan

Tak lama kemudian mereka bertiga sudah duduk memangku perlengkapan-perlengkapan film dalam sampan kecil yang bergoyang-goyang dan meluncur melalui perairan dimana Michael menjemput ajal.

Rimba merapat di sekeliling mereka sewaktu memasuki sungai Etwa yang sempit ke arah Otjanep. Seekor Kakatua Raja- nuri hitam besar dengan paruh berwarna jingga gelap-mondar mandir dengan berisik di atas kepala, sementara panggilan serupa genderang yang dikeluarkan burung Kasuari, yang sebesar burung unta, bergema menembus sesemakan. Jauh di depan, sesuatu meluncur tanpa suara ke dalam sungai. Rupanya seekor biawak sepanjang 1,2 meter  yang segera ditangkap oleh pendayung sampan.

Tiba di Otjanep mereka disambut dengan sahut-sahutan meriah sangkakala perang dari bambu. Para penduduk desa mengenakan pakaian yang kotor sekali-celana pendek yang ditahan dengan rotan, kaus oblong compang-camping yang dikenakan sebagai celana, celana yang dikenakan sebagai kaus. Rupanya mereka tidak mengenakan pakaian tradisional untuk menyambut rombongan.

Melihat sambutan itu, sang tamu segera menanggalkan semua pakaiannya. Sejenak tuan rumah terdiam, tapi segera disambut dengan pekikan perang yang ramai sambil melepas semua pakaiannya. Dan selama tinggal dengan suku Asmat mereka hanya mengenakan 'bot asmat', lapisan lumpur kering yang melapisi kaki sampai diatas lutut saat pasang surut.

Mereka tinggal di Leu (rumah panjang yang terdiri dari beberapa keluarga) ditepian sungai pasang Etwa.

Mereka langsung terjerumus ke dalam rutinitas harian Asmat dan terkejut mendapati betapa nyaman hidup di rawa-rawa. Suku Asmat adalah tuan rumah yang sangat penuh perhatian, apalagi dengan dibawakannya sedikit hadiah berharga dalam wujud tembakau hitam kuat yang mereka suka, juga pisau dan kait ikan.

Oleh karena tidak punya peralatan memasak, orang-orang Otjanep membakar, memanggang, atau mengukus makanan mereka dalam dedaunan yang diletakkan langsung di atas bara api. "Makanan pokok' mereka adalah sagu, pati seperti kapur yang diambil dari sejenis palem, tidak bergizi maupun lezat, namun cocok sekali untuk mendampingi sajian kecil berupa beraneka ragam makanan berprotein tinggi yang diambil langsung dari lingkungan. Mereka menyantap ikan, kerang-kerangan, biawak, babi hutan, marsupialia pohon, dan berbagai hidangan lain yang lebih langka, termasuk semacam plankton yang dikukus di daun, yang menurut orang barat merupakan salah satu hidangan paling lezat yang pernah mereka santap.


Sumber:

1. Buku "Ring of Fire" Indonesia dalam Lingkaran Api


2.https://tempodoeloezamandoeloe.blogspot.com/2023/04/misteri-hilangnya-michael-rockefeller.html?m=1


Keterangan foto: Lorne Blair sedang membuat foto suku Asmat dengan seorang kawannya



KRAWANG- JAKARTA EMPAT JAM

 π‘Όπ’”π’‚π’Š π’Žπ’†π’π’‚π’Œπ’–π’Œπ’‚π’ π’‘π’†π’π’…π’‚π’Œπ’Šπ’‚π’ π’ˆπ’–π’π’–π’π’ˆ π‘Ίπ’π’‚π’Žπ’†π’•, π‘©π’†π’“π’”π’‚π’Žπ’‚ π’“π’π’Žπ’ƒπ’π’π’ˆπ’‚π’π’π’šπ’‚ 𝑺𝒐𝒆 π‘―π’π’Œ-π’ˆπ’Šπ’† π’Žπ’†π’π’ˆπ’Šπ’π’‚π’‘ π’…π’Š π‘ͺπ’Šπ’“π’†π’ƒπ’π’.

