Senin, 21 Agustus 2023

DITANDATANGANI ATAS NAMA BANGSA INDONESIA

Jakarta 9 Ramadhan 1364 H dinihari,

Usai penyusunan naskah Proklamasi, diruang tengah telah menunggu anggota PPKI, beberapa pemimpin pemuda dan anggota Cuo Sangi In (Badan Pertimbangan Pusat). Semuanya ada kira-kira 50 orang.

Sukarno memulai membuka sidang informal persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan membacakan rumusan naskah proklamasi, secara perlahan dan berulang-ulang. Sesudah itu, dia bertanya, "Dapatkah ini saudara-saudara setuju?"

Gemuruh suara mengatakan, "Setuju!"

Sukarno mengulangi, "Benar-benar saudara semuanya setuju?"

"Setuju .... " kata hadirin serentak.

Setelah itu, Hatta yang mengira tidak ada yang tidak setuju, mengatakan, "Kalau saudara semuanya setuju, baiklah kita semuanya yang hadir di sini menandatangani naskah proklamasi Indonesia merdeka ini sebagai suatu dokumen.yang bersejarah. Ini penting bagi anak cucu kita. Mereka harus tahu, siapa yang ikut memproklamasikan Indonesia merdeka. Hal ini seperti naskah proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat dahulu. Semuanya yang memutuskan ikut menandatangani keputusan mereka bersama."

Bukan hanya Hatta yang menginginkan naskah proklamasi ditandatangani oleh semua seperti Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Sukarno juga mengusulkan supaya semua yang hadir ikut menandatangani. "Seperti Declaration of Independence-nya Amerika," kata Sukarno, ditirukan BM Diah.

Sejenak suasana rapat diam. Tidak lama kemudian, Sukarni maju ke muka, menyatakan dengan lantang, "Bukan kita semuanya yang hadir di sini harus menandatangani naskah itu. Cukuplah dua orang saja menandatangani atas nama rakyat Indonesia, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta." Ucapan tokoh pemuda dari Asrama Menteng 31  disambut oleh seluruh yang hadir dengan tepuk tangan riuh dan muka berser-seri.

"Aku merasa kecewa karena kuharapkan mereka menandatangani suatu dokumen yang bersejarah, yang mengandung nama mereka untuk kebanggan anak cucu di kemudian hari," kata Hatta. "Akan tetapi, apa yang akan dikata?"

Dan keesokan harinya Proklamasi kemerdekaan itu ditandatangani oleh Sukarno Hatta, atas nama bangsa Indonesia.[]

Sumber:

1.Buku "17 Fakta Mencengangkan di balik Kemerdekaan Indonesia

2.https://www.merdeka.com/peristiwa/17-agustus-1945-juga-jatuh-hari-jumat-bulan-ramadan.html

3.https://www.google.com/amp/s/nasional.tempo.co/amp/1623564/sukarni-tokoh-muda-di-sekitar-proklamasi-indonesia


Keterangan foto: Sukarni (ketiga dari kanan) saat dilantik sebagai duta besar Tiongkok tahun 1961



Minggu, 13 Agustus 2023

MERANTAU KE BANDUNG

Usai menamatkan MULO, keluarga Sjahrir menyarankan melanjutkan sekolahnya ke Bandung.

Di AMS Bandung, pemuda itu mengambil jurusan klasik barat yang akan mengarahkan menjadi jaksa seperti ayahnya.

Di Bandung, Sjahrir menumpang di rumah saudara tirinya, Radena, yang terletak di jalan Dr. Samjudo.

Mulanya Sjahrir bukan siswa yang menonjol, namun dalam perkembangannya ia memperlihatkan karakter yang pandai bergaul, pemberani dan mahir mendebat gurunya.

Nasionalisme Sjahrir muncul akibat bujukan kawan sekelasnya, Boediono yang sering mengajak jalan-jalan. Dan rasa ini makin tumbuh saat mendengarkan pidato Dr.Cipto dialun-alun Bandung.

Pemuda ini ikut membentuk Jong Indonesie serta majalah 'Perhimpunan'. Untuk itu ia sering diusir polisi belanda karena sering ikut membaca buletin yang ditujukan kepada warga belanda.

Kepandaiannya berdebat membuat Sjahrir ikut dalam klub debat 'Scientiaeque' sebuah forum debat bagi pelajar dan pemuda tentang ide kebangsaan.

Ia juga ikut bergabung dalam klub sepakbola 'Voetbalvereniging Poengkoer' sebagai penyerang.

Di AMS,Sjarir juga bergabung dengan himpunan tater mahasiswa Indonesia 'Batovis'. Selain sebagai aktor, dia juga berperan sebagai sutradara dan penulis skenario. Hasil dari pentas tersebut ia gunakan untuk membiayai sekolah rakyat yang ia dirikan untuk keluarga tidak mampu di Bandung, yaitu 'Tjahja Volkuniversiteit'.

Sjahrir mempunyai banyak teman, termasuk pemuda dan noni-noni Belanda yang mengundangnya berpesta. Ia mahir berdansa waltz, foxtrot dan charleston. Baginya ia membenci imperialisme dan kolonialisme yang dibawa mereka, tetapi tidak orangnya.

Dengan usia yang masih belia dan kecerdasan yang tinggi, pada juni 1929 Sjahrir menamatkan sekolahnya di Bandung...


Dari buku

"Sutan Sjahrir.Pemikiran&Kiprah sang Pejuang Bangsa"


Keterangan foto: Dari kanan Moh Roem, Sutan Sjahrir, Amir Sjarifoeddin



KEMARAHAN SJAHRIR MENJELANG KEMERDEKAAN

 

Kekalahan Jepang yang dipercepat oleh bom atomyang dijatuhkan di kota Hiroshima dan tidak adanya persiapan sekutu untuk cepat-cepat memasuki kawasan Asia Tenggara memberi suatu kesempatan untuk menyatakan kemerdekaan Indonesia. Soekarno dan Hatta yang belum mengetahui berita menyerahnya Jepang, tidak merespons secara positif. Mereka menunggu keterangan dari pihak Jepang yang ada di Indonesia.


Terdapat kisah menarik menjelang kemerdekaan yang dituturkan Soebadio Sastrosatomo. Di jalan Maluku 19, Menteng, Jakarta. Soebadio Sastrosatomo yang saat itu berusia 26 tahun bertamu ke rumah Sjahrir. Badio, begitu Soebadio biasa disapa, adalah pengikut Sjahrir yang setia. Siang terik, Badio haus luar biasa. Sjahrir menawarinya minum, tetapi Badio menolak karena sedang puasa (saat itu bulan Ramadhan).


Hari itu, ada yang tak biasa pada Sjahrir, rautnya sumpek. Sebelumnya, ia bertemu dengan Soekarno yang mengajaknya bermobil keliling Jakarta. Di jalan, Soekarno mengatakan bahwa Jepang tidak secuil pun mengisyaratkan akan menyerah. Soekarno ingin membantah informasi yang dibawa Sjahrir sebelumnya bahwa Jepang telah takluk kepada sekutu. Sjahrir mengatakan hal tersebut sebelum Soekarno-Hatta berangkat ke Dalat, Vietnam, untuk bertemu dengan Marsekal Terauchi, Panglima Tertinggi Jepang untuk Asia Tenggara. Sedangkan Sjahrir berkesimpulan, tidak ada gunanya berunding dengan Jepang, karena dia telah mendengarkan berita dari BBC mengenai perkembangan tentara Jepang sejak pertengahan 1944.

Pada 6 Agustus 1945, Jepang toh telah luluh lantak oleh bom atom sekutu.


Mengetahui Soekarno tidak mempercayainya, Sjahrir berang. la menantang Soekarno dengan mengatakan siap mengantarnya ke kantor Kenpeitai, polisi rahasia Jepang, di jalan Merdeka Barat, Jakarta, untuk mengecek kebenaran informasi yang ia berikan. Sjahrir mengambil risiko, di kantor intel tersebut ia bisa saja ditangkap. Namun, Soekarno menolak karena yakin bahwa Jepang belum menyerah. Itulah yang membuat Sjahrir marah meski ia tidak menyampaikannya secara terbuka kepada Soekarno.


Kepada Badio murka itu dilampiaskan. Sjahrir mengumpat Soekarno 'manwijf'(pengecut dan banci).Menurut Badio, itulah kemarahan Sjahrir paling hebat sepanjang persahabatan mereka.[]


Sumber:

1.Buku "Sutan Sjahrir.Pemikiran dan Kiprah Sang Pejuang Bangsa"


2.https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/jelang-proklamasi-sukarno-sjahrir-cekcok-cirebon-merdeka-duluan-egih

JANGAN GUNAKAN FASILITAS

 

Kepada para putrinya, bung Hatta melarang menggunakan fasilitas yang bukan miliknya 

Gemala Rabi'ah Hatta, putri kedua, bercerita saat menempuh kuliah di School of Medical Record Administration, Australia. Uang saku yang terbatas dari beasiswa Colombo Plan membuatnya mengambil pekerjaan paruh waktu. Kebetulan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sydney membutuhkan tambahan tenaga juru ketik. Gemala mahir mengetik dengan 10 jari. la pun menyisihkan akhir pekannya untuk bekerja di Kantor Konsulat. Suatu ketika, sekitar awal Maret 1975 saat Gemala mau mengeposkan surat ke ayahnya ternyata amplop miliknya sudah habis. la pun memakai amplop milik Konsulat yang ada cap resminya.