π‘²π’†π’†π’”π’π’Œπ’‚π’ π’‰π’‚π’“π’Šπ’π’šπ’‚ 𝟐𝟐 π‘¨π’ˆπ’–π’”π’•π’–π’” 𝟏9πŸ”πŸ• π’‘π’‚π’ˆπ’Š-π’‘π’‚π’ˆπ’Š π’”π’†π’Œπ’‚π’π’Š π’Žπ’†π’“π’†π’Œπ’‚ π’Žπ’†π’π’Šπ’π’ˆπ’ˆπ’‚π’π’Œπ’‚π’ π‘ͺπ’Šπ’“π’†π’ƒπ’π’ π’Žπ’†π’π’ˆπ’ˆπ’–π’π’‚π’Œπ’‚π’ π’Œπ’†π’“π’†π’•π’‚ π’‚π’‘π’Š π’Žπ’†π’π’–π’‹π’– π‘ͺπ’Šπ’Œπ’‚π’Žπ’‘π’†π’Œ π’–π’π’•π’–π’Œ π’”π’†π’π’‚π’π’‹π’–π’•π’π’šπ’‚ π’ƒπ’†π’“π’ˆπ’‚π’π’•π’Š π’…π’†π’π’ˆπ’‚π’ π’Œπ’†π’“π’†π’•π’‚ π’šπ’‚π’π’ˆ π’Žπ’†π’π’–π’‹π’– π‘±π’‚π’Œπ’‚π’“π’•π’‚.

π‘©π’†π’“π’Šπ’Œπ’–π’• 𝒄𝒂𝒕𝒂𝒕𝒂𝒏 𝑺𝒐𝒆 π‘―π’π’Œ-π’ˆπ’Šπ’† π’šπ’‚π’π’ˆ π’…π’Šπ’•π’†π’“π’ƒπ’Šπ’•π’Œπ’‚π’ 𝒔𝒆𝒃𝒖𝒍𝒂𝒏 π’Œπ’†π’Žπ’–π’…π’Šπ’‚π’ 𝒑𝒂𝒅𝒂 π’‰π’‚π’“π’Šπ’‚π’ π‘²π’π’Žπ’‘π’‚π’”:


Kira-kira pukul setengah dua kami sampai di Krawang. Keadaannya sepi. Tak ada penjual makanan, tidak ada gembel (yang biasanya banyak) dan pakaian para petugas KA bersih serta berdasi. Kami mulai heran, setelah setengah jam KA belum juga jalan. Beberapa orang akhirnya datang ke masinis dan bertanya. Jawabannya sungguh mengejutkan. "Kita tak boleh jalan sampai pukul lima, karena ada rombongan Paduka Presiden yang ke Jatiluhur." Dan ditambahkan pula bahwa terdapat ratusan "bapak- 

bapak" yang ikut Pak Harto. Beberapa kawan mulai mengerumuni masinis. Datang pula beberapa penumpang lain dan akhirnya menjadi obrolan-obrolan untuk melewatkan waktu.


"Memangnya negara inimilik mereka," kata salah seorang kawan dengan mendongkol. Pak Harto akan lewat pukul lima. Jarak antara Krawang-Jakarta paling lama hanya setengah jam. Tetapi sejak pukul satu semua telah ditutup. Seperti kalau Babe mau lewat saja. Para gembel dibersihkan, penjual-penjual makanan diusir. "Itu kan nipu diri sendiri."

Masinisnya diam saja dan tersenyum. "Kita cuma rakyat kecil. Kalau disuruh jalan, ya kita jalan. Disuruh tunggu, ya kita tunggu," jawaban khas dari seorang manusia yang telah patah semangatnya karena penderitaan.

Tindakan-tindakan kecil seperti ini kadang-kadang menyakitkan hati sekali. Kita semua mengerti bahwa untuk tindakan-tindakan keamanan harus ada sejumlah persiapan yang baik. Beberapa trayek KA harus ditunda. Akan tetapi menunda 4 jam padahal jalan yang mau ditempuh tinggal satu jam setengah sungguh-sungguh menjengkelkan. Sikap ala Sukarno betul-betul sangat memalukan.

Saya pribadi melihat, lebih baik Pak Harto diterima secara wajar. Biarlah beliau melihat gembel-gembel, tukang-tukang dagang, dan sisi-sisi hitam dari Indonesia. Janganlah semuanya ditutup-tutupi sehingga beliau punya kesan yang baik-baik saja tentang bangsa yang dipimpinnya. Soeharto bukan Sukarno. Dia lebih dewasa dari bekas Pemimpin Besar Revolusi kita. Makin banyak gembel, penganggur, pelacur, korupsi yang dilihatnya, makin baik.

Pukul setengah lima KA jalan lagi, karena rombongan para penggede telah lewat. Satu seperempat jam kemudian kami tiba kembali di Jakarta. Setelah 5 hari meninggalkannya, setelah melihat begitu banyak sisi lain dari negara Indonesia tercinta, setelah perjalanan yang begitu melelahkan. Semuanya akan menjadi ragi untuk diri masing-masing. Bangsa yang besar adalah bangsa yang sehat tubuhnya. Pemuda-pemuda sakitan tidak mungkin menyelesaikan tugas-tugas pembangunan. Dan untuk itulah saya selalu mau membawa rombongan mendaki gunung.


Dari buku

"Soe Hok-gie...Sekali lagi"


Keterangan foto: Presiden Soeharto saat peresmian Bendungan Jatiluhur 22 Agustus 1967



HARI TERAKHIR, SURAT TERAKHIR

Kediaman jenderal AH Nasution, Kamis 30 September 1965,

Sore itu Pak Nas sedang membereskan ruang kerjanya yang penuh barang-barang kecil usai kunjungan ke Polandia. Tak lama kemudian datang Mayjend EJ Magenda yang melaporkan keadaan di Kalimantan.

Sementara di halaman rumah Pierre Tendean, Sang Ajudan tengah mendorong-dorong sepeda Ade Irma.

Kedatangan seorang wartawan yang meminta foto pak Nas, dijanjikan esok harinya.

Sore itu juga Pierre menerima kedatangan Jusuf Razak, adik iparnya (suami Rooswidiati) yang merencanakan akan pulang bersama besok pagi.

Terhitung dari pukul 15.00 tanggal 30 September 1965 itu, Pierre sudah mengambil cuti dan bermaksud pulang ke Semarang keesokan harinya pada tanggal 1 Oktober untuk berkumpul dengan keluarganya dan merayakan ulang tahun ibundanya, Maria Elizabeth Tendean. Ulang tahun Ibu Tendean jatuh pada tanggal 30 September. Pierre tidak dapat pulang pada tanggal itu karena masih bertugas sebagai ajudan Pak Nas. Namun, Ibu Tendean tetap mengharapkan dan menunggu kedatangan anaknya untuk merayakan ulang tahunnya.

Jusuf berjanji akan menjemput Pierre pukul 06.00 keesokan harinya.

Jusuf dan Pierre menghabiskan waktu hingga petang dan bersenda gurau. Pada pertemuan itu Pierre dengan penuh semangat terus saja membahas tentang hubungannya dengan Rukmini kepada Jusuf. la mengutarakan keinginan hatinya agar semua anggota keluarga Tendean nanti dapat berkumpul bersama pada bulan Desember 1965 di Medan untuk berbagi kebahagiaan dirinya dan Rukmini. Roos juga mengungkapkan bahwa sesudah suaminya meninggalkan kediaman Jenderal Nasution pada malam hari, ada sepucuk telegram yang diantar oleh kurir, yang pada amplopnya tertulis sebuah alamat di Medan dan berbubuhkan nama Rukmini Chamim. Ini adalah surat yang diterima Pierre untuk terakhir kalinya dari Rukmini.

Takdir berkata lain, dua jam sebelum waktu yang dijanjikan oleh adik iparnya, Pierre sudah dijemput dulu oleh rombongan lain dan tidak diantar ke Semarang...[]


Sumber:

Buku "Sang Patriot" Kisah Seorang Pahlawan Revolusi


Keterangan foto: Pierre Tendean dan Rukmini Chamim



Senin, 23 Oktober 2023

PURNA KARENA KECEWA

Sebagai tentara, Oerip dan Soedirman sepakat untuk menghadapi Belanda secara militer, yaitu menyerang selagi mereka lemah. Tapi pemerintah menempuh jalan lain: diplomasi.