Akhir bulan datang surat balasan dari ayah tercinta. Dalam penutup suratnya Bung Hatta memberikan nasihat dengan nada tegas, "Ada yang satu Ayah mau peringatkan kepada Gemala, kalau menulis surat kepada Ayah dan lain-lainnya, janganlah dipakai kertas Konsulat Jenderal RI. Surat-surat Gemala kan surat pribadi, bukan surat dinas. Jadinya tidak baik dipakai kertas Konsulat itu."


Putri bungsunya, Halida, juga mengalaminya. Ketika kuliah di Universitas Indonesia, setiap semester Halida ikut antre di loket kampus membayarkan uang semester sebesar Rp 30 ribu. Belakangan ia diberitahu pihak kampus, sebagai anak perintis kemerdekaan (jadi bukan cuma untuk anak Bung Hatta), ia bisa dibebaskan dari uang semester sampai lulus. Caranya sekadar menyerahkan surat keterangan. Bung Hatta menolak, ia bersikeras tetap membayar uang kuliah putrinya itu. la berpesan kepada putrinya bahwa ayahnya masih bisa membayar, biarlah keistimewaan itu untuk mereka yang memang tidak mampu membayar.[]


Dari buku

"UNTUK REPUBLIK" Kisah-kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa

TIDAK JADI MEMBELI MESIN JAHIT

 








Awal tahun 1950 Adalah saat diberlakukannya pengguntingan uang kertas Indonesia sehingga nilainya dipotong separuhnya. Nyonya Rahmi waktu itu sedang menabung karena ingin membeli sebuah mesin jahit.Dia kecewa karena pengguntingan uang itu.Dia mengeluh kepada bung Hatta kenapa tidak bilang dulu akan diadakan pemotongan uang? Hatta menjawab,"Yuke, seandainya Kak Hatta mengatakan terlebih dulu kepadamu,nanti pasti hal itu akan disampaikan kepada ibumu.Lalu kalian berdua akan mempersiapkan diri dan mungkin akan memberi tahu kawan-kawan dekat kalian.Itu tidak baik.Kepentingan negara tidak ada hubungan sangkut pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga.Rahasia negara adalah tetap rahasia.Sesungguhnya saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapapun.Biarlah kita rugi sedikit demi kepentingan seluruh negara.Kita menabung lagi ya"

Dari buku SEJARAH KECIL (PETITE HISTOIRE) INDONESIA


Kamis, 03 Agustus 2023

TAN MALAKA DAN BANDUNG

Gembira dan bangga benar saya melihat Sekolah Rakyat yang kedua di Bandung pada 13 Februari 1922. Bangunan yang besar, bersih, dikelilingi lapangan luas. Terlampau bagus untuk anak proletar, jika dibandingkan dengan Semarang! Saya  meninjau dari ruangan ke ruangan, memeriksa apa yang kurang, mengagumi yang bagus.

Saya tidak tahu bahwa pada satu ruangan digunakan anggota VSTP (Serikat Pekerja Kereta Api) cabang Bandung melakukan pertemuan membicarakan pemogokan. Tiba-tiba saya dihampiri seorang PID (Polisi Rahasia Belanda) yang meminta saya keluar, katanya ada rapat VSTP. Saya tercengang dan menolak keras diusir begitu saja dari gedung sekolah kami sendiri. Bahkan," kata saya akhirnya, sesudah beberapa lama bertengkar, "sayalah sebenarnya berhak mengusir siapa dan sini, karena gedung ini kepunyaan kami." Terjadi kesepakatan agar saya tidak mengikuti rapat tertutup di sebuah ruang yang sebelumnya saya tak mengetahui 

Sekira pukul 12, ketika saya bercakap-cakap dengan beberapa teman, datang sebuah mobil berhenti di depan sekolah itu. Petugas PID yang tadi juga keluar dari mobil itu. Dengan hormat dan muka sedih Belanda ini memperlihatkan surat perintah menangkap saya dan mempersilakan saya masuk mobil.

Di dalam mobil ada dua opsir tinggi. Yang seorang berpangkat kolonel mempersilakan saya duduk di tengah. Saat saya bertanya, kenapa saya ditangkap, maka keduanya mengangkat bahu, menunjukkan bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Mulanya saya dibawa ke kantor polisi dan terus masuk penjara Bandung.

Kabar penangkapan saya oleh Polisi didengar oleh guru saya Horensma yang tinggal di Bandung. Masih saya ingat perkataannya: "... Alsje en oplos gaat, denk er ook aan mij hoor. Ik kan nog ook war doen" (Kalau kamu mulai, jangan lupakan saya. Saya juga bisa ikut serta). Tetapi guru Horensma juga bingung mendengar penangkapan yang tiba-tiba itu.