Oerip terpaksa tunduk pada kehendak pemerintah. Dia pergi ke daerah-daerah untuk melakukan perundingan gencatan senjata. Baginya, perundingan hanya merugikan TNI. Terbukti, Belanda melanggar Perjanjian Linggarjati dan melancarkan Agresi Militer pertama. TNI terdesak, tetapi kemudian berhasil melakukan konsolidasi dan melancarkan serangan gerilya.

Oerip kembali menuai kecewa ketika pemerintah kembali berunding. Lahirlah Perjanjian Renville yang tambah melemahkan posisi Indonesia.

Pada akhirnya Oerip tak bisa lagi terus berkompromi dengan pemerintah. Dia memutuskan mengundurkan diri. "Buat apa lagi saya menjadi kepala staf angkatan perang, kalau pemerintah tidak lagi mempercayai angkatan perang sendiri," kata Oerip.

"Kekecewaan-kekecewaan tidak berakhir. Suatu percampuran antara aspirasi politik dan ambisi pribadi akhirnya telah menjatuhkannya," kata Rohmah Soebroto, istri Oerip

Pada 2 Januari 1948, Presiden Soekarno mengeluarkan Penetapan Presiden No. 1/1948 yang merombak susunan Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Kendati Oerip secara resmi belum dibebastugaskan selaku Kepala Staf Oemoem, posisinya digantikan pejabat baru: Kolonel S. Cokronegoro.

Penetapan itu mengagetkan para pejabat teras TNI. Mereka bertanya-tanya apa latar belakang dan tujuan keputusan itu. Soedirman pun bertanya-tanya. Dia merasa kehilangan seorang sahabat pejuang yang setia. Baginya, Pak Oerip bukan sekadar Kepala Staf. Akan tetapi seorang saudara dari mana dia banyak memperoleh pengetahuan teknik militer.

Ternyata, konsep dan rencana penetapan itu dibuat Kabinet Amir tanpa terlebih dulu berunding dengan TNI.

Soekarno sempat mengangkat Oerip sebagai penasihat militer presiden. Namun, Oerip sakit-sakitan, terserang penyakit jantung yang merenggut hidupnya pada 17 November 1948.[]


Sumber:

Buku "OERIP SOEMOHARDJO. BAPAK TENTARA YANG DILUPAKAN"


Keterangan foto: Jenazah Jenderal Oerip Soemohardjo menjelang dimakamkan



MAKANAN DI GULAG

Cairan yang dituang itu berupa air dengan campuran kentang-kentang kecil yang tidak dikupas. Ini adalah menu yang cukup mewah, karena tidak jarang para tahanan mendapatkan kubis hitam, pucuk-pucuk umbi, atau sampah yang lain. Di Kamp Samarka di dekat Karaganda jika sedang kekurangan air, untuk satu hari hanya ada satu mangkuk sup ditambah dengan 2 cangkir air garam yang keruh. Bahan makanan dari gudang yang bagus atau berharga seperti daging, ikan, lemak  biji-bijian selalu dicuri untuk diberikan kepada para kepala, untuk anak emas (tahanan mata-mata), atau untuk para maling-para juru masak yang sudah diteror.

Para tahanan kadang mendapat makanan berupa daging kuda-kuda yang dipekerjakan sampai mati. Sekalipun dagingnya hampir hampir tidak bisa dikunyah, rasanya seperti makan dalam pesta besar.

Tidak mungkin orang bisa bertahan hidup dengan ransum Gulag sementara ia harus bekerja di udara terbuka selama 13 atau 10 jam. Apalagi jika ransum dasarnya sudah dirampok.

Tidak jarang terlihat  para pekerja sekarat melirik iri kepada para saingan; berdiri di depan dapur menunggu keluarnya sampah di dalam air cucian; bagaimana mereka menyerbu air cucian itu, berkelahi satu sama lain, mencari kepala ikan, tulang, sisa-sisa sayuran. Dan kemudian, bagaimana seorang pekerja sekarat mati terbunuh dalam pertengkaran semacam itu. Dan, setelah menyambar sampah itu, mereka membersihkannya, merebusnya, kemudian memakannya.[]


Sumber

1. Buku "GULAG"

2.https://gulaghistory.org/items/browse.html

Keterangan foto: Para Tahanan sedang makan di Gulag



BUNG HATTA YANG UNIK

 