Permintaan nyonya Horensma untuk menjumpai saya di penjara ditolak. Akhirnya nyonya cuma dapat mengirimkan kartu pos terbuka, yang penuh sindiran dan tidak menyalahkan saya, malahan sebaliknya menentang yang menangkap saya dengan ucapan: "Wie weet wat een groot man in jou steekt" (Siapa tahu, mungkin engkau orang besar).

Pada suatu pagi saja di bawa ke stasiun Bandung untuk dipindahkan ke penjara Semarang. Di halaman stasiun sudah menunggu Belanda PID yang mau mengusir saya tempo hari dan menyampaikan surat penangkapan saya. Saat berpisah ia mengatakan kepada saya "Kita memang bertengkar tempo hari. Tetapi kepergian Tuan sangat saya sesali, karena murid-murid yang membutuhkan Tuan".[] 


Dari buku

"DARI PENJARA KE PENJARA"

Keterangan foto: Tan Malaka bersama staf guru Sekolah Rakyat



PHILIPPINA

Awal 1927...

Bersama warga asli Philipina dan warga non Philipina yang mempunyai hak 'American Citizen' dan menggunakan nama Elias Fuentes,Tan Malaka bertolak menuju Philipina dari Bangkok.

Segera dia menuju ke Universitas Manila untuk menemui Dr.Mariano Santos, seorang sahabatnya yg kemudian memberikan tempat tinggal selama di Manila.

Keesokan harinya, setelah berobat ke dokter,Tan Malaka bertemu dengan Fransisco Verona, pemimpin surat kabar "El Debate" dimana ia sering mengirimkan artikelnya.

Suatu malam, tanpa diduga, datanglah ketempat tinggalnya beberapa orang Polisi.

"Apakah Anda bernama Fuentes?"

"Ya,betul"

Langsung saja Tan Malaka dibawa dengan mobil ke kantor Polisi Manila.

Dihadapan kepala PID,dan seorang Indo-Spanyol, kolonel Ramos ia diinterogasi.

Keesokan harinya, sebuah surat kabar Amerika 'Manila Bulletin' menulis : "Tan Malaka, seorang Bolshevik Jawa ditangkap.Dia dapat berbicara dengan banyak bahasa seperti Belanda, Inggris, Jerman, Prancis,Tagalog , Tionghoa dan Melayu.Ia juga mempunyai beberapa nama palsu"

Fransisco Verona dalam 'El Debate' membela Tan Malaka dengan menulis berita:"Tan Malaka,wakil dari Jawa mengunjungi Pan Malaya Conference yang akan diadakan di Manila, ditangkap".

Maka, ramailah semua koran Nasionalis menurunkan berita mengikuti jejak 'El Debate',baik yang berbahasa Tagalog, Inggris maupun Spanyol.

Kaum imperialis Amerika menganggap keberadaan Tan Malaka akan menjadi musuh bagi rakyat Philipina.

Namun, pimpinan Parlemen Philipina,Manuel Quezon mengatakan,Tan Malaka adalah musuh politik Belanda yang sedang mencari suaka politik di Philipina.Dan hal itu termasuk bagian dari dasar demokrasi dan humanisme di negara² yang beradab (The Asylum: Perlindungan untuk pelarian politik).

Koran Manila yang lain "Philippine Free Press" juga menulis bahwa Tan Malaka tak lain dari Hasan yang ikut memimpin Kanton Conference untuk kaum buruh lalu lintas di Asia yang diadakan di Kanton beberapa waktu sebelumnya.Tulisan² Tan Malaka di surat kabar 'The Dawn' mengenai imperialisme Amerika diterbitkan kembali untuk dibaca oleh masyarakat Philipina, sehingga nama Tan Malaka makin berkibar di Philipina.

Jose Abad Santos dan kawan-kawan bahkan bermaksud membawa soal Tan Malaka ini ke depan Mahkamah agung Philipina untuk menuntut diperbolehkannya Tan Malaka tinggal di Philipina sebagai pelarian politik.Bahkan kalau gagal akan protes ke kongres Amerika.

Namun perjuangan Jose Santos harus mengalami kegagalan, karena terbukti Tan Malaka masuk ke Philippina dengan paspor palsu.Tan Malaka mengatakan daripada membuat repot orang orang yang membelanya,ia akan meninggalkan Philippina dengan rela.

Pada suatu malam, untuk menghindari masyarakat yang mendukungnya,Tan Malaka meninggalkan Philipina menuju Tiongkok.


Dari buku

kisah Tan Malaka

DARI BALIK PENJARA DAN PENGASINGAN



SUAMI DENGAN TIGA CINTA

1904 Nest, demikian panggilan EFE Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije dan memperoleh 5 anak, dua diantaranya laki-laki mening...