Yogyakarta 1946,

Hari itu Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono IX datang ke rumah dinas Wakil Presiden RI di jalan Reksobayan 4. Beliau membawa sebuah kotak kayu yang isinya ternyata koin-koin emas. Sri Sultan menghadiahkan kotak kayu dan isinya tersebut kepada Bung Hatta yang dimaksudkan untuk mendukung kehidupan Ayah sehari-hari. Ngarso Dalem berkata bahwa Bung Hatta sejak muda tidak henti-hentinya berjuang untuk kemerdekaan bangsa ini. Tentu Bung Hatta menolak hadiah tersebut, meskipun sifatnya pribadi. Namun, Sri Sultan HB IX juga tidak berkenan menarik kembali hadiah yang telah beliau berikan kepada Ayah itu. Akhirnya Ayah memahami iktikad baik Sri Sultan dan beliau meminta Ibu saya untuk menyimpannya. Keesokan harinya Ayah memanggil Bapak R.M. Margono Djojohadikusumo, Prof. Johannes, serta Pak Wangsa Widjaja. Ayah memberikan kotak koin dari Sri Sultan HB IX itu kepada mereka sambil menceritakan perolehannya. Bung Hatta lalu berpesan agar uang itu digunakan untuk kemaslahatan rakyat.

Ketiganya kemudian bersepakat bahwa uang pemberian Sri Sultan HB IX itu akan digunakan untuk kemaslahatan pendidikan anak bangsa sesuai dengan sifat Bung Hatta yang sangat mengutamakan masalah pendidikan. 

Untuk itu mereka berencana mendirikan sebuah yayasan yang mereka beri nama Yayasan Hatta, yang akan mengutamakan kegiatan pendidikan.[]


(dikisahkan oleh Meutia Farida Hatta dalam buku "Bung Hatta di Mata Tiga Putrinya)

NATSIR DAN BUSANA


 







Awal 1980 an sejumlah pelajar mendatangi kantor Dewan Dakwah. Mereka mengadukan larangan berjilbab kepada siswa sekolah. Terhadap larangan itu, Mohammad Natsir menyampaikan pendapatnya.

"Orang yang pakai jilbab itu adalah sebaik-baiknya muslimah. Tapi yang tidak pakai jilbab jangan dibilang enggak baik."


Natsir pun menegur para pelajar yang dinilainya cenderung meremehkan orang Islam yang tidak berjilbab.

"Mereka berkeras soal jilbab. Kalau tidak berjilbab dianggap tidak baik"

Natsir dikenal sebagai pejuang dan pendidik yang keras, tapi moderat dan demokratis dalam menerapkan ajaran Islam. Dia tidak mewajibkan jilbab kepada istri dan anak-anaknya. Sang istri,Nur Nahar seperti laiknya orang Melayu dan umumnya warga Masyumi sehari-hari dia tampil berkebaya panjang atau baju kurung tanpa kerudung. Ketika menghadiri acara keluarga atau melayat, Natsir baru mengingatkan Nur Nahar agar berkerudung.

"Kamu kan muslimah." Kalimat pendek ini langsung dipahami oleh istri dan keempat anak perempuannya.


Siti Muchliesah, sang putri mengatakan Aba (panggilan untuk M. Natsir) mengharuskan anak-anaknya berbusana santun. Artinya tidak mengenakan celana pendek atau baju tak berlengan.

Saat melihat anaknya berpakaian blus tanpa lengan, Natsir tak menegur langsung. Ia hanya berpesan kepada istrinya "Beri tahu LiΓ©s, jangan pakai yang kependekan"


Satu kali, sepulang kuliah, Anies, putri LiΓ©s mampir ke rumah kakeknya di Jalan Cokroaminoto. Dia datang mengenakan rok mini yang sedang jadi mode. Tatkala hendak pulang, Natsir memberinya uang sambil berkata, "Ini untuk beli celana panjang." Teguran halus.

Sekalipun keempat putrinya telah menunaikan ibadah haji, Natsir tak memaksa mereka mengenakan jilbab. "Menurut Aba, berjilbab itu harus dari diri kita," tutur Lies.


Sumber

Buku "NATSIR" Politik Santun diantara Dua Rezim

SUAMI DENGAN TIGA CINTA

1904 Nest, demikian panggilan EFE Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije dan memperoleh 5 anak, dua diantaranya laki-laki mening